YLPK Bali Geram Maraknya Pembobolan Uang Bertransaksi Lewat ATM

54

SULUH BALI, Denpasar – Akhir akhir ini semakin banyak uang nasabah raib saat bertransaksi di  ATM di Bali. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Bali, I Putu Armaya.SH.

“Kami banyak menerima pengaduan konsumen atas maraknya kehilangan uang saat bertransaksi di ATM, ada konsumen uangnya raib senilai Rp 76.000.000,- ada juga Rp 33.000.000,- bahkan masih banyak lagi. Khusus dana yang hilang saat bertransaksi di ATM senilai Rp 76.000.000,- akan dilakukan gugatan hukum baik pidana dan perdata dalam minggu minggu ini. Saya sudah menyiapkan beberapa advokat untuk membela kasus ini,” ujar Armaya yang juga mengkoordinir  Tim Advokat Pembela kasus perlindungan konsumen di Bali.

Bali sebagai daerah pariwisata ternyata banyak kasus pembobolan dana saat bertransaksi di ATM. Menurut Armaya kasus kasus pembobolan uang di ATM ternyata sudah dilaporkan di Kantor OJK Regional Bali tapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, bahkan Armaya sangat geram kinerja petugas di OJK Bali dinilai sangat buruk. Saat melapor kehilangan tersebut, menurut aturan OJK dalam 21 hari ada proses tahapan penyelesaiannya, saat melapor YLPK Bali ke OJK  laporan sekitar  19 hari tidak di respon, artinya surat dari YLPK Bali tidak diteruskan ke pihak Bank serta OJK Bali tidak melakukan proses penyelesaian dan Laporan tersebut dibiarkan oleh OJK Bali, sehingga melebihi 21 hari kerja.

Baru ada surat dari OJK Bali bahwa kasus tersebut telah melebihi 21 hari, padahal pihak OJK Bali sendiri yang tidak memproses laporan tersebut. Maka pihak YLPK Bali menilai kinerja OJk Bali sangat buruk, konsumen kehilangan uang di ATM inginnya mencari keadilan malah mendapatkan perlakuan dan kinerja yang tidak maksimal.

Menurut Armaya kinerja OJK Bali harus banyak berbenah agar sesuai dengan tugas dan fungsinya. Armaya menilai kasus kehilangan uang di ATM termasuk tindak pidana maka jika dijerat UU No.8 th 1999  tentang Perlindungan Konsumen di pasal 4. Konsumen memiliki hak atas kenyamanan dan keselamatan, artinya konsumen tidak mendapatkan kenyamanan dan keselamatan dalam bertransaksi jasa layanan perbankan, pihak bank adalah sebagai pelaku usaha bank berhak memberikan gangi rugi sesuai uang yang hilang. Hal ini sejalan dengan pasal 7  UUPK kewajiban pelaku usaha dan pihak perbankan tidak boleh melepaskan tanggung jawab karena melanggar pasal 18 UUPK pencantuman klausula Baku.

Bahkan menurut Armaya jika pihak konsumen kehilangan uang di ATM karena dinilai pihak Bank gagal dalam memberikan kenyamanan di setiap ATM karena minimnya pengawasan, maka pihak Bank sebagai pelaku usaha bisa dituntut baik secara pidana dan perdata.

Menggunakan Undang undang no.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Bahkan jika pelayanan Bank dikemudian hari tetap buruk dan uang konsumen tetap raib semakin marak,jangan salahkan konsumen jika tidak percaya dengan pelayanan perbankan yang tidak mampu memberikan pelayanan yang maksimal .Konsumen akan beralih ke Bank lain yang mampu memberikan pelayanan yang jauh lebih baik, Demikian berita yang dirilis dari Bagian Hukum Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Bali. (sb-cas/YLPK)

Comments

comments