Yayasan Dharma Acarya Pamerkan Miniatur “Sate Dangsil” Dan Buku-Buku Hindu

2104

SULUH BALI, Denpasar – Serangkaian petinget Tumpek Landep Kota Denpasar 2015 yang digelar  11-13 Mei 2015 di depan Museum Bali, Yayasan Dharma Acarya pamerkan bentuk miniatur Sate Dangsil serta buku-buku filsafat,upacara dan  acara agama Hindu.

“Yang kita tampilkan sate dangsil buku-buku acara agama” ungkap Gede Sutarta,  Administrasi Yayasan Dharma Acarya di stand pameran depan Museum Bali, Senin (11/5/2015).

Yayasan Dharma Acarya merupakan yayasan yang fokus pada pelestarian budaya dan agama Hindu Bali dibawah pimpinan ahli agama dan upakara, Drs. Ida Bagus Sudarsana, MBA, MM. Yayasan ini secara khusus menyelenggarakan  pelatihan upakara (bebanten), kepemangkuan, dan kursus praktisi agama Hindu.

Pada pameran petinget Tumpek Landep ini sate dangsil yang dipamerkan  terbuat dari gabus dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk asli dari sate dangsil. Penggunaan sate dangsil ini  merupakan salah satu pelengkap dalam bebantenyang menggunakan  bebangkit.

“Sate dangsil adalah runtutan daripada upakara kalau apabila upakara bebangkit bilamana dalam upacara itu tingkatan dari upacara memakai ayaban tumpeng 21 ke atas memakai bebangkit disertakanlah sate dangsil” papar Gede Sutarta.

Sementara makna filosofi dari sate dangsil adalah perlambang dari senjata Dewata Nawasanga yang disesuaikan dengan Dewa dan arah mata anginnya.

“Sate dangsil itu merupakan jenis sesate memiliki bentuk-bentuk menyerupai senjata pengideran Dewata Nawasanga dan ditancapkan diatas kelapa yang masih berkulit  serta berkaki tiga dan sate dangsil ini pada umumnya sebagai pelengkap dari banten bebangkit” jelasnya.

Selain memamerkan miniatur sate dangsil, pada stand Yayasan Dharma Acarya juga memamerkan buku-buku acara agama Hindu. Buku-buku tersebut berkaitan dengan filsafat Hindu, tatacara upacara, maupun tuntunan Upakara (bebanten).

Terkait dengan petinget Tumpek Landep yang digagas oleh Pemerintah Kota Denpasar yang kali ini mengetengahkan tema keris Pusaka Nusantara , Yayasan Dharma Acarya telah menyusun Buku yang berkaitan dengan acara agama khususnya tentang tuntunan mengupacarai keris pada hari suci Tumpek Landep.

“Dari acara agama itulah menceritakan rainan keris dihari tumpek landep tentang upacaranya dan makna dari keris bagimana upacara yang berlangsung, dimana pelaksanaan upacaranya” terang Gede Sutarta.

Melalui pemeran ini, Gede Sutarta mengharapkan agar masyarakat Bali dapat memahami dan belajar filsafat, ritual, maupun upakara melalui buku-buku yang dikeluarkan oleh Yayasan Dharma Acarya.

“Kita inginkan agar masyarakat mulai belajar tentang adanya buku-buku agama yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Acarya” harapnya. (SB-Su)

Comments

comments