Mangku Pastika ketika peluncuran buku berjudul Utang. (foto-rk)

SULUH BALI, Denpasar – Dalam tradisi Hindu Bali ada disebut Dewa Rna, Pitra Rna dan Rsi Rna. Dewa Rna dimaknai sebagai utang terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan hidup dan kehidupan.

Kemudian Pitra Rna adalah utang terhadap leluhur dan orang tua yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kita. Bahkan orang tua dianggap sebagai utusan dan wakil Tuhan di dunia.

Dan ketiga adalah Rsi Rna. Yakni utang kepada para orang-orang bijaksana, rohaniawan, pemikir. Mereka yang senantiasa tanpa pamrih mengabdikan hidupnya untuk memberikan tuntunan, kebijaksanaan, pengetahuan, bahkan senantiasan mendoakan hidup kita agar senantiasa baik, selamat dan bahagia.

Implementasi dari rasa syukur dan kewajiban (dharma) tersebut terjawantahkan dalam bentuk Yadnya yang senantiasa dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali. Bahkan menurut Ida Pedanda Gede Putra Kekeran, Yadnya itu merupakan wujud nyata dalam proses membayar utang-utang tersebut.

Hal tersebut beliau ungkapkan dalam tulisan sekapur sirih untuk buku berjudul “Utang” yang ditulis oleh Emanuel Dewata Oja. Sebuah buku yang berusaha menuliskan pengalaman hidup, pikiran, visi, spirit, maupun pandangan hidup seorang Made Mangku Pastika.

Dalam buku tersebut, Made Mangku Pastika berpandangan bahwa hidup, kesempatan, kesehatan, keberhasilan dalam karier, rejeki, adalah proses panjang sebagai buah dari kerja keras, ketekunan dan “pemberian” oleh Tuhan, pemerintah, negara, rohaniawan, warga masyarakat, para guru pembimbing, orang tua, maupun sahabat.

Pendidikan yang dia tempuh mulai dari SR (Sekolah Dasar) hingga berhasil diterima AKABRI Kepolisian nyaris tidak ada biaya yang dia keluarkan. Sehingga ini dia anggap sebagai utang kepada negara yang telah memberinya kesempatan untuk pendidikan dengan gratis.

Begitupun dengan kesehatan dirinya. Diungkapkan tentang gangguan jantung yang dia alami. Hingga tahun 2010 lalu, ring yang bersarang di jantung Mangku Pastika sudah berjumlah 7 ring. Pada 13 Juli 2012, beberapa bulan menjelang pemilihan gubernur Bali tahun 2013, dirinya kembali menjalani operasi bypass jantung.

Akhirnya operasi bypass jantung ketika itu, berhasil dialuinya dengan selamat. Namun lagi-lagi dia harus menjalani operasi karena ternyata separuh paru-parunya dalam kondisi terendam cairan. Punggungnya dilubangi sebanyak 2 lubang untuk mengeluarkan cairan sebanyak 3,8 liter cairan itu.

Pengalamannya tersebut ia rasakan sebagai sebuah kondisi dimana dirinya mengalami semacam pencerahan atas hidupnya. “Karena disitulah saya menyadari siapa saya, untuk apa saya ada di dunia ini, mau kemana saya, dan apa yang harus saya lakukan ?” ungkap Pastika.

Maka setelah menjalani operasi dan berhasil, hal pertama yang dia ingat dan pikirkan adalah program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Bukan istri atau anak-anaknya.

Dia meyakini kesembuhan tersebut adalah utang yang harus dibayarnya kepada Tuhan dan semua orang yang membantunya sehingga nyawanya tertolong.

“Tuhan memberikan segala kemampuan kepada kita, pikiran, jabatan kekuasaan, ilmu pengetahuan. Tuhan memberi kita kemuliaan, Tuhan memberi kita nafas, rejeki, harta dan kekayaan. Kalau tidak ada campur tangan Tuhan waktu itu, mungkin saya sudah tidak ada. Inilah yang harus kita bayar. Karena itu semua adalah utang kita,” ungkap Pastika seperti yang dikutip dalam buku Utang itu.

Begitupun ketika dalam pengungkapan bom Bali. Disamping dilakukan dengan kerja keras dan professional oleh tim investigasi yang dia pimpin. Dia juga senantiasa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberikan tuntuanan dan jalan. Dan benar saja, dia akui saat itu “tangan-tangan niskala”, faktor spiritual sangat banyak menuntunnya hingga tim yang dipimpinnya berhasil mengungkap peristiwa bom Bali tahun 2002 yang mengguncang itu.

Mungkin sebagai wujud rasa syukur itulah, maka perayaan ulang tahun Mangku Pastika yang ke-67 pada hari Jumat 22 Juni 2018 lalu, diisi dengan peluncuran buku berjudul Utang tersebut. Acara yang digelar sederhana di rumah jabatan Jaya Sabha tersebut, disamping bersama keluarga  Pastika juga mengundang para rohaniawan, pejabat di lingkungan Pemprov Bali, sahabat dan warga masyarakat.

Rupanya pengalaman hidupnya itu berpengaruh sangat besar dalam visi dan missi kepemimpinannya. Terutama bagaimana dirinya sangat serius memperhatikan menyangkut kesehatan dan pendidikan masyarakat. Disamping kemajuan, keamanan, kesejahteraan maupun kebudayaan, yang dia gerakkan lewat program Bali Mandara.

Program yang sekaligus juga sebagai wujud dari pelaksanaan Yadnya, membayar utang kepada Tuhan, negara, maupun masyarakat. (SB-Rk)

Comments

comments