Yagus Wedesu Seniman Muda Sidemen, Menari Untuk Ngayah

Yagus Wedesu.

SULUH BALI, Amlapura – Menari adalah ngayah, begitu prinsip I Yagus Wedesu, S.Pd seorang seniman muda asal Banjar Buda Manis, kecamatan Sidemen, kabupaten Karangasem yang mendedikasikan keahlian menari untuk tanah kelahirannya.

Wedesu memulai belajar menari dari sang ayah, almarhum Gusti Lanang Sidemen (topeng), seorang seniman topeng yang sepanjang hidup telah melanglang buana sampai ke luar negeri dan pernah meraih anugerah Seniman Tua pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-26 Tahun 2004.

“Saya mengikuti jejak beliau (sang ayah), dan beliau berpesan kepada saya, di Bali itu saya harus belajar menari untuk ngayah,” ungkapnya saat ditemui suluhbali.co di Sidemen, Senin (24/10/2016).

Menurutnya ngayah menari yang dilakoni merupakan bagian tradisi masyarakat di Bali yang menekankan pada tanpa mengharapkan imbalan, “konsep ngayah di Bali itu tanpa pamerih, jadi saat saya ngayah tidak ada ikatan uang seberapun itu punia,” ungkap pria yang juga guru di SMAN 1 Sidemen.

Berbagai pengalaman pernah dialami dalam kegiatan ngayah menari di berbagai daerah, baik suka maupun duka telah menempanya untuk memaknai ketulusan ngayah.

“Pengalaman saya pernah dari pagi sampai malam tidak dapat air setetes pun, jadi disana pengalaman saya sebagai penari topeng sebagai pengalaman ngayah yang luar biasa. Itulah makna tanpa pamerih yang disebut ngayah,” ungkapnya.

Dalam mengasah keahlian menari selain berguru pada sang ayah, Wedesu pernah mengenyam pendidikan akademik di Kokar (kini bernama SMA Negeri 3 Sukawati). Pendidikan tinggi di program Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik IKIP PGRI Bali berkat bantuan seorang warga Asing bernama Peter, seorang pemilik salah satu Villa di Sidemen.

Saat ini, hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk mengajar menari, sementara untuk menari topeng dalam sebulan sampai 3-4 kali. “Kegiatan Menari saya lakukan hampir setiap hari, di SMA kemudian saya mengajar di Pesraman Vidya Giri, mengajar Mijil, di SD dan sanggar lain,” ujar pria kelahiran tahun 1987 ini.

Ia mengajarkan dasar menari kepada anak-anak di desa mulai dari memacu motivasinya agar mau belajar menari. “Kita buat karakter agar anak-anak menyukai sebuah tarian, mau dulu kalau sudah mau pasti mereka akan ingin datang belajar dan terus akan belajar,” katanya.

Keterampilan menari juga telah mengantarkan Wedesu telah menari di berbagai daerah seperti, Bogor, Taman Mini Indonesia Indah (TMMI) Jakarta, Lampung, Solo, Yogyakarta. Saat ini ia juga mengelola sanggar seni Arsa winangun, dimaknai sebagai membangun rasa yang di dalamnya mempelajari berbagai seni musik, tari, kerawitan. (SB-Skb)

Comments

comments