Wisatawan Tak Indahkan Aturan, Terumbu Karang di Nusa Penida Terancam Rusak

170

SULUH BALI, Nusa Penida – Keindahan bawah laut Nusa Penida membius wisatawan yang silih berganti datang, tak ubahnya seorang gadis cantik raut wajah penikmatnya tidak rasakan bosan bahkan kecanduan. Keunikan terumbu karang terlebih lagi icon wisata bahari Nusa Penida yakni ikan mola-mola.

Ribuan pasang mata terbelak melihat lebih dekat bukan sekedar mendengar cerita saja. Tapi, masalah timbul ketika para wisatawan melakukan diving maupun snorkling tidak mematuhi aturan seperti menginjak terumbu karang baik dilakukan sengaja maupun tidak sengaja hanya sekedar dibilang anak petualang.

Menikmatinya, menyelam (diving) atau snorkeling tidak bisa dilakukan sembarangan, ada etika khusus menyelam dan snorkling agar tidak merusak biota laut dan wisata bahari bisa berkelanjutan.

“Sederhana saja cukup tidak menginjak terumbu karang dan tetap mematuran kode etik menyelam. Selebihnya, tidak membuang sampah di laut, ” tutur John Richard Chapman, Senin (18/7).

John salah satu Staff Intructor dalam organisasi diving yang disebut PADI. Diakuinya, walaupun diving sudah menjadi aktivitas yang cukup populer, tak sedikit penyelam yang asal-asalan dan tidak mengindahkan biota di sekitarnya.

“Ini lah yang menjadi tugas berat bagi para pengusaha diving dan pemandu selam untuk memberi briefing atau informasi tentang kode etik penyelaman agar kerusakan bisa diminimalisir’’, tambah lelaki yang bekerja di World Diving Lembongan ini.

Hal ini sering dilakukan oleh para snorkeler, tanpa informasi tentang kode etik snorkling yang benar, banyak snorkeler yang menginjakan kakinya ke karang yang mereka anggap sudah mati yang kelihatan seperti batu, tapi sebenarnya karang itu masih hidup.

“Biasanya snorkeler menyangka karang yang seperti batu besar itu mati, bisa diinjak. Padahal tidak, karang itu masih hidup,” tambahnya.

Kesalahan umum lainnya adalah memegang biota laut. Tak sedikit para wisatawan memegang biota laut seperti karang atau ikan, tampa mengetahui akibat bagi biota laut tersebut.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, John dan para pelaku wisata bahari di Nusa Lembongan  telah membentuk organisasi yang di namai Lembongan Marine Asosiation ( LMA ). Melalui LMA, keluhan atau masalah yang terjadi dilapangan akan dibahas dan dicarikan solusinya. Pertemuan setiap bulan bagi semua pelaku wisata yang di motori oleh LMA juga sebagai langkah saling berbagi dan mengingatkan kembali kode etik yang perlu di patuhi untuk pelaksanaan wisata bahari di Nusa Penida.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Gede Sukayasa yang merupakan ketua LMA, diperlukan peran semua pihak untuk ikut menjaga kawasan wisata bahari Nusa Penida, apalagi Nusa Penida sudah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia.

Menurutnya, aksi dalam air saja tidak cukup, agar wisata bahari di Nusa Penida  bisa berkelanjutan, perlu persiapan bahkan dari darat. Tidak membuang sampah dilaut, tidak menangkap biota yang dilindungi itu juga menjadi hal yang penting.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 24 Tahun 2014 dan Peraturan Bupati Klungkung Nomor 12 Tahun 2010, Nusa Penida ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan. KKP Nusa Penida dibentuk dengan salah satu tujuan  perikanan yang berkelanjutan selain pariwisata yang berkelanjutan dan perlindungan keanekaragaman hayati laut.

Sementara di tempat terpisah Kepala UPT Kawasan Koservasi Perairan Nusa Penida I Nyoman Karyawan menyampaikan permasalahan ini kami sudah antisipasi dengan memberikan bimbingan dan sosialisasi sekolah serta pelaku wisata bahari mengajak tamunya mematuhi aturan saat menyelam.

“Kalau bukan kita siapa lagi menjaga keindahan terumbu karang. Saya mengingatkan kepada semua masyarakat agar tidak laut dijadikan pembuangan sampah karena dampak yang ditimbulkan menghambat pertumbuhan karang, ” seruannya. (SB-sjd)

Comments

comments