Weda Karna “Diburu” Hingga Jembrana

3245

Ketua Forbara Putu Arsana memimpin Demo di DPRD Bali. (foto Adit)

Mau Menurunkan Gubernur Tidak Konstitusional

SULUHBALI.CO, Denpasar — Rektor Universitas Mahendradatta Dr.Shri Arya Weda Karna membuat pernyataan mengejutkan di koran Bali Post edisi 6 September 2013. Ia akan menurunkan paksa (impeachment) gubernur Bali Mangku Pastika yang dia anggap sudah salah mengeluarkan ijin reklamasi teluk benoa.

Menurut Ketua Forum Relawan Bali Mandara (Forbara) Putu Arsana, pernyataan tersebut membuat gerah masyarakat. Begitu juga pernyataan-pernyataan serupa di kelompok media tersebut, yang berhari-hari menyerang sosok Mangku Pastika dan semua kebijakannya.

Karena hal tersebut, bersama sekitar 200 orang anggotanya, Arsana mendatangi gedung DPRD Bali, di Denpasar, Senin (9/9), meminta wakil rakyat tegas menindak pembuat pernyataan-pernyataan yang meresahkan dan cenderung memperuncing konflik di masyarakat.

Sementara itu, di Jembrana,  300 anggota Forbara lainnya, “memburu” laki laki yang telah menyatakan dirinya sebagai Raja Majapahit ini di sebuah perhelatan acara. Menurut salah seorang anggota Forbara, Denik, mereka telah mengantisipasi keberadaan Weda Karna di lokasi acara, dan terbukti mobil yang ditumpangi saat datang, berganti saat pulang, “Kami segera menghentikan kendaraannya dan meminta dia keluar,” ujar Denik lewat telepon pada www.suluhbali.co .  Pada saat itu, Weda Karna katanya siap memberi klarifikasi atas pernyataannya di Bali Post dan siap berdialog bila diundang Forbara terkait dengan pernyataannya.

 

Jangan Terus Mengadu Domba

Forbara dalam pernyataaanya di depan sejumlah anggota DPRD Bali yang dipimpin Ketua Komisi 1 Made Arjaya, meminta Weda Karna minta maaf atas pernyataannya dalam waktu tiga hari. Alasannya, Bahwa statemen Weda Karna tidak konstitusional, agitatif, provokator, memunculkan konflik dan sangat meresahkan, bahkan statemen tersebut telah cenderung bersifat makar

“Begitu pula Bali Post yang memuat statemen tersebut telah mengabaikan prinsip–prinsip fundamental tujuan dari pemuatan sebuah berita dan melabrak tidak saja apa yang diamanatkan dalam Undang – Undang No.40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalis, “Jangan terus Bali Post mengadu domba masyarakat Bali. Janganlah terus melakukan kebohongan publik. Karena ini berpotensi memunculkan konflik horisontal, mengganggu kedamaian, keamanan dan kenyamanan masyarakat Bali.”

wed12
Made Arjaya sedang memberi pernyataan saat menerima Forbara di DPRD Bali.

Pada kesempatan itu, Made Arjaya berjanji untuk memanggil Weda Karna, karena sudah ada aspirasi masyarakat soal pernyataannya. Begitu pula, pihaknya sudah berencana untuk memanggil pemilik dan pemimpin Media Massa di Bali, untuk mengetahui sejauh mana komitmen mereka pada Bali, “Jangan terus ada berita-berita simpang siur, yang justru sengaja dihembuskan lewat tulisan tulisan di media massa. Ini sangat tidak mendidik, kalau kami yang ada di anggota DPRD bisa saja menghadapi serangan isu, tapi keluarga kami kan tidak. Kalau ingin mengkritisi jangan terus menggunakan isu isu tidak mendasar.”

Kata Arjaya pemanggilan tidak bertujuan untuk menekan media massa dan fungsi pers, tapi ini bertujuan untuk Bali yang aman sehingga masyarakat bisa bekerja dengan baik, “Kalau ada media yang mengembangkan pemberitaannya dari isu saja, kan mesti ditanya apa maksudnya,” ujar Arjaya sambil menambahkan bila itu adalah fakta dan kritik buat kebijakan publik, itu pasti bagus buat demokrasi. Karena itu, Arjaya menyarankan bila ada pemilik media, atau siapa saja yang ingin jadi gubernur mohon memperjuangkan dirinya dengan arif, “Gubernur itu satu, wakil gubernur itu satu. Jangan semua, karena diwawancarai media, lalu sudah merasa jadi gubernur.”

Arjaya menegaskan, Gubernur Mangku Pastika dan Wakil Gubernur Ketut Sudikerta sudah dilantik Mendagri, 29 Agustus 2013 lalu. Sidang pelantikan dipimpin ketua DPRD Bali AA Ratmadi dan dihadiri 54 anggotanya, “Hanya satu tidak hadir karena berhalangan. Artinya ini sudah konstitusional. Jangan lagi ada yang coba-coba memancing di air keruh.” (SB-iwan)

 

 

 

 

 

Comments

comments

Comments are closed.