Waspada Bahaya Hipotiroid Kongenital, Wajib Skrining Sejak Bayi Lahir

1673

Evie Yulin, Dr.dr I Wayan Bikin Suryawan, SpA (K), dan Dr. dr. Aman Bakti Pulungan, SpA (K) saat Media Briefin. |foto-su|

 

SULUH BALI, Denpasar –Indonesia merupakah salah satu negara yang memiliki potensi tinggi mengalami gangguan tiroid. Bahkan Lebih dari 1,7 juta orang di Indonesia yang berpotensi mengalami gangguan tiroid ini. Jumlah ini cukup signifikan bahkan termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Unit Kordinasi Kerja Endokrinologi Anak Kemenkes RI, sejak tahun 2000-2013 di Indonesia terdapat kasus positif gangguan tiroid pada bayi baru lahir sebanyak 1: 2.736 kelahiran. Rasio ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio global yang mencapai 1:3000 kelahiran.

Dr. dr Aman Bakti Pulungan, Sp(A)K, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  mengatakan bahwa  penyakit hipotiroid kongenital merupakan sebuah penyakit yang diderita oleh bayi sejak lahir dimana terjadinya gangguan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan  menurunnya fungsi hormon tiroid.

“Hipotiroid kongenital adalah sebuah keadaan dimana kerja tiroid pada anak menurun atau bahkan tidak berfungsi sejak lahir, sehingga bayi tersebut kekurangan hormon tiroid” ungkapnya pada Media Breifing bertajuk “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid” yang digelar oleh Merck bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel & Suites, Senin (25/5/2015).

Bahkan menurutnya Gangguan tiroid ini berakibat buruk bagi pertumbuhan bayi itu sendiri, dampak yang paling terlihat oleh penyakit ini adalah berakibat pada pengaruh fungsi otak sehingga anak akan  menderita keterbelakangan mental atau IQ rendah.

“Ganguan tiroid pada bayi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya, baik fisik maupun mental. Bayi atau anak yang kekurangan hormon tiroid dapat mengalami hambatan pertumbuhan seperti perkembangan kemampuan motorik dan mental yang tidak seimbang, tubuh cebol, lidah besar, kesulitan bicara, hingga keterbelakangan mental” terang Dr.dr Aman Pulungan.

Sementara Dr. dr. I Wayan Bikin Suryawan, SP(A)K, Ketua Unit Kelompok Kerja Endokrin IDAI mengatakan bahwa hipotiroid kongenital sulit untuk dikenali dan diditeksi sehingga perlu dilakukan skrining hipotiroid Kongenital, untuk mencegah dampak buruk  bagi bayi yang mengalami ganguan tiroid.

“Gejala Hipotiroid Kongenital seringkali tidak disadari dan salah kendali, oleh karenanya setiap bayi yang baru lahir perlu melakukan skrining hipotiroid kongenital. Keterlambatan deteksi dapat berakibat fatal” ungkapnya.

Menurutnya Skrining hipotiroid kongenital dilakukan sejak bayi baru lahir untuk mengetahui sejak dini gangguan tiroid pada bayi, sehingga jika bayi tersebut sudah didiagnosa terkena hipotiroid Kongenital akan bisa diobati sehingga kecacatan bahkan kematian bayi bisa dicegah secara dini.

“Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) adalah uji saring pada bayi yang baru lahir untuk mengetahui sedini mungkin apakah bayi mengalami gangguan tiroid atau tidak, sebelumnya gejala klinis muncul. Segera setelah didiagnosa, bayi yang terkena ganguan hipotiroid Kongenital dapat diberi pengobatan untuk mencegah kecacatan datau kematian bayi, serta mengoptimalisasi potensi tumbuh kembang” terang  Dr. dr.Wayan  Bikin.

Kebijakan Pemerintah Terapkan Skrining, Wajib Didukung Semua Pihak

Pemerintah telah mengeluarkan payung hukum sebagai landasan pelaksanaan SHK (Skrining Hipotiroid Kongenital) melalui keluarnya Permenkes No. 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak dan Permenkes No. 78 tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital.

Kebijakan ini menurut Dr. dr Aman Pulungan harus didukung oleh semua pihak demi terciptanya kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.

“Kebijakan pemerintah untuk menerapkan  Skrining Hipotiroid Kongenitalpada bayi baru lahir perlu didukung oleh berbagai pihak pemangku kepentingan. Skrining sejak dini sangat penting dan merupakan tanggung jawab bersama untuk mempersiapkan manusia Indonesia di masa yang akan datang” harapnya.

Salah satu pihak yang telah mendukung kebijakan pemerintah untuk menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya ganguan tiroid dengan mengkampanyekan kepada masyarakat akan bahaya hipotiroid kongenital adalah Merck Indonesia yang bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan RI.

“Kampanye bebaskan dirimu dari gangguan tiroid merupakan salah satu perwujudan komitment Merck untuk terus berkontribusi pada masyarakat selama 45 tahun berada di Indonesia” pungkas Sulfina Arindah, Business Director Merck Serono Indonesia. (SB-Su)

Comments

comments