Lokasi Wake Dolphin and Resort (foto Ijo).

SULUHBALI.CO Gianyar – Wake Dolphin and Resto yang baru saja melaksanakan Grand Opening, Sabtu (09/08/2014) didatangi sejumlah orang berkewarganegaraan asing yang mengaku aktivis perlindungan satwa liar JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan Animal Shanti.

Para aktivis tersebut datang untuk melakukan penolakan terhadap atraksi sirkus lumba-lumba yang dimiliki oleh Wake Dolphin and Resto, para aktivis tersebut menilai bahwa pertunjukan dolphin tersebut illegal karena tidak sesuai AMDAL (Analisis Masalah Dampak Lingkungan) karena izin yang dimiliki Wake hanya izin resort tidak termasuk dengan izin kolam lumba-lumba.

Selain para aktivis tersebut mengaku ketika melakukan aksinya mereka diteriaki dan dikejar scurity serta sejumlah orang yang diduga merupakan preman bayaran yang sengaja disewa.

Pihak Wake yang dikonfirmasi mengenai aksi kekerasan tersebut menyatakan tidak benar. “Kami tidak pernah menggunakan kekerasan apalagi sampai menyewa preman. scurity kami sedang berjaga melihat mereka datang bermaksud ingin bertanya ada tujuan apa tetapi mereka pergi. petugas kami secara reflek mengejar untuk bertanya tetapi mereka malah masuk kedalam Komune Beach, sehingga kami melapor kepolsek Blahbatuh dan mereka dijemput dan dibawa kepolsek,” papar Ketut Purnama selaku pemilik Wake Dolphin and Resto yang ditemui Selasa (12/8/2014),

Lanjutnya, ketika ditanya petugas mereka datang dengan menggunakan taksi tetapi besoknya kami menemukan sebuah mobil yang terparkir, “Kami menemukan mobil Toyata Fortuner terparkir tidak jauh dari tempat ini, ketika kami lihat dari isinya dalamnya dari kaca berisi spanduk (alat peraga) yang mereka pake kemarin,” lanjutnya.

Di tempat terpisah, Kapolsek Blahbatuh, AKP I Nyoman Suparta juga mengatakan hal tersebut tidak benar kejadian tersebut, “Informasi itu tidak benar kebetulan saya diundang dalam acara peresmian Wake hingga selesai, tidak ada yang berpakaian preman disana hanya ada pecalang dan security. Sekitar pukul 21.00 saya mendapatkan telepon dari Komune Restoran ada orang asing tidak berani pulang karena di depan ada orang berpakaian preman, sehingga saya kirimkan petugas dengan membawa mobil double cabin untuk menjemput mereka,” ujarnya.

Ketika ditanya petugas para aktivis tersebut enggan memberikan komentar apapun, mereka hanya mengaku dipukul. “Ketika kami tanya mereka datang naik apa, mereka bilang naik taksi. Ketika kita tanya mereka hal lain hanya menjawab No. Mereka hanya bilang kalau mereka dipukul dan tangan mereka luka. ketika kami berikan obat mereka menolak. Mereka hanya meminta untuk di antar ke rumah sakit Internasional di simpangsiur,” lanjutnya.

Esoknya kami menerima laporan dari pihak Wake karena menemukan sebuah mobil Fortuner yang di dalamnya terdapat alat peraga seperti yang dibawa para aktivis. “Kami lakukan penyelidikan asal usul mobil tersebut ternyata mobil tersebut disewa oleh salah satu aktivis tersebut,” ucapnya. (SB-Ijo)

Comments

comments