Waduh, Semua Wilayah di Bali Masuk Zona Merah Rabies

503
Ilustrasi.

SULUH BALI, Denpasar — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya mengatakan semua kabupaten/kota di Pulau Dewata saat ini sudah masuk dalam zona merah kasus rabies.

“Kriteria zona merah itu adalah ketika ada banyak anjing yang positif rabies dan itu sudah terdeteksi oleh Dinas Peternakan. Untuk jumlah gigitan anjing sendiri saat ini rata-rata mencapai 100-110 per hari, ada sedikit penurunan dibandingkan sebelumnya sekitar 120-130 gigitan,” kata Suarjaya di Denpasar, Rabu (7/10/2015).

Menurut dia, selain menyandang zona merah, hingga saat ini kasus rabies di Bali juga masih dalam posisi Kejadian Luar Biasa (KLB). “Posisi KLB itu sudah sejak 2008 dan belum dicabut sampai sekarang,” ucapnya.

Oleh karena itu, Suarjaya sangat mengharapkan semuanya dapat berperan aktif untuk mengatasi rabies dan yang terpenting upaya tersebut dapat dimulai dari hulu (masyarakat).

“Kalau saja 716 desa di sembilan kabupaten/kota di Bali ini semuanya aktif membuat awig-awig dan perarem (peraturan dan kesepakatan adat tertulis) untuk sama-sama mengendalikan anjing, tentu akan sangat cepat Bali bebas rabies,” ujarnya.

Intinya, tambah dia, dalam peraturan adat itu tercantum ketentuan bahwa anjing harus dipelihara dengan baik dan ada sanksi tegas bagi pemilik yang bila anjingnya sampai menggigit orang lain.

“Sedangkan kalau anjing tidak berpemilik atau liar, tidak ada jalan lain harus dengan eliminasi. Anjing liar harus diatasi oleh masyarakat di sana dengan dukungan dari Dinas Peternakan,” katanya.

Suarjaya mengatakan untuk pembuatan perarem maupun awig-awig tersebut dapat menggunakan acuan Perda Provinsi Bali No 15 Tahun 2009 tentang Rabies.

“Dengan kondisi seperti ini, tentu kewajiban semua pihak untuk mengatasi rabies, pemerintah, swasta dan masyarakat harus sama-sama bekerja,” ucapnya.

Terkait dengan stok VAR (vaksin anti-rabies), lanjut dia, saat ini jumlahnya sekitar 19 ribu dan sudah tersebar di semua kabupaten/kota. Pihaknya juga tengah bersiap-siap untuk menambah stok VAR yang baru.

Selama 2015 hingga awal Oktober saja, di Bali sudah tercatat 15 orang meninggal karena rabies.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Putu Sumantra mengatakan terkait dengan kasus anjing di Kabupaten Jembrana yang sehari menggigit hingga 11 orang itu ternyata positif rabies berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar.

“Kejadian gigitan dari 29 September-1 Oktober lalu. Anjing sudah dieliminasi dan otaknya sudah diperiksa, hasilnya positif rabies. Dinas Peternakan juga telah melakukan vaksinasi anjing berpemilik mulai 6 Oktober dan eliminasi bagi yang liar serta diliarkan,” ucapnya.

Sumantra menambahkan, sebanyak 19 anjing sudah dieliminasi dan sembilan anjing diambil otaknya untuk diuji laboratorium lagi. (SB-ant)

Comments

comments