Usir Dua Menteri | Satpam Jalankan Perintah Anak Margriet

653

SULUHBALI, Denpasar – Pasca Engeline bocah 8 tahun yang dikabarkan menghilang pada 14 Mei lalu melalui jejaring sosial, cukup mengundang publik. Tidak sedikit orang yang ingin tahu kabar terbaru dari bocah malang tersebut.

Termasuk sejumlah Menteri pun pernah mendatangi kediaman Ibu Angkat bocah malang tersebut yang terletak di Jalan Sedap Malam No 26. Salah satunya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Crisnandi.

Sayangnya kedatangan Yuddy ke kediaman ke rumah tersebut mendapat penolakan dari Satpam, Dewa Ketut Raka yang disewa pihak keluarga untuk menjaga rumah tersebut.

Dalam sidang lanjutan, terdakwa Agus Tae Hamdamay yang merupakan mantan pembantu di kediaman Margareth, dan Dewa Ketut Raka dihadirkan sebagai saksi, Selasa (17/11/2015).

Oleh Hakim persidangan Ketut Raka sempat ditanya mengenai alasannya mengapa melarang seorang Menteri untuk masuk melihat areal rumah.

Dihadapan Hakim, Dewa Ketut Raka mengatakan hanya menjalan sesuai perintah anak Margrieth yang bernama Christin dan Chief Security yang menempatkan dirinya di rumah tersebut.

“Saya hanya menjalankan perintah dari Ibu Christin. Karena sebelumnya saya menelepon Ibu Christin untuk memberi tahu bahwa akan ada Menteri dan Orang dari kesehatan akan datang,” ungkapnya.

Lanjut Dewa, usai melaporkan dirinya ditelepon kembali oleh Christin dan langsung memerintahkan untuk melarang siapapun untuk masuk ke dalam areal rumah tanpa seizinnya.

“Ibu Christin menelpon saya dan berpesan, siapapun tidak diperboleh masuk ke dalam rumah termasuk itu bapak Menteri karena beliau tidak izin dengan keluarga, jadi jangan kasih masuk. Kalau petugas kesehatan kasih masuk asal ditemani petugas kepolisian,” ungkap Ketut Raka.

Selain itu, Ketut Raka mengaku sempat marah kepada dirinya karena membiarkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bisa masuk kedalam areal rumah.

“Saya sempat ditegur Ibu Christine karena membiarkan Ibu Menteri Pemberdaya Perempuan dan Perlindungan Anak masuk ke areal rumah. Karena saat itu melibatkan pecalang dan kepala dusun yang mengancam akan mendobrak pintunya kalau tidak diizinkan masuk,” terangnya. (SB-Ijo)

Comments

comments