Upakara Harus Disederhanakan

253

Raka Santeri (foto-raka)

SULUHBALI.CO, Denpasar – Dalam  Simakarama Terbatas yang digelar di kediaman resmi Gubernur Bali di Jayasabha, Denpasar, Kamis, 24 Oktober 2013, pagi tadi, dilaksanakan juga diskusi yang membahas tentang Upakara dan Yadnya dari pandangan Sulinggih dan pengamat Agama.

Dalam kesempatan itu, Raka Santeri, seorang Jurnalis dan pengamat Agama, mengungkapkan setidaknya setiap sensus penduduk 10 tahunan, umat beragama Hindu terus turun 5 – 10 persen. Dan pada sensus terakhir dicatat, setidaknya umat Hindu di Bali tinggal 82 persen dari total keseluruhan penduduk . Beliau berspekulasi, bisa saja penurunan tersebut karena banyaknya pendatang, atau mungkin karena banyak umat Hindu yang berpindah agama, atau mungkin karena beratnya beban Upakara.

Seperti yang ia sebutkan disalah satu desa, yang menghabiskan sampai 2 Milyar Rupiah untuk Upacara dan penduduk desa tersebut harus membayar iuran selama 4 tahun demi melunasi pembayaran biaya Upacara tersebut. Dan satu lagi contoh ia sebutkan, pernah dalam suatu Upacara di Lumajang, umat Hindu Bali mengirim banten kesana sampai 2 truk.

Menurutnya ini ironis, karena Yadnya kepada Sang Hyang Widhi jadi terlihat seberti beban berat. Padahal dalam kitab, kita diminta untuk beryadnya paling maksimal sepertiga dari kemampuan kita dan yang paling penting adalah ketulusan hati dalam beryadnya itu.

Ia berpendapat, Upakara harus disederhanakan, tapi bukan dalam artian “ anti upakara” atau upakara itu dihilangkan, namun lebih menonjolkan spiritualitas atau  hubungan dari dalam diri dengan Tuhan, dan ritual hanya jadi pendamping. Karena pura yang sejatinya adalah badan kita, yang harus kita jaga agar tidak tercemar.

Pastika Dorong Masyarakat Dalam Pelaksanaan “TATTWA” Agama

Ditemui pada kesempatan yang sama, Mangku Pastika berharap supaya para tokoh agama bisa memberi pencerahan agar umat Hindu melaksanakan dharma (kewajiban) agama sesuai dengan kemampuannya.

Membuka acara diskusi, Pastika mengaku tergelitik dengan tulisan wartawan senior Raka Santri yang mengulas tentang keagamaan, yang intinya dalam tulisan itu yadnya (persembahan suci) jangan sampai memberatkan, apalagi harus berutang.

Mangku Pastika (foto-raka)
Mangku Pastika (foto-raka)

Menurut dia, hal itu sejalan dengan pemikirannya sejak dulu. “Saya yakin, banyak tokoh maupun umat yang punya pemikiran yang sama. Hanya saja kita jadi tak berdaya ketika terjun ke masyarakat. Ritual yang dilaksanakan tanpa menyesuaikan dengan kemampuan akan menjadi beban bagi umat dan tak sesuai dengan intisari ajaran agama Hindu,” ujarnya.

Sementara itu, sulinggih (pendeta Hindu) Ida Pandita Empu Jaya Prema Ananda menyambut positif ide Gubernur Bali menggelar diskusi keagamaan tersebut.

Sulinggih ketika sebelum menjadi pendeta bernama Putu Setia ini dikenal aktif memberi pencerahan melalui tulisan yang dimuat di media lokal dan nasional. Hingga dinobatkan sebagai sulinggih, dia terus memberi pembinaan pada umat.

“Sulinggih itu tidak mesti hanya fokus pada tugasnya muput karya (memimpin ritual), tetapi juga wajib memberi pencerahan dan pembinaan pada umat,” katanya.

Dia menyadari upaya memberikan pencerahan untuk menyederhanakan ritual bukanlah hal yang mudah, karena ada kesan bahwa umat masih terjebak pada tradisi masa lalu yang identik dengan ritual besar-besaran.

Padahal jika mengacu pada kitab suci, agama Hindu sama sekali tidak membebani umatnya. “Sebenarnya sudah ada dasar sastranya kalau yadnya (persembahan suci) itu disesuaikan dengan kemampuan, maknanya tetap sama,” katanya.

Hal senada dikatakan Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sri Satya Jotir. “Saya sangat antusias dengan diskusi ini karena sudah menjadi pemikiran saya sejak dulu. Ada empat kunci dalam memantapkan tattwa agama yaitu pendeta, tukang banten, prajuru (pengurus) adat dan pelaku yadnya. Semua pihak harus tahu fungsi dan makna sesajen dan ritual yang dilaksanakan,” katanya.

Ia menandaskan, persembahan dan ritual dalam Hindu bertujuan untuk membuat umat bahagia. Kalau setelah melaksanakan ritual justru malah stres memikirkan utang berarti tujuan yadnya tak tercapai.(SB-pus)

 

 

Info Kami :

www.suluhbali.co solusi marketing dan komunikasi di dunia maya di media sosial seperti facebook, twitter dan google

Bergabung bersama kami di www.facebook.com/suluhbaliCO untuk selalu mendapatkan berita berita yang menginspirasi dan mencerdaskan.

Follow twitter @suluhbalidotco

Hubungi kami di suluhbaliku@gmail.com untuk solusi marketing, iklan, grafis, video dan profil partai serta profil calon legislatif.

Comments

comments