Unik | Dua Desa Pakraman Ngarak Bade di Laut

360

Upacara ngeben di Desa Pakraman Semaya, Nusa Penida. |foto-sjd|

 

SULUHBALI.CO, Klungkung – Upacara ngaben merupakan salah satu upacara pitra nyadnya yang dilakukan pada umumnya di Bali. Nusa Penida salah satunya . Berbeda yang tempat lainya yakni mengarak bade di laut.

Warga tumpah berbondong-bondong menyaksikan event yang langka. Riuhan penonton ketika suara gemelan berbunyi. Bukan hanya warga local saja yang menyaksikan ngaben , fotografer pun tidak ketinggalan mengabadikan momen ini, Kamis (25/9/2014).

Upacara ngeben masal di Desa Pakraman Kutapang selalu warga tumpah menyaksikan. Hal berbeda dari upacara ngeben masal yang lainnya. Disamping bade diarak di laut , semua lembu dan singa semuanya diarak bersamaan. Atraktif lembu dan singa silih berganti maju ke bade. Durasi mengarak bade cukup lama. Para warga yang menyaksikan tidak beranjak pulang sebelum bade sampai di setra.

Hal ini disampaikan Ketua Panitia disela-sela kesibukanya I Made Suarta mengatakan uapacara ngaben masal diawali dengan paruman semua karma yang sebelumnya pacah dari beberapa banjar yang kini menjadi satu banjar adat Kutapang Kauh. Sebanyak 42 sawa yang diantanya 14 petulangan yang terdiri dari 14 Paibon.
Setiap warga yang mempunyai sawa dikenakan biaya sebanyak 10 juta per sawa.

Mengarak bade di laut yang diiringi 8 singa dam lembu yang semua diarak secara bersamaan. Riuhan penonton ketika singa dan lembu silih berganti maju ke bade yang diarak, “ terangnya.

“Mudah-mudahan upacara yang dilakukan secara bersama diteruskan generasi berikutnya . Rasa persatuan terus diemban bersama serta hubungan persaudaraan semakin erat , “ pintanya.

Salah satu penonton I Wayan Tinggi Nariawan mengatakan upacara ngaben masal di Desa Pakraman Kutapang sangat menarik bade diarak di laut. Atraksi singa dan lembu sangat atraktif, perpaduan itu sangat menarik disaksikan, “ terangnya.

Upacara ngeben di Desa Pakraman Semaya hampir sama dengan upacara ngaben di Desa pakraman Kutapang. Sama-sama mengarak bade di laut setempat. “ Sebanyak 24 sawa yang diantaranya 11 petulangan dan 13 runyem ( sudah dibakar sebelumnya). Kebanyak dari sawa tersebut berasal dari warga semaya yang tinggal di Lombok. 4 kawitan dan 7 paibon ikut upacara ngebn masal.

Diantaranya Arya Kenceng, Arya Damar, Pasek Gelgel, Tangkas Kori Agung serta Bendesa Manik Mas. Persiapan dilakukan 6 bulan sebelumnya. Warga yang mempunyai sawa dikenakan biaya sebanyak 15 juta per sawa.

Dari 14 lembu & singa hanya satu yang diarak sebagai pengencek Bade , “ ujar Ketua panitia I Nyoman Candra.
Sementara Bendesa Pakraman Semaya mengatakan pada upacara ngaben masal tahun ini semua karma berbondong-bondong ikut berpartisipasi . Bade diarak di laut merupakan salah satu warisan leluhur kami. Saat surut air laut waktu yang tepat, yang disesuiakan dengan pasang surut air pada putaran bulan, “ katanya.

Menata kembali rasa kebersamaan , dengan tulus memberikan penghormatan terakhir bagi para pitra semoga mendapat tempat yang terbaik. Semua unsur yang ada dalam diri manusia akan kembali ke alam yang sesuai dengan ajaran Panca Maha Buta, “ tuturnya. (SB-SJD)

Comments

comments

Comments are closed.