Unik | Bayar Iuran BPJS Pakai Sampah

289

Bank Sampah Cahaya Parta.

SULUH BALI, Denpasar – Hidup konsumtif dijaman modern berdampak pada semakin banyaknya sampah yang dihasilkan. Mulai dari sampah rumah tangga, sampah hotel, perkantoran maupun sekolah-sekolah. Jika sampah yang dihasilkan dibuang begitu saja pada tempat pembuangan sampah, jelas TPA Suwung akan semakin menggunung.

Namun oleh Made Bagiada, solusi untuk meminimalkan pembuangan sampah ke TPA Suwung telah diimplementasikan dengan menekuni jual beli barang bekas sejak tahun 2000. “Tahun 1997 sebenarnya saya sudah mulai jual beli barang bekas. dan tahun 2011 baru mulai dikembangkan menjadi Bank Sampah,” jelas Bagiada, Direktur Bank Sampah PT Cahaya Partha Jaya yang berlokasi di jalan Noja Sari 12x, Kesiman Denpasar, saat ditemui Senin (10/11/2014).

Bersama 7 stafnya, Bank Sampah Cahaya Parta ini mampu melayani dengan penjemputan ke lokasi para nasabah jika dibutuhkan. “Sementara ini kami baru punya 1 armada angkut, sehingga masih terkendala kalau ada penjemputan di beberapa lokasi,” jelasnya.

Keuntungan menjadi nasabah di Bank ini, selain menyetor sampah pulang bawa uang, ternyata juga ada simpan pinjam. Pinjaman tidak dikenakan bunga dan pengembalian pinjaman tetap berupa sampah bukan uang. “Tentu saja semua ada ketentuannya. Jika ingin bergabung silahkan kontak kami,” ujar Bagiada.

Selain itu berbagai inovasi coba dikembangkan Bank Sampah yang kini mempunyai 1.200 nasabah ini. Salah satunya telah berhasil mendaftarkan 40 nasabahnya mengikuti program BPJS Kesehatan. “Ada yang ikut di kelas 1, kelas 2, maupun kelas 3. Itu sesuai dengan kemampuan nasabah masing-masing,” ujar Humas Bank Sampah Cahaya Parta Jaya, Ketut Suarnaya.

Iuran setiap bulannya yang sebesar Rp 25.500 untuk kelas 3; iuran Rp 42.500 untuk kelas 2; san iuran Rp 59.500 untuk kelas 1 dibayarkan oleh Bank Sampah ini dari saldo tabungan masing-masing nasabah. Maka itu persyaratan utama untuk bisa ikut BPJS Kesehatan yaitu saldo minimal setiap bulan para nasabah minimal Rp 30 ribu, Rp 50 ribu dan Rp 60 ribu.

“Tiap calon peserta, sebulan minimal punya saldo tabungan diatas iuran BPJS. Tiap bulan nasabah juga akan mendapatkan slip pembayaran,” terangnya.

Keikutsertaan 40 nasabah Bank Sampah jadi anggota BPJS baru berlangsung sejak Oktober 2014, Suarnaya berharap akan lebih banyak lagi nasabah yang ikut BPJS Kesehatan untuk menyiapkan diri jika suatu saat mengalami sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Dengan konsep bayar iuran BPJS dengan nabung sampah, Suarnaya ingin terobosan ini menggugah masyarakat untuk melihat sampah dari sisi ekonomis dan sosialnya. “Kedepan kami rencanakan ada beasiswa untuk anak-anak nasabah yang kurang mampu. Juga ada rencana kerjasama dengan SPBU untuk pengadaan kupon bensin,” ungkapnya.

Mengingat biaya sekolah semakin hari semakin tinggi, melalui Bank Sampah ini Suarnaya juga berharap anak-anak tidak harus putus sekolah hanya gara-gara tidak punya biaya.

Keberadaan Bank Sampah ini juga telah menggugah Banjar-Banjar se Kecamatan Denpasar Timur untuk membuka Bank Sampah di Banjar. Misalnya Banjar Abian Kapas Tengah yang baru-baru ini menarik tabungan sebesar Rp 11 juta. “Mereka baru 3 bulan mengumpulkan sampah di banjarnya, ketika rapat dibeberkan uang belasan juta tersebut bahwa memang benar uang itu dari hasil nabung sampah,” ujar Suarnaya.

Suarnaya menambahkan, hasil penjualan sampah ditabung di LPD Setempat untuk memperdayakan perekonomian desa. “Nabungnya di LPD, perdayakan ekonomi desa,” tambahnya.

Terkait sampah yang dikumpulkan, masih sebatas sampah anorganik sebab Bank Sampah Cahaya Parta Jaya ini tidak langsung melakukan pengolahan. “Karena di sini daerah pemukiman padat penduduk. Kalau ada suara mesin atau nampung sampah anorganik, kemungkinan tetangga akan protes. Kami ingin berbuat solusi, tidak untuk menimbulkan permasalahan,” ujarnya yang mengirim kembali kardus, besi maupun barang bekas lainnya ke pengepul di Bali dan di Jawa.

Camat Denpasar Timur Dewa Made Puspawan mengatakan keberadaan bank sampah di wilayahnya makin hari semakin berkembang. Hal ini menandakan masyarakat memandang sampah bukan sebagai hal yang kotor melainkan membawa berkah. Pemerintah Kota Denpasar terus berupaya untuk memotivasi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan terutama masalah sampah. Dengan semakin meningkat kesadaran masyarakat akan kebersihan akan meningkatkan kebersihan di Kota Denpasar. (SB-HumDps)

Comments

comments