Umat hindu saat bersembahyang di Pura Tanah Kilap. |foto sem|

SULUHBALI.CO, Denpasar – Umat Hindu Dharma di Bali merayakan Hari Suci Galungan yang bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (Keburukan).

Hari suci yang mengandung makna kebangkitan itu dirayakan setiap 210 hari sekali, menurut penanggalan pawukon kali ini jatuh pada hari Rabu, Wuku Dunggulan, 21 Mei 2014, menyusul sepuluh hari kemudian Hari Raya Kuningan Sabtu, 31 Mei 2014.

Masyarakat Pulau Dewata yang bermukim di perkotaan maupun perdesaan memasang penjor di depan pintu rumah pekarangan masing-masing sehingga suasana tampak meriah dan penuh khidmat.

Pria, wanita, dan anak-anak dengan mengenakan busana adat nominasi warna putih serta wanita menjunjung sesajen (sesaji) pergi ke pura atau tempat suci keluarga (merajan) untuk mengadakan persembahyangan.

Tak pelak, suasana Bali, baik perkotaan maupun pedesaan cukup semarak, karena sepanjang jalan dihiasi dengan penjor sebagai lambang kemakmuran.

Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Indonesia Neger (IHDN) Denpasar Dr. I Ketut Sumadi menjelaskan bahwa Hari Raya Galungan selain bermakna memperingati kemenangan Dharma juga memberikan keheningan atas kemakmuran dan kesejahteraan yang dilimpahkan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Hari Kemenangan Dharma sekaligus kebangkitan, “tangga” menuju pemusatan pikiran, dan kesucian diri agar umat manusia dalam menjalani kehidupan benar-benar suci dan bersih.

“Pikiran suci akan mampu menghilangkan semua pengaruh yang bisa membawa dampak negatif,” kata Ketut Sumadi, alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana.

Umat Hindu pada hari baik itu menghaturkan sesaji kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam semua manifestasinya, sebagai perwujudan rasa bakti dan syukur atas segala kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.

Lewat perayaan Galungan juga merupakan momentum memperjuangkan diri agar tidak mudah terprovokasi sekaligus mengevaluasi diri dan mempererat persaudaraan.

Dengan terjalin eratnya persaudaraan akan mampu meminimalkan celah perilaku yang tidak benar. “Dengan kebersamaan, kerukunan, soliditas, dan keharmonisan, kita semua dapat berbuat lebih banyak lagi demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Proses menuju Galungan dimulai sejak lima hari sebelum Galungan yang disebut “Sugihan Jawa” yang dimaknai untuk penyucian alam semesta (makrokosmos), dilanjutkan dengan “Sugihan Bali” pada empat hari sebelum Galungan yang dimaknai penyucian diri (mikrokosmos).

Tiga hari sebelum Galungan disebut dengan Penyekeban, kemudian dilanjutkan Penyajaan yang maknanya untuk memantapkan diri. Sehari sebelum Galungan, umat Hindu telah menyembelih babi atau ayam sebagai simbol membunuh sifat-sifat kebinatangan dalam diri.

Sejak Abad VIII Hari Suci Galungan dan Kuningan dirayakan umat Hindu secara turun-temurun sejak abad VIII Masehi. Konon pada waktu itu seorang raja yang bernama Mayadenawa dari Kerajaan Bedahulu, Gianyar, bertahta dengan penuh kezaliman, bengis, dan sewenang-wenang, bahkan melarang rakyat melakukan persembahyangan.

Penderitaan rakyat memuncak ketika panen gagal sehingga kelaparan muncul di mana-mana. Rakyat tidak puas terhadap raja, lalu terjadilah pemberontakan yang menelan korban jiwa tidak sedikit.

Raja Mayadenawa dapat dikalahkan dan sejak itu sebagai tanda kemenangan, peristiwa tersebut dirayakan dan dikenal sebagai Hari Raya Galungan, yakni hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kebatilan).

Hari Raya Galungan merupakan momentum bagi umat Hindu untuk meningkatkan kualitas dan memotivasi diri untuk selalu hidup dalam ketekunan bekerja dengan tidak melupakan keselamatan diri maupun lingkungan.

Penyucian diri menyangkut semua aspek, yakni kejiwaan (mental dan pikiran), keragaan (sikap dan prilaku) yang harus berjalan dan seimbang serta melaksanakan ajaran agama yang disebut “Trikaya Parisuda” yakni berpikir, berkata, dan berbuat yang baik.

“Untuk itu, umat Hindu perlu merenungkan makna Galungan, yakni secara sadar bahwa semua anugerah yang dilimpahkan Tuhan Yang Maha Kuasa selama ini dapat mendorong umat untuk lebih meningkatkan perbuatan baik (dharma) di dunia,” ujar Ketut Sumadi. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.