“Ulun Danu” : Air Sumber Kehidupan dan Refleksinya dalam Keberagaman

50
Oleh : I Wayan Supadma Kerta Buana

Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya masyarakat Bali yang setiap tahunnya meuatkan makna pesan kehidupan dalam setiap pelaksanannya. Setelah tahun sebelumnya mengangkat tema ‘Karang Awak´ yang memiliki makna mencintai tanah kelahiran, tahun ini PKB ke-39 kembali mengangkat tema unsur penjaga sinergitas kesimbangan dunia yakni melestarikan air sumber kehidupan dengan tagline Ulun Danu’.

Ulun Danu, air sebagai sumber kehidupan memiliki makna mendalam dalam menjaga sinergitas kehidupan dunia bagi masyarakat Bali. Konsep Ulun Danu merupakan bagian penghormatan dan pemuliaan terhadap air. Bagi masyarakat Bali keberadaan Ulun Danu adalah sumber dari air, dimana merujuk tempat yang suci stananya Dewi Danu sebagai hulunya sumber air di Bali.

Sementara air bagi masyarakat Bali memiliki makna yang penting bagi kelangsungan hidup, agama serta seni dan budaya. Bagi kelangsungan hidup, air adalah kehidupan karena tanpa air manusia tidak akan mampu menjaga hidupnya. Niscaya manusia bisa hidup tanpa air karena sekitar 80 persen tubuhnya terdiri atas unsur air.

Air bagi agama Hindu sebagai agama mayoritas di Bali merupakan pemulian tertinggi sebagai tirta yang menjadikan air tidak hanya untuk hidup namun juga anugerah untuk menjaga keselamatan hidup. Bagi kelangsungan seni dan budaya air menjadi bagian dari penyangga budaya Bali. Air sangat diperlukan seperti penyangga sistem irigasi subak serta berbagai seni dan budaya Bali yang memanfaatkan air dalam pelaksanaanya.

Selain sebagai sumber kehidupan, air juga dapat dijadikan sebagai refleksi dari kesatuan dalam keberagaman. Refleksi terhadap air dapat dilihat dari perjalanannya, dimana air sesungguhnya berasal dari tempat yang sama hanya saja dibedakan oleh beragam tempat alirannya. Pada ahirnya semua air yang mengalir dari beragam tempat itu akan bersatu kembali bermuara di samudra.

Pada perjalan air dari sumber asal hingga ke muara samudra, air tidak pernah mengeluh atau protes terhadap aliran-aliran lain yang beragam. Air akan tetap mengalir sesuai dengan alirannya masing-masing. Inilah sesungguhnya contoh komitmen kesatuan keberagaman itu yang tidak memandang sekat perbedaan, namun itu semua adalah warna yang pada ahirnya akan menuju kesatuan.

Refleksi terhadap air ini menjadi sangat penting mengingat saat ini bangsa Indonesia dihadapkan oleh permasalahan terusiknya Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua) oleh oknum pemecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat kebersamaan seperti aliran air yang bersumber dari satu dan ahirnya kembali pada satu kesatuan menjadi penting digelorakan dalam menjaga semangat kesatuan dan persatuan bangsa.

Momentum PKB ke-39 inilah kesempatan yang tepat dalam membawa pesan Ulun Danu tidak hanya dimaknai sebagai melestarikan air sumber kehidupan tetapi juga sebagai bentuk refleksi sikap kesatuan dalam keberagaman mencontoh dari sifat-sifat air itu sendiri. Hal ini juga berkaitan dengan PKB menjadi kesempatan strategis dalam membawa misi penyampaian pesan-pesan ini mengingat animo masyarakat untuk menonton pertunjukan PKB begitu tinggi setiap tahunnya.

PKB juga memiliki gaung yang cukup besar tidak hanya secara lokal namun juga secara nasional dan bahkan internasional. Kesempatan ini menjadi sangat penting disampaikan pemaknaan air sehingga dapat dijadikan contoh dalam menjaga keberagamaan dalam kesatuan sehingga dapat menangkal adanya sikap-sikap anti persatuan.

Pesan-pesan pemuliaan air dan persatuan keberagamaan yang merefleksikan air dapat dimuatkan dalam bentuk pertunjukan kesenian yang bersifat visual, audio, maupun audio visual. Diharapkan pengunjung PKB tidak hanya menikmati indahnya pertunjukan atau pameran kesenian namun juga memiliki spirit dan motivasi semangat untuk menjaga dan memuliakan air serta terpenting menjaga kesatuan dan kesatuan dalam dimensi keberagaman.

Comments

comments

1 COMMENT