UKM “Dipa Bhawana” Unhi Tirta Yatra Ke Nusa Penida

113

SULUH BALI, Semarapura- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Diskusi Dipa Bhawana UNHI melakukan tirtha yatra ke Sembilan pura yang ada di Nusa Penida pada tanggal 29-31 Desember 2016.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT Dipa Bhawana yang ke  7 th. Nampaknya bukan perjalanan yang biasa, memecah gelombang laut yang amat tinggi dengan guyuran hujan yang tak bisa mematahkan semangat, kami menghabiskan waktu untuk menikmati suasana tenggelamnya mentari 2016 di pulau yang mengagumkan itu.

Pertama, mengunjungi Pura Penida, yang menurut cerita masyarakat setempat merupakan Pura tertua dan awal mulanya nama Nusa Penida. Kemudian, melanjutkan perjalanan menuju Pura Dalem Krangkeng dan Puncak Mundi yang merupakan tempat pemujaan Dewi Durga. Hari itu juga menuju ke Pura Dalem Dukut, dimana, disana juga merupakan tempat pemujaan Dewi Durga.

Mulai menyadari, ternyata, di pulau yang indah itu sakti dari Siwa tersebut amat dimuliakan dan disitu berpikir bahwa disana juga banyak ritus pemujaan Ganapati dan Siwa. Pada hari pertama, tirta yatra diakhiri di Pura Puser Saab yang merupakan ritus pemujaan Ganapati yang terbesar dari beberapa pura yang kami kunjungi saat itu.

Hari pertama tidak hanya melakukan tirta yatra, setelah mentari condong ke barat dan tiba di tempat peristirahatan yang disediakan oleh masyarakat Desa Nyuh Kukuh, segera bergegas untuk kembali menghadiri undangan untuk turut berdiskusi dengan tokoh adat dan STT Desa Nyuh Kukuh. Terasa lelah memang, namun semangat tak akan lelah. Ya, hari pertama perjalanan, menuju cahaya dan yang pasti menyalakan cahaya itu.

Pada tanggal 30 Desember 2016 harus berangkat lebih awal, ketika matahari belum sempurna terbit melanjutkan perjalanan menuju Pura Punjuk Pusuh. Perjalanan yang cukup panjang dan jalan yang sangat menantang. Namun, semua itu terbayar sudah. Ketika sampai di puncak tertinggi Nusa Penida itu sangat bersyukur. Tempat pemujaan yang begitu khusuk dan tak kalah panorama yang membuat raga tak sanggup berpaling. Sungguh ciptaan yang sangat sempurna.

Walau belum rela untuk meninggalkan tempat itu namun harus melanjutkan perjalanan menuju Pura Batu Medawu. Tak jauh dari pura tersebut kami sampai di tujuan selanjutnya, yaitu Pura Goa Giri Putri. Nasib baik menghampiri, goa yang biasanya sesak oleh pemedek, saat itu terasa sangat sepi, khusuk dan begitu religius. Menyisiri goa dengan bhakti, banyak pengalaman yang didapatkan.

Cahaya itu begitu terasamenghangatkan dan menyejukkan. Perjalanan dilanjutkan menuju Pura Dalem Ped, tujuan terakhir sebagai penutup lembaran di Nusa Penida. Terik matahari tak lagi membakar ketika bersujud di hadapanNya. Hanya kata syukur yang dapat terucap.

Belum puas menikmati pulau yang begitu indah itu, diharuskan untuk pulang. Bersama kenangan dan pengalaman yang luar biasa. Rasa rindu kepada pulau itu mulai terasa, diiringi hujan dan senyum tulus warga desa, kami kembali. Dan semoga Dipa Bhawana selalu hidup di Nusa Penida. (SB-Skb)

Comments

comments