Turis Asal Belanda Juga Ikut Tradisi Perang Pandan

102
Turis asal Belanda ikut berperan serta dalam perang pandan (sb-cas)

Suluh Bali, Karangasem – Perang Pandan atau Mekare-kare adalah salah satu atraksi budaya yang paling ditunggu-tunggu, bukan hanya oleh penduduk setempat melainkan para wisatawan domestik dan asing juga menunggu momen tersebut.

Ritual Perang Pandan ini digelar oleh warga Desa Bali Age atau yang kita kenal Desa Tenganan Pagringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Acara ini berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 12-13 Juni kemarin. Tahun ini tidak ketinggalan tamu mancanegara juga ikut berpartisipasi dalam perang pandan.

“Kalau rangkaiannya panjang sudah dari 10 hari yang lalu. Lalu makna perang pandan ini merupakan persembahan untuk Dewa Indra, perang berupa darah untuk kesuburanan tanah Tenganan,” tutur Kadek Sukadnyana selaku Kelian Truna Desa Tenganan, Selasa (13/6).

Setiap laki-laki dari Desa Tenganan diharuskan untuk mengikuti perang pandan ini. Tidak terkecuali anak-anak, namun hal ini tidak dipaksakan. Bagi mereka yang merasa sudah memiliki keberanian dipersilahkan untuk ikut andil didalamnya.

Seperti I Gede Parta Dika Pratama, anak laki-laki yang sudah masuk tahun keempatnya mengikuti ritual ini, “Ini tahun ke 4  saya, dulu saya mulai dari kelas 2 sekolah dasar. Ikut perang pandan itu seru, terus engga sakit cuma sedikit perih sewaktu diisi borehnya”.

Dika mengaku senang mengikuti perang pandan ini, terlihat dari antusiasnya yang ikut dua hari berturut-turut. Selama perang berlangsung diiringi dengan tabuhan gamelan yang keras, ketika perang selesai tabuhan gamelannya melemah, begitu seterusnya seperti tanda.

Di dalam ritual, dua pria saling memukul punggung menggunakan pandan. Tubuh mereka pun penuh dengan luka selama pertarungan berlangsung, namun mereka begitu menikmatinya. Dari mulai muka, lengan, punggung, hingga perut pun penuh dengan baretan duri daun pandan. Setelah peperangan usai, selanjutnya para pemuda yang berperang langsung membantu untuk mengobati luka menggunakan obat tradisional dari kunyit dan cuka yang disebut boreh. Mereka pun saling menggosokan boreh ke bagian tubuh yang terluka.

“Sebenarnya perang pandan itu berlangsung 4 kali, pertama di Bale Agung itu cuma simbolis, kedua di Petemu Kelod itu juga simbolis, lalu yang kemarin tgl 12 dan hari ini 13,” tambah Sukadnyana. (sb-cas)

 

Comments

comments