Tumpek Wayang Kembangkan Kegiatan Kreatif

265

SULUHBALI.CO

Tumpek wayang, hari baik dalam kalender Bali untuk melaksanakan kegiatan ritual, yang bermakna menghormati wayang kulit agar tetap mempunyai taksu (kharisma), sesuai watak dalam pementasan.

Dalang wayang kulit di Bali pada hari baik, yang kali ini jatuh pada Sabtu (15/2) melaksanakan upacara dengan menghaturkan “bebantenan” (rangkaian janur), ibarat memperingati hari kelahiran yang dilakukan setiap 210 hari sekali.

Kegiatan ritual itu bagi masyarakat Bali juga dimaknai untuk meningkatkan daya kreatif di tengah menghadapi kesulitan ekonomi maupun bencana alam, tutur pengamat budaya dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr Ketut Sumadi yang juga Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar.

Melalui momentum Tumpek Wayang masyarakat diharapkan lebih kreatif dalam mengembangkan usaha yang mampu meningkatkan pendapatan.

Demikian pula para pemimpin lebih kreatif dalam mengarahkan dan memanfaatkan dana-dana pembangunan sehingga mampu memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat, sekaligus menghindari adanya penyalahgunaan dana-dana pemerintah.

Umat Hindu pada Hari Tumpek Wayang itu melakukan persembahyangan di tempat suci rumah tangga masing-masing.

Masyarakat Bali menurut Ketut Sumadi hingga kini masih percaya orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang dianggap “salah lahir”. Untuk menjadikan yang bersangkutan kembali mempunyai keseimbangan lahir dan batin, maka pada saat hari ulang tahun, yang di Bali lumrah disebut “Otonan” wajib dibuatkan upacara otonan yang dimeriahkan dengan pementasan wayang kulit.

Hal itu bukan berarti hari-hari lain tidak perlu mementaskan wayang kulit, karena pementasan seni tradisional itu erat kaitan dengan kelengkapan ritual keagamaan yang dilaksanakan di Pura maupun oleh masing-masing warga masyarkat setempat.

Orang tua di Bali hingga sekarang sangat serius mendidik atau mengajar putra-putrinya agar tumbuh menjadi seorang suputra (orang baik) dan dalam kehidupan sehari-hari leluhur orang Bali mempunyai cara tersendiri mengajari anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang tanpa kehilangan karakter kearifan lokal.

Hal itu terlihat jelas dari adanya prosesi ritual Tumpek Wayang yang menunjukkan prilaku nyata yang diajarkan orang tua kepada setiap anaknya, meskipun cara yang diajarkannya masih belum transfaran dan penuh misteri.

Untuk bisa mengupasnya diperlukan ketajaman intuisi dan intelektual tersendiri. Para orang tua zaman dalu seperti sengaja tak mau memberi penjelasan secara rinci, karena mereka takut metode itu disalahgunakan atau bisa mengurangi nilai sakralitasnya.

Hal itu khusus berkaitan dengan bidang kesenian, nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam ritual Tumpek Wayang diimplementasikan dengan membentuk sekaa igel dan sekaa gong (kelompok penari dan penabuh).

Semua aktivitas mereka berolah seni berlangsung di bale banjar dan mendapat pengayoman dari krama banjar dengan baik. Biasanya setiap banjar hingga sekarang masih memiliki sekaa yang anggotanya anak-anak dan sekaa yang anggotanya orang dewasa.

Jadi, setiap banjar sepertinya berlomba-lomba mementaskan kepiawaiannya menari dan menabuh. Baik dalam rangka “ngayah”, bekerja tanpa imbalan di pura saat piodalan maupun pada hari-hari tertentu seperti pada hari raya Galungan dan Kuningan.

Warna Kesenian Dari fenomena itu, menurut Ketut Sumadi tidak mengherankan jika wisatawan mancanegara yang pelesiran ke Bali menyebut hidup orang Bali penuh warna kesenian, karena sejak dalam kandungan ibunya telah dibuatkan upacara “magedong-gedongan” dengan persembahan sesaji yang ditata sedemikian rupa penuh nuansa seni.

Sesaji tersebut tidak hanya bernilai religius yang diharapkan dapat menjaga keselamatan bayi dalam kandungan, tetapi juga penuh citarasa seni yang membuat si ibu yang mengandung menjadi senang, penuh suka cita dan gembira.

Dr Ketut Sumadi yang pernah melakukan penelitian dan pengkajian tentang seni budaya di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung itu menjelaskan, secara otomatis ritual tersebut telah memasukan vibrasi kesenian kepada bayi yang ada dalam kandungan.

Demikian pula saat baru lahir, kemudian berumur “bulan pitung dina” (satu bulan tujuh hari), telu bulan (tiga bulan), satu oton (enam bulan), dan seterusnya sampai dewasa dibuatkan upacara dengan perlengkapan sesajen yang sangat rumit dan makin tinggi pula nilai seninya.

Bagi orang yang mampu secara ekonomis, setiap rangkaian upacara itu diiringi dengan pementasan kesenian. M. Covarrubias misalnya, dalam bukunya berjudul “Island of Bali”, menyebutkan semua orang Bali adalah seniman.

Pulau Bali kemudian lebih dikenal dengan nama Island of Paradise dan kesenian Bali pun semakin terkenal ke seluruh penjuru dunia. Namun yang masih jarang orang tahu, bahwa para leluhur atau seniman Bali memiliki hari istimewa untuk menjaga taksu kesenian dan kesenimannya, termasuk merawat dan menjaga perlengkapan keseniannya.

Melalui prosesi upacara agama. Tumpek Wayang atau ada juga orang menyebutnya Tumpek Aringgit, yang kali ini jaduh pada Hari Sabtu, 15 Pebruari 2014, setiap enam bulan sekali.

Aktivitas berkesenian menjadi senjata ampuh untuk membentuk karakter anak-anak agar tumbuh dengan kehalusan budi, cerdas, penuh kreativitas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Beragam Ketut Sumadi, alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana menjelaskan, Bali memiliki kearifan lokal sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya menjadi tiga jenis meliputi kearifan lokal untuk konservasi dan pelestarian sumberdaya alam.

Seperti mitologi Watugunung, Tumpek Bubuh (Tumpek Wariga) dan Tri Hita Karana, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu kearifan lokal yang berfungsi bagi bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM) seperti ritual Manusa Yadnya (upacara daur hidup), konsep Kanda Pat Rare serta kearifan lokal yang berfungsi bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan seperti ritual Saraswati, Tumpek Landep, Tumpek Wayang dan Tumpek Kerulut.

Oleh sebab itu kearifan lokal Bali bentuknya beragam, seperti bentuk ritual atau upacara (Panca Yadnya), bentuk sastra (cerita rakyat. Legenda, mitologi, kidung, geguritan) dan bentuk nasehat.

Sementara berdasarkan makna, keragaman kearifan lokal Bali mencakup makna religius (upacara tradisional), makna sosial, makna ekonomis, etika, moral, penyucian roh leluhur dan makna politis (upacara nangluk merana) Leluhur orang Bali dalam kehidupan sehari-hari mewariskan petuah yang sarat pemahaman multikultur dalam bentuk pribahasa yang menjadi landasan idealisme kearifan lokal.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kearifan lokal dalam bentuk prilaku yang bermakna sosial adalah orang Bali lebih mengutamakan kebersamaan yang disebut “menyama braya” yakni hidup rukun dan damai penuh persaudaraan.

Sikap “menyama braya” orang Bali itu merupakan pengamalan ajaran Hindu “tat twam asi”, yang berarti “engkau adalah itu”. Hidup rukun dan saling menghormati hak azasi seseorang yang kini didengung-dengungkan sebagai upaya penegakan HAM, tutur Ketut Sumadi. (SB-ant)

Comments

comments