SULUH BALI

Hari ini Sabtu (Saniscara) Kliwon wuku Wariga, bagi warga Bali dikenal dengan Rahinan Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh atau ada juga yang menyebut dengan Tumpek Pengarah. Krama Bali, terutama para ibu-ibu sejak kemarin sudah mempersiapkan banten dan terutama yang khas adalah persiapan bahan untuk membuat bubur atau bubuh. Beras direndam sejak pagi hari, kemudian siang atau sore harinya dijadikan tepung. Kalau dulu, sebelum ada mesin dengan cara ditumbuk, tapi kini sudah banyak tersedia mesin untuk memudahkan mengolah beras menjadi tepung sebagai bahan untuk pembuatan bubur atau bubuh.

Bebantenan atau perlengakapan upacara sudah tersedia dan lengkap. Hanya hari ini, tinggal membuat bubur dari tepung yang sudah dibuat di hari kemarin. Para ibu sejak pagi sudah beranjak ke dapur untuk membuat bahan olahan dari tepung tersebut untuk dijadikan bubur. Tak ketinggalan agar bubur menjadi enak dan menarik, ditambah bahan parutan kelapa serta ditambahkan dengan pewarna alami yang dibuat dari daun kayu sugih. Tidak ketinggalan pula, disiapkan gula Bali yang direbus sebagai pelengkap dan penambah enaknya bubur itu. Bubur yang sudah jadi itu akan nampak berwarna hijau segar dan alami karena campuran dari cairan daun kayu sugih tersebut. Disamping warnanya yang segar, hijau, bubur juga terasa lebih enak.

Kemudian bubur yang sudah jadi itu sebagian dijadikan pelengkap banten Tumpek Bubuh.Bubur ditaruh diatas daun pisang yang berbentuk tekor kecil-kecil. Sisanya sebagian diberikan kepada tetangga atau sanak keluarga dalam bentuk jotan (ngejot). Banten yang juga dilengkapi suguhan bubur itulah yang kemudian dihaturkan terutama di ladang atau di tegalan, disamping juga di pelinggih-pelinggih di pekarangan.

Biasanya upakara itu dihaturkan pada tumbuh-tumbuhan, biasanya pada sebuah pohon kelapa misalnya. “Mapengarah (memberitahukan) kalau Hari Raya Galungan sudah dekat, tinggal 25 hari lagi. Makanya disebut Tumpek Pengarah. Supaya tumbuh-tumbuhan juga tahu, karena nanti kita gunakan untuk kelengkapan sarana Hari Raya Galungan,” ungkap ibu-ibu bila ditanya makna Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengarah. Sehingga didoakan agar tumbuh-tumbuhan tumbuh subur, berbunga, tumbuh daun,  berbuah lebat dan senantiasa memberikan manfaat.

Sebagai sebuah tradisi untuk membangun kesadaran untuk menuju kebaikan, kebahagiaan itu senantiasa bersama-sama dengan alam (tumbuh-tumbuhan). Alam dihargai, diberi kesempatan untuk menjadi dan member manfaat bagi kebaikan, Tentu ia ada dan tumbuh karena telah dikasihi, dirawat dan dipelihara dengan baik pula. Sehingga untuk itu ada pula etika menentukan hari untuk menanam, menebang, maupun memetik. Hari ini, tumbuh-tumbuhan diupacari dengan dilengkapi suguhan bubur, diharapkan senantiasa hidup, selalu memberi manfaat dan tumbuh subur. Rangkaian harmoni untuk saling menjaga, memelihara, saling memberi menuju kebaikan atau Dharma itu. Karena bukankah alam dan tumbuh-tumbuhan menjadi salah satu pilar, penyebab bagi terciptanya (tegaknya) kebahagiaan itu? Seperti apa yang disyaratkan dalam Tri Hita Karana. (SB-raka)

Comments

comments