Tukad Mati Patasari Mulai Ditata

563

Alat berat amfibi yang digunakan untuk membersihkan sampah di Tukad Mati Patasari. |foto-ijo|

 

SULUH BALI, Mangupura – Tukad mati yang berada di wilayah Patasari, Kuta merupakan inti dari permasalahan banjir yang berada di wilayah kecamatan Kuta. Tukad mati yang puluhan tahun tidak tersentuh oleh normalisasi ini, sehingga sampah yang berada di tukad tersebut menumpuk dan mengakibatkan sedimentasi yang menjadi sumber permasalah banjir di Kecamatan Kuta.

Hal tersebut diungkap oleh Kadis Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Badung, IB Surya Suamba Jumat (21/11/2014) saat acara ‘pemelaspasan‎’ alat berat Eskapator Amphibi yang diplaspas langsung oleh Bupati Badung, AA Gde Agung.

‎Menurutnya, pentingnya tukad mati untuk segera ditindaklanjuti adalah berdasarkan atas perintah Bupati Badung yang  memprogramkan untuk menata Tukad Mati yang sebenarnya hal itu merupakan kewenangan pusat.

Dimana untuk perizinnya sampai saat ini masih sedang diproses dipusat, yaitu di Kementerian PU serta Kehutanan, dimana yang masih menjadi kendala adalah terkait izin akses jalan mobilisasi pengangkutan sampah yang menggunakan lahan kehutanan.‎

“Target kita adalah menormalikan kembali paling tidak 50 meter lebar sungai, yang kalau dilihat dari orang tua dulu, delta ini adalah perairan. Kita hanya mengembalikan kondisi terdahulu, yang mana dalam sejarahnya bahwa alur dari Tukad Mati adalah alur pemeliharaan,”ungkap Surya Suamba.

 

Untuk mencegah terjadinya banjir di kecamatan Kuta dan melestarikan hutan bakau maka pihaknya mengadakan penataan Tukad Mati, yang sudah direncanakan tahun 2012. Dan di tahun 2014 untuk mendukung penanganan normalisasi sungai Tukad Mati. Maka dibeli sebuah eskapator amphibi yang memiliki PC 200‎ kekuatan mesin, lengan dan kapasitas, dengan kakinya berbentuk amphibi sehingga bisa berjalan diatas air dan rawa dan akan terus beroperasi di muara tukad mati.

“Di  tahun 2015 kita akan laksanakan aktifitas fisik, berupa pembuatan pemagaran pengerasan dinding Tukad Mati, dengan pembuatan longstorage yang memiliki lebar 50 meter. Menyusul tahun kedepannya mungkin akan dilengkapi sistem, agar air di tukad mati menjadi tetap stabil. Supaya pemanfaatan dari segi lingkungan, estetika bisa terjawabkan dan apabila banjir bisa langsung ke teluk benoa‎,”terang Surya Suamba.

Lanjut Surya Suamba, ‎Tukad Mati adalah tirisan dari subak, jadi sedimentasinya sangat tinggi karena membawa lumpur dari sawah dan rentan dengan air rob. Jika air laut sedang rob dan Tukad Mati juga sedang pendangkalan, jika hal tersebut tidak di apa-apakan maka Kuta akan tenggelam. Untuk itulah eskalator amphibi ini di standby kan‎ lengkap  dengan loader dan truk untuk mengangkut sampah yang dibuang ke TPA.

“Bahan sedimentasi ini sebenarnya diusulkan oleh Bapak Bupati Badung, kepada kementerian untuk membuat jalur jalan pembatas antara tanah hutan bakau dengan tanah masyarakat. Ini supaya ada kepastian batas wilayah tanah, sehingga nantinya tidak ada lagi patok katak yang melompat-lompat dan bisa digeser menyerobot lahan lain. Selain itu jalan tersebut juga nantinya merupakan kawasan barier tanah antara tanah milik warga dengan tanah milik penduduk,”papar Surya Suamba.‎ Sembari menuturkan untuk biaya pengoperasian dan perawatan, di anggaran perubahan 2013 diberikan 700 juta dalam pengadaan lemstone, solar untuk alat, dan tenaga operator untuk tenaga kontrak. (SB-Ijo)

Comments

comments