Antusias para pengunjung pameran seni grafis di Griya Santrian Gallery. |foto-raka|

SULUHBALI.CO, Denpasar – Dengan mengambil tema Passion, 7 orang seniman grafis memamerkan karya mereka di Griya Santrian Gallery, Sanur. Pameran yang berlangsung dari 14 s/d 18 Maret ini dibuka pada Jum’at malam (14/3) dengan dihadiri oleh para seniman yang berpameran, para seniman, tamu asing, curator, dan kolektor. Mereka yang berpameran diantaranya Dewa Gede Purwita, I Gede Riski Soma Himawan, I Kadek Septa Adi, I Komang Sukertayasa (PERIT), I Putu Aditya Diatmika, Komang Prayudi Indra Laksana dan Ni Luh Pangestu Widya Sari.

Ni Luh Pangestu Widya Sari dan karyanya. |foto-raka|
Ni Luh Pangestu Widya Sari dan karyanya. |foto-raka|

Ni Luh Pangestu Widya Sari, salah seorang peserta yang satu-satunya wanita, memamerkan sebuah karya dengan judul “Kusetubuhi Kalian Semua” mengangkat sebuah tema tentang mimpi-mimpi indah siapa saja yang sedang berbaring nyaman diatas kasur empuk tempat tidur. “Saya berangkat dari ide bagaimana sebuah ranjang tempat tidur, dengan kasurnya yang empuk, bantal menghadirkan mimpi-mimpi dari sana. Bisa memimpikan siapa saja disana, bisa memimpikan apa saja disana. Siapa saja bebas menciptakan impian disana,” kata alumni Jurusan Seni Rupa UNDIKSHA Singaraja ini tentang karyanya.

Sementara itu pada karya seni grafis yang lain, seorang Komang Prayudi Indra Laksana memamerkan sebuah karya yang diberi judul “Garuda Yang Tak Pancasila Lagi.” Dengan judul yang menggelitik, mengusik kesadaran kita terhadap keadaan bangsa dalam kekinian. Sayap Garuda yang gagah perkasa itu dihadirkan sayapnya yang kuncup, terlipat ke dalam. Tidak seperti yang jamak kita tahu, sayap Garuda sebagai lambing Negara itu mengepak sayapnya lebar, tegar, gagah dan perkasa. Sosok burung Garuda terlihat tidak gagah dan tegar, dan dihadirkan tanpa gambar ke 5 sila-sila dalam Pancasila, yang kita tahu sebagai Dasar Negara Indonesia. Adakah Komang Prayudi Indra Laksana sudah merasa kehilangan hal yang paling hakiki dan mendasar dari semangat dan nilai kebangsaan kita ? Nilai-nilai kebangsaan, pondasi negara dan bangsa yang makin pupus dan hilang.

Para peserta pameran grafis didampingi kurator dan pengelola Gria santrian. |foto-raka|
Para peserta pameran grafis didampingi kurator dan pengelola Gria santrian. |foto-raka|

Ide, gagasan, tema dan teknik dihadirkan dengan beragam. Dewa Gede Purwita menghadirkan karya yang diberi judul “Revolusi Di Bumi Anarki,” dalam karya seni grafisnya menampilkan sosok presiden Soekarno yang tengah melambaikan tangan dengan senyumnya yang lebar. Disampingnya berisi tulisan : “Apa Kabar Merdeka.” Beda halnya dengan sosok wajah yang khas yang dimilki artis top dunia, Marlyn Moenroe, dijadikan ide karya seni grafis oleh I Gede Riski Soma Himawan. “Dengan tema Passion atau gairah, semangat, kita akan terus berusaha memberi ruang dan memacu gairah kreativitas para seniman grafis khususnya di Bali untuk berkarya.   Meski oleh sebagian masyarakat seni grafis masih dikesankan sebagai seni yang belum seperti seni murni atau seni lukis. Tapi sebenarnya sama saja, sama-sama memiliki keunggulan masing-masing. Ya karena dalam seni grafis dikenal adanya reproduksi, jadi kesannya tidak ekslusive, beda dengan seni lukis,” ungkap I Made Susanta Dwitanaya, yang bertindak sebagai kurator dalm pameran ini. (SB-Raka).

Video-gustiar

Comments

comments

Comments are closed.