Tim Labfor Polda Bali Mencari Penyebab Putusnya “Jembatan Cinta”

Para pelajar harus memanfaatkan perahu pasca putusnya "jembatan cinta" di Nusa Lembongan (foto Ijo).

SULUH BALI, DENPASAR – Polda Bali mengaku masih mendalami penyebab robohnya Jembatan Kuning yang menghubungkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Tim Labfor Polda Bali yang membackup Polres Klungkung sedang melakukan penyelidikan untuk memastikan apa penyebab sehingga jembatan yang berusia 22 tahun tersebut bisa roboh dan menewaskan 8 orang dan luka luka 34 orang. Hal tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Bali, Kombes Anak Agung Made Sudana di Polda Bali, Senin (17/10/2016).

“Setelah berkoordinasi dengan Polres Klungkung, Polda Bali akhirnya menurunkan Tim Inafis secara lengkap untuk menyelidiki kasus robohnya jembatan di Nusa Lembongan,” ujarnya. Saat ini tim Inafis sudah turun dan sedang dilakukan penyidikan. Hasilnya belum ada, tetapi nanti akan diumumkan secara transparan. “Kita belum bisa menetapkan siapa saja yang menjadi tersangka dalam kasus ini, karena prosesnya sedang berjalan. Bila ada bukti dan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan kemudian mengarah ke pihak-pihak terkait maka bisa saja ada tersangka dalam kasus ini,” ujarnya.

Menurutnya, data sementara yang sudah dikumpulkan antara lain diketahui bahwa usia jembatan itu sudah 22 tahun. Materi penyidikan akan berkisar soal usia jembatan yang sudah tua, apakah dilakukan pemeriksaan rutin, kalau ada setiap berapa bulan sekali, kapan pemeriksaan terakhir, siapa yang memeriksa, dan apa hasil pemeriksaan, apakah masih layak digunakan atau tidak, apakah tim pemeriksa melakukan pemberitahuan rutin atau tidak kepada warga sebagai pengguna jembatan tersebut.

“Kondisi di lapangan menunjukan jika besi atau kawat seling jembatan sudah keropos, berkarat karena bersentuhan  langsung dengan air laut. Kapan itu dicek, kenapa masih membiarkan warga melintasi jembatan itu,” ujarnya. Bisa saja ada tersangka dalam kasus ini bila memenuhi unsur kelalaian dari pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap jembatan tersebut.

Agung menambahkan bahwa dalam penyidikan pihaknya akan mencaritahu kapan jembantan tersebut dibuat dan kapan pengawasan terakhir yang dilakukan oleh pemerintah atau instansi terkait. Kondidi jembatan yang posisinya berada ditengah laut yang sifatnya sudah keropos, itu akan menjadi bagian dari pendalaman oleh pihak penyidik. Saat ditanya apakah akan memanggil instansi yang ada hubungannya dengan pembuatan dan pengawasan jembatan ini, Agung menegaskan bahwa pihaknya akan melihat sesuai fakta sebab akibat. Menurutnya, penyidik akan mendalami apa sebenarnya yang terjadi sehingga jembatan tersebut bisa roboh.

Pihak Polda Bali juga belum bisa menetapkan siapa tersangka dalam kasus tersebut karena masih dalam tahap penyidikan. “Tersangka tidaknya nantikan terkait dengan hasil penyidikan. Kalau nantinya sekarang kita sudah ngomong tersangkakan, hasil penyidikan ndak bisa kita sampaikan nantikan salah, biarkan dulu penyidik kami bekerja penyidik nanti akan penyimpulkan,” ujar Mantan Kapolresta Denpasar ini.

Dijelaskan Perwira tiga melati di pundak ini bahwa usia jembatan yang sudah 22 tahun itu biasanya sudah ada masa pengawasan secara kontinue. Selain itu kemungkinan beban (berat) manusia yang melintas di atas jembatan juga menjadi salah satu kemungkinan robohnya. Hingga saat ini tim labfor masih melakukan penyidikan. Agung memastikan bahwa dalam musibah ini tidak ada orang asing baik itu yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka luka. Semua korban adalah orang lokal.

Sementara Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi menjelaskan, saat ini pihaknya sudah menurunkan tim untuk melakukan penyidikan terhadap kasus robohnya Jembatan Kuningan yang menghubungkan Pulau Nusa Lembongan dengan Pulau Nusa Ceningan Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali yang menewaskan 8 orang dan melukai 30 orang dalam insiden yang terjadi pada Minggu malam (16/10) tadi malam sekitar pukul 18-30 Wita.
“Saat ini tim penyidikan sudah diterjunkan ke lokasi jembatan yang roboh. Hasil penyidikan belum bisa diumumkan karena masih dalam proses. Kami meminta masyarakat untuk bersabar karena prosesnya sedang berjalan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (17/10). Ia menjelaskan, saat ini seluruh proses pencarian sudah dihentikan karena tidak ada lagi masyarakat yang mengadukan kehilangan keluarganya pasca upacara agama yang dilakukan semalam.

“Bila tidak ada yang mengadukan kehilangan anggota keluarganya khususnya mereka yang sedang mengikuti upacara agama semalam, maka kami anggap seluruh korban sudah ditemukan baik yang selamat, meninggal, dan luka-luka. Saat ini tidak ada proses
pencarian lagi sekalipun Tim Basarnas, TNI, Polri sudah ada di lokasi,” ujarnya. (SB-Rio)

Comments

comments