Tewaskan 4 Pasien | TNI-AL tak Tutupi Investigasi Terbakarnya Tabung Oksigen “Hyperbaric”

327
Terapi hiperbarik (foto net).

SULUH BALI, Jakarta — Mabes TNI Angkatan Laut (Mabesal) menegaskan tidak akan menutupi hasil investigasi yang dilakukan Puspomal dan Puslabfor Mabes Polri untuk mencari penyebab terbakarnya mesin terapi oksigen ‘Hyperbaric’ di RS TNI AL Mintoharjo pada Senin (14/3).

“Pertama saya ingin menyampaikan sebagai pribadi dan pimpinan TNI AL juga ikut berduka dan berbelasungkawa, atas wafatnya empat pasien yang meninggal dalam chamber yang terbakar. Saya tegaskan kami akan terbuka pada media terkait kasus meledaknya alat terapi tersebut,” ujar Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/3/2016).

Ia menyebutkan, pihaknya akan membuka seluas-luasnya dan menyampaikan kepada publik dengan transparan hasil investigasi penyebab meledak dan terbakarnya mesin Hyperbaric tersebut, apakah dikarenakan kelalaian manusia ataupun karena tidak berfungsinya alat.

“Kita lihat hasil investigasi tersebut, dan TNI AL tidak boleh ada menutup-nutupi, begitu kejadian dilaporkan Karum Mintoharjo, saya langsung ke RS melihat kondisi, dan saya perintahkan investigasi gabungan baik dari Polri, TNI AL, Ikatan Dokter Hyperbaric yang mengetahui secara teknis dan mekanisme apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti tersebut dan penyebabnya,” jelasnya.

Saat ini, kata mantan Kasum TNI itu, tim investigasi dari Pomal, Puslabfor Polri, dan Ikatan Dokter Hyperbaric tengah bekerja menyelidiki lebih mendalam peristiwa kebakaran tersebut.

“Kejadian kebakaran ini memang terus kita cari penyebabnya. Saya tidak akan berandai-andai dan menyerahkan sepenuhnya kepada tim dari Puspomal dan Mabes Polri untuk mendeteksi dan mengetahui penyebab kebakaran apakah karena kelalaian atau hal lainnya,” tambah Ade.

Ia mengatakan, kejadian kebakaran pada alat terapi tersebut adalah sesuatu yang sangat tidak diharapkan, karena alat itu bila dilihat dari fungsinya sebenarnya digunakan untuk pengobatan efek dekompresi pada penyelam TNI AL dalam misi-misi di bawah laut.

“Sehingga apa ada kelalaian atau malfungsi itu nanti didasarkan pada laporan investigasi tim gabungan. Saya sudah melaporkan kepada Panglima TNI tentang pembentukan tim investigasi gabungan tersebut dan hasilnya akan diberitahukan kepada publik, tapi pada dasarnya teknologi apapun itu harus aman digunakan,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan mesin terapi hyperbaric bukan hanya RS TNI AL saja yang menggunakan, tetapi adapula rumah sakit lainnya yang menggunakan metode sejenis. Dengan dibukanya hasil investigasi, maka publik bisa tahu bagaimana pencegahan dan manfaat dari alat tersebut yang selalu bergandengan, tuturnya.

“TNI AL sudah menggunakan metode hyperbarik dari tahun 1960 dan digunakan untuk mengobati efek dekompresi sebagai akibat dari penyelaman di dalam laut. Awal tahun lalu kita pakai untuk sembilan penyelam yang melakukan operasi penyelamatan di dalam kecelakaan ‘ Air Asia’. Saya sendiri baru dua bulan lalu di-hyperbaric,” ucap Ade Supandi.

Empat orang pasien yang berada di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, dilaporkan tewas karena terjadi kebakaran di ruang tabung chamber Pulau Miangas Gedung Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT), Senin siang (14/3).

Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksma M Zainudin, ketika dikonfirmasi di Jakarta, Senin, membenarkan adanya insiden tersebut.

“Kebakaran, bukan ledakan. Itu kejadian dalam tabung chamber. Untuk pengobatan kesehatan,” ujar Kadispenal.

Ruang tersebut, lanjut Zainudin, diisi empat pasien, sehingga keempat pasien tersebut meninggal. Empat pasien yang meninggal, yakni mantan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol (Purn) Abubakar Nataprawira (65), Edi Suwandi (67), Dima (28) dan Sulityo (54), yang merupakan anggota DPD RI sekaligus sebagai Ketua Umum PGRI. (SB-ant)

Comments

comments