Terdapat Unsur Sains dan Teknologi pada Ritual Hindu

158
Drs. Ketut Donder, M.Ag,.Ph.D, saat Bedah Buku Unsur-unsur Sains dan Teknologi Dalam Ritual Hindu. (foto-rk)

SULUH BALI, Denpasar – Saat melaksanakan ritual atau upacara kita sudah terbiasa mendengarkan suara tabuh atau gamelan gong. Gamelan ini termasuk salah satu dari Pancanada (lima unsur suara). Yaitu kulkul, gamelan, kidung genta dan mantra. Selain itu ada pada ritual tertentu ada sunari. Bedanya gamelan dibunyikan oleh manusia, sedangkan suara sunari dibunyikan oleh alam akibat tertiup angina.

Banyak ilmuwan yang meneliti efek bunyi terhadap psikologi, kesehatan, maupun makna-makna lainnya. Bunyi merupakan puncak nada-nada yang asli atau nada-nada sukma atau melodi jagat raya (makrokosmos). Sebaliknya nada-nada puncak seperti ini juga ada dalam tubuh manusia (mikrokosmos). Bunyi sunari ini merupakan simbol bunyi manifestasi Tuhan yang keluar dari masing-masing kelopak cakra.

Jadi bunyi atau nada tersebut memiliki efek kosmologis yang dapat mempengaruhi keseimbangan vibrasi tubuh manusia yang juga berefek pada vibrasi alam semesta. Sehingga dari nada tersebut dapat menyeimbangkan vibrasi alam semesta (buana agung) dan vibrasi manusia (buana alit).

Begitupun dengan mantra. Mantra yang digunakan oleh para pinandita dan para pandita Hindu di Bali mampu menghasilkan energy suci dan dapat mempengaruhi partikel-partikel air ketika mantram digunakan saat membuat tirtha (air suci). Hal itu sudah pula dibuktikan oleh peneliti dari Jepang, Masaru Emoto, seperti yang sudah ditulis dalam bukunya, The Miracle of Water.

Vibrasi mantram atau kata-kata menghasilkan energy yang dapat mempengaruhi setiap partikel sub-atom (electron) atom dari air, udara dan sebagainya.

Demikian Drs. I Ketut Donder, M.Ag,.Ph.D, Ketua Program Studi Doktor (S3) Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar, pada buku : Unsur-Unsur Sains dan Teknologi Dalam Ritual Hindu : Analisis Kritis Terhadap Beberapa Sarana dan Pelaksanaan Ritual Hindu Pendekatan Interdispliner. Yang dibedah dan diseminarkan di Gedung Pasca Sarjana IHDN Denpasar, Selasa (24/10/2017).

Ketut Donder menjelaskan, secara hukum ilmu fisika atau teori-teori ilmu fisika, semua aktivitas dan penggunaan berbagai sarana dalam ritual Hindu dapat dipahami dan dijelaskan tanpa ragu. Sebab, ajaran Hindu maupun ilmu fisika sama-sama mengakui bahwa dunia ini adalah himpunan tak terhingga yang bersumber dari Energi. Salah satu wujud dari energy itu adalah gelombang. Pikiran juga merupakan gelombang. Maka dapat disebut gelombang pikiran.

“Menyadari alam semesta sebagai satu kesatuan gelombang, maka setiap aktivitas termasuk aktivitas ritual, maka aktivitas itu sama artinya dengan komunikasi tingkat energy,” jelasnya.

Mantan pengajar ilmu fisika ini juga menjelaskan, bahwa pengetahuan Hindu merupakan satu kesatuan antara pengetahuan spiritual dan pengetahuan material atau pengetahuan aparavidya dan paravidya (sekala dan niskala). Dewi Saraswati adalah aspek atau manifestasi Tuhan sebagai penguasa ilmu pengetahuan. Karena itu semua ilmu pengetahuan, baik material maupun yang spiritual itu berpusat pada Dewi Saraswati (Dewi Ilmu Pengetahuan).

Bahwa apa yang disebut sebagai pengetahuan (Veda) adalah ilmu pengetahuan yang melingkupi seluruh sistem pengetahuan. Baik pengetahuan spiritual-sakral (paravidya) maupun pengetahuan material-propan (aparavidya).

“Agama kita tidak monoton. Tapi mengandung pengetahuan sekala niskala. Itu banyak sekali bukunya. Kalau kita mau menelanjangi ilmu pengetahuan sekala niskala di buku-buku Upanisad Utama dilihat. Di Upanishad itu sudah dapat itu rahasia pengetahuan sekala niskala itu,” katanya seraya menceritakan bahwa saat ini makin banyak ilmuwan barat yang menelisik buku-buku Upanisad.

Hal senada juga dikemukakan oleh Dokter I Wayan Mustika. Menurutnya, dalam ritual Hindu khususnya di Bali banyak terdapat ilmu pengetahuan namun oleh leluhur kita seperti “disembunyikan”. “Pesan atau kandungan ilmu pengetahuannya dibungkus, “mekulit”. Seperti buah mangga, siapa yang mau makan dan menikmatinya, dialah yang mesti mengupasnya,” urai Dokter yang juga seorang penulis buku ini.

Termasuk yang ia ketahui, dalam pembuatan sanggah atau rumah para leluhur sudah mengatahui ilmu ergonomi. “Bangunan yang dibuat setelah jadi bisa menimbulkan kenyamanan bagi yang menghuninya. Pantas dan cocok dengan yang menempatinya,” tambahnya.

Dia juga paparkan, bahwa matahari yang menjadi sumber kehidupan di alam semesta ini oleh para bijak jaman dulu sudah disadari. Sinar sangat menjadi hal yang sangat penting, maka Dewa atau Deva, dari kata Dev yang artinya sinar.

“Dalam ritual sinar itu disimbolkan dengan warna. Memang sangat tepat sinar atau cahaya akan berubah menjadi warna. Sehingga sinar itu diwakili oleh warna di masing-masing penjuru atau arah mata angin. Yang dikenal dengan Dewata Nawa Sanga dengan warnanya masing-masing. Dalam caru, warna ayam misalnya sesungguhnya terkait dengan energi dari sinar atau cahaya itu,” jelasnya.

Saat ini, menurut Ketut Donder, semakin banyak penelitian dilakukan di lab terhadap ritual Hindu. Misalnya penelitian terhadap ritual Agnihotra. Ritual Agnihotra diyakini berdampak positif terhadap yang melaksanakannya, lingkungan sekitar, bahkan mampu memulihkan keseimbangan alam. Bahkan tradisi ritual yang sudah sangat tua tersebut, diyakini bisa memperbaiki kerusakan alam yang diakibatkan ulah manusia.

Hanya saja, menurutnya konflik pemahaman ritual sejak lama hingga kini tetap berlangsung. “Hal ini semakin menjadi ketika orang-orang intelektual tidak paham tentang hakikat ritual tetapi mencoba menafsirkan ritual. Akhirnya orang awam tidak percaya dengan pemahaman para intelektual. Dan sebaliknya orang yang intelek sinis terhadap ritual,” ungkapnya.

Hadir juga sebagai pembedah buku tersebut, Prof. Dr. Ir. I Made Antara, MS, Guru Besar dari Fakultas Pertanian UNUD, Dr. I Wayan Mustika, I Gusti Ketut Widana, Gede Ngurah Wididana (Pak Oles), Mas Ruscita Dewi. Diikuti para Dosen, Sulinggih dan para mahasiswa. (SB-Rk)

Comments

comments