Terdakwa Parkir Bandara Ngaku Dirut “Papan Nama”

258

SULUHBALI.CO, Denpasar — Terdakwa kasus korupsi pengelolaan dana retribusi parkir Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali Chris Sridana mengatakan dirinya hanya seorang direktur utama “papan nama” saja, sedangkan yang menjalankan semua teknis dari PSB adalah Putu Agung Priyantha. Selain itu dia mengaku hanya menempati posisi sebagai humas dan melakukan hubungan bisnis dengan PT Angkasa Pura I di Bandara Ngurah Rai. Hal ini disampaikan Chris di depan majelis hakim yang mengadilinya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar, Kamis (3/4).

“Yang lebih mengetahui permasalahan teknis adalah komisaris yang dalam kenyataannya merangkap sebagai Dirut PSB yaitu Putu Agung Priyantha,” katanya.

Saat ditanya oleh anggota Majelis Hakim Nurbaya Goal kenapa Chris Sridana yang bertandatangan dalan surat kontrak antara PSB dan PT Angkasa Pura I, dia menerangkan bahwa sebelumnya dijanjikan pengelolaan PSB akan berjalan dengan baik oleh para pemegang saham mayoritas.

“Waktu itu saya hanya disuruh duduk manis dan perusahaan dijalankan oleh orang-orang profesional,” ujarnya.

Selain itu terdakwa mengaku pernah diberi tahu oleh Putu Agung Priyantha bahwa perusahaan tersebut telah berjalan dengan baik dari tahun 2001 hingga 2011. “Namun setelah audit oleh SPI (Satuan Pengawas Intern) PT Angkasa Pura ada kurang bayar parkir dari tahun 2008 hingga 2011,” katanya.

Terkait dengan rekening pribadinya di Bank BCA, Chris Sridana menjelaskan itu adalah rekening yang dibuat untuk menalangi pembayaran gaji karyawan PSB dan pembelian logistik perusahaan serta untuk menyimpan uang dari hasil sejumlah perusahaannya yang lain di Bandara Ngurah Rai. “Jika ingin mengeluarkan uang di PSB harus seizin Putu Agung Priyantha. Namun yang bersangkutan jarang ada di kantor,” katanya.

Selain Chris Sridana, kasus tersebut telah menetapkan tiga terdakwa lain yakni Indra Purabarnoza (General Manager PSB), Mikhael Maksi (Manager Oprasional PSB), Rudi Jhonson Sitorua (staf Administrasi PSB), dan seorang tersangka baru yaitu Silvia Kunti (mantan Manager Keuangan PSB).

Selama periode 1 November 2009-8 Desember 2011 pendapatan dari pengelolaan parkir bandara itu mencapai Rp29,27 miliar. Namun perusahaan tersebut hanya menyetorkan Rp8,45 miliar kepada Angkasa Pura sehingga ada selisih Rp20,82 miliar.

Pada periode Oktober 2008-Oktober 2009 pendapatan parkir bandara itu mencapai Rp10,52 miliar, namun yang disetorkan hanya Rp3,34 miliar sehingga ada selisih Rp7,18 miliar. (SB-ant)

Comments

comments