Teknologi Iradiasi Perpanjang Usia Makanan

86
Ketua Badan Teknologi Nuklir Nasional, Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto. |foto-ijo|

SULUH BALI, Mangupura – Saat ini pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya digunakan sebagai energi alternatif namun kini sudah diaplikasikan ke berbagai sektor salah satunya proses pengawetan makanan yang bertujuan untuk mempertahankan mutu dan higienitas makanan yang disebut teknologi iradiasi.

Salah satu pemanfaatan teknologi iridasi dari teknologi nuklir digunakan dalam pengawetan makanan yang tidak meningkatkan suhu makanan tersebut. Sehingga makanan tersebut memiliki posisi tawar yang tinggi khususnya untuk mempersiapkan makanan agar tetap higienis meskipun dalam penyimpanan jangka panjang.

“Jadi teknologi iradiasi ini bisa juga dimanfaatkan untuk pedistribusian makan kepada para korban atau pun penderita suatu penyakit di daerah terisolir yang membutuhkan waktu yang cukup lama agar makan tersebut bisa tiba disana. Karena, biasanya makanan itu bisa tahan lama bahkan sampai berbulan-bulan, tanpa mengubah kulitas produk secara keseluruhan” kata ketua Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto , Senin (24/11/2014).

Dengan menggunakan alat yang diberi nama iridiator yang bersumber dari pobag dan irasio yang kemudian mengeluarkan sinar yang dikenai pada makanan atau komoditas lain yang tadinya hanya memiliki jangka waktu yang singkat, karena sinar itu berfungsi membunuh mikroorganisme yang membuat busuk makanan tersebut.

Proses iridiasi sendiri tidak dapat dilakukan pada makanan pada jenis tertentu seperti sayuram segar, es krim, dan produk mentah ataupun semi olahan lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan daya imun tubuh rendah.

Menurutnya, kualitas makanan yang menggunakan teknologi iradiasi jauh lebih aman karena tidak tercampur dengan zat kimia. “Teknologi iridiasi memiliki skala tertentu sehingga akan aman tanpa mengurangi rasa dan tanpa bahan kimia jadi tidak beracun. Makanan itu juga bisa tahan lama, itulah kelebihan makanan menggunakan iridiasi dibandingkan bahan kimia,” ujarnya.

Teknologi iridiasi bukanlah teknologi baru bahkan teknologi ini sudah ada sejak 30 tahun lalu hanya saja belum populer di kalangan masyarakat tentang adanya teknologi iridiasi. Bahkan makanan dari indonesia di export pasti melalui iridiasi.

“Mungkin ibu Susi sudah bercerita kalau udang kita kalau mau diexport salah satu persyaratannya harus bebas dari mikroorganisme. Tidak diiridiasi di negara kita bahkan itu malah diiridiasi di eropa, itu yang kita sayangkan. Coba kalau kita iridiasi disini mungkin justru akan memberikan nilai tambah, jadi ini yang lagi kita dipromosikan,” papar Djarot. (SB-Ijo)

 

Comments

comments

Comments are closed.