Suka Arjawa : Radikalisme Orang Bali antara Jengah, Puputan dan Caru

Dekan Fisip Unud Suka Arjawa sedang memaparkan pendapatnya (foto wan).

SULUH BALI, Denpasar – Bali merupakan pulau yang penuh dengan nilai kearifan lokal, yang mana bahkan memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan paham terorisme.
Menurut pengamat politik yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, Dr. Drs. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si setidaknya ada tiga Kearifan lokal mewakili radikalisme orang Bali, yakni Jengah, Puputan Dan Caru.

”Bali punya konsep radikalisme, caru sebagai korban suci. Ayam yang dipersembahkan di pura akan memberikan kemakmuran kepada yang lain, bagaimana terus manusia jadi caru?. Masuk surga dong?,” jelasnya pada kegiatan Seminar Nasional bertema “Kala Radikalisme Merambah Dunia Akademik”dI Gedung Agrokomplek, Unud, Jumat (26/02/2016), yang diselenggarakan oleh KNPI Bali.

Kemudian radikalisme selanjutnya adalah puputan yakni sebuah perang habis-habisan. Puputan pernah dilakukan pada saat perang melawan penjajah, dimana kemudian, ketika mati dalam puputan dianggap sebagai seorang pahlawan.

“Mati sebagai puputan dianggap sebagai pahlawan, berapa puputan di Bali? puputan Jagaraga, puputan Klungkung, puputan Badung, puputan Margarana,” terangnya. Arjawa menambahkan ketika konsep puputan dan caru kemudian digabung, maka akan munculah kekuatan radikalisme gabungan orang Bali yang tentu akan lebih besar lagi. “Gabung caru ditambah puputan, mati ditambah mati masuk sorga ditambah pahlawan lebih hebat lagi korbannya.”

Kemudian ada yang namanya jengah berhubungan pada dorongan psikologis masyarakat orang Bali dalam melakukan sebuah tindakan.

“Jengah adalah faktor yang luar biasa, ada unsur balas dendam, ada unsur malu, ada unsur ambisi, ada unsur maksimal, ada unsur sempit habis,” terang Arjawa.

Ketiga kearifan lokal orang Bali ini digabung yakni jengah, caru dan puputan, maka gabungan ketiga unsur ini akan menjadi titik kemarahan besar bagi orang Bali, “sekarang jengah ditambah puputan ditambah caru apa jadinya?” tanya Arjawa. Oleh karena itu, ia berharap agar tidak mencoba untuk menganggu masyarakat Bali dengan paham-paham radikal seperti paham teroris yang mampu membangkitkan semangat radikalisme alami masyarakat Bali, “maka hati-hati di Bali,” ujarnya. (SB-Skb)

Comments

comments