Sudikerta Apresiasi Warga Bugbug Perantauan Gelar Ngaben Kinembulan

77
Wagub Sudikerta saat menghadiri upacara ngaben kinembulan di Buleleng (foto humas.Bali).

SULUH BALI, Buleleng — Kebersamaan warga Bugbug di perantauan, khususnya di Singaraja dalam rangkaian pelaksanaan Pengabenan Kinembulan mendapat apresiasi Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang hadir pada Minggu (03/9) sore pada rangkaian Ngaben Kinembukan II Tahun 2017, Ikatan Warga Bugbug (IWB) Singaraja, di Kampung Anyar, Buleleng.
Menurut Sudikerta, hal ini merupakan wujud gotong royong warga Bugbug di perantauan yang patut di apresiasi dan di contoh oleh warga lainnya.

“Selain memudahkan masyarakat dalam pembiayaan, Pengabenan Kinembulan yang dilakukan juga mampu meningkatkan semangat gotong royong yang tentunya lebih menguatkan rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan ditengah-tengah warga bugbug di perantauan,” ujar Sudikerta.

Ditambahkan Sudikerta, masyarakat diminta tidak malu dengan pelaksanaan Ngaben secara bersama atau massal. Menurut Sudikerta, terkadang masyarakat terpaku agar terlihat punya atau mewah dengan melaksanakan Ngaben secara pribadi. “Masyarakat jangan malu kalau melaksanakan Ngaben secara Massal karena takut tidak terlihat mewah,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sudikerta juga mengajak masyarakat untuk selalu menjaga tatanan pelaksanaan upacara sesuai dengan tatwa untuk mampu menciptakan keharmonisan secara sekala dan niskala.

Sementara itu Ketua Panitia Pengabenan Kinembulan II IWB Singaraja Tahun 2017, Ida Bawati Rai mengatakan, dalam kegiatan kedua kali pengabenan bersama itu dilakukan, IWB Singaraja membuka diri untuk mengajak masyarakat diluar warga desa bugbug diperantauan untuk terlibat secara langsung dalam pengabenan tersebut.

“Selain dari desa Bugbug sendiri, ada juga dari kaliuntu, dari kampung anyar, dari blahbatuh, dari banjar jawa dari kelurahan banyuasri yang mengikuti acara ini,” papar Ida Bawati Rai. Ditambahkan Ida Bawati Rai, secara keseluruhan pada puncak Pengabenan Kinembulan melibatkan 93 ngaben/sawa, 166 nyekah, 16 ngelungah dan 81 ngerapuh.

Disisi lain, Ketua IWB Singaraja, Gde Wisnaya Wisna mengakui, kegiatan pengabenan kinembulan telah menjadi agenda tetap setiap empat tahun, di mana kegiatan yang dilakukan secara bersama ini mampu mendorong warga untuk melakukan pengabenan secara murah, sehingga tidak menjadi beban secara turun-temurun. Wisnaya mengatakan, dalam pelaksanaan pengabenan kinembulan tahun ini, keluarga yang terlibat didalamnya hanya dikenakan biaya sebesar dua juta rupiah.

“Dengan biaya yang kita tekan semurah mungkin mereka bisa kemudian mengangkat leluhurnya untuk diproses dalam pengabenan itu, nah tentunya juga dari sisi wewidangan tidak lagi banyak bebatang yang ada dibawah, tertanam puluhan tahun,” ujarnya. (SB-hum.Bali)

Comments

comments