Sudiantara Ditetapkan Tersangka Korupsi PD Parkir Denpasar Rp 15 M

2958
Nyoman Sudiantara (foto rk)

Kuasa Hukum : Ada Pesan Sponsor

SULUH BALI, DENPASAR –  Agus Sami Jaya selaku kuasa hukum Dirut PD Parkir Nyoman Sudiantara mengaku kaget ketika membaca pemberitaan di media bahwa kliennya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Denpasar dalam Kasus korupsi PD Parkir Kota Denpasar.

Sebagaimana diberitakan, Kajari Denpasar Imanuel Zebua telah memberikan pernyataan resmi terkait penetapan Nyoman Gede Sudiantara alias Punglik menjadi tersangka korupsi Perusahaan Daerah (PD) Parkir Denpasar, Senin (20/6). Saat itu, sejumlah media bertanya soal kasus-kasus yang pernah ditanganinya selama menjadi Kejari Denpasar.

Dalam penjelasan tersebut, Zebua menyebutkan jika tidak ada utang kasus-kasus besar selama dirinya menjadi Kajari, termasuk kasus dugaan korupsi PD Parkir yang melibatkan Nyoman Gede Sudiantara.  “Kasus dugaan korupsi PD Parkir Kota Denpasar juga sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya.

Dijelaskan  tersangka utama kasus korupsi PD Parkir bernama Nyoman Sudiantara,  terkait penyalahgunaan pengelolaan keuangan PD Parkir Denpasar dan juga penyimpangan penggunaan mengenai penempatan uang PD Parkir pada asuransi. Mulai dibukanya koperasi dan asuransi selama kurang lebih dari 9 tahun. Dengan kerugian sekitar Rp 15 Miliar.

Zebua sebagai Kejari Denpasar digantikan oleh Erna Normawati Widodo.

Anehnya, penetapan tersangka Nyoman Sudiantara sendiri tidak diketahui oleh tersangka maupun oleh kuasa hukumnya. Menurut Agus Samijaya, soal pengumuman tersangka oleh mantan Kajari Denpasar Imanuel Zebua, mengaku baik dirinya maupun klien serta keluarganya belum pernah mengetahuinya.

“Kami belum membaca, baik dalam bentuk surat penetapan atau surat pemanggilan terhadap klien kami sebagai tersangka. Hanya pada tanggal 10 Juni pernah dipanggil sebagai saksi dan klien kami memenuhi panggilan tersebut. Tiba-tiba kami merasa kaget, katanya diumumkan kepada media, bahwa Punglik tersangka.”

Agus Sami Jaya (foto rio).
Agus Sami Jaya (foto rio).

Menurut Agus hal itu aneh , karena itu Zebua tidak lagi memiliki kapasitas dan otoritas lagi, dan melangkahi kewenangan Kajari yang baru. “Zebua sudah melangkahi kewenangan Kajari yang baru,” jelas Agus di kantornya di Denpasar, Selasa (21/6) sore kemarin.

Menurut Agus, dalam rentang waktu antara tanggal 10 Juni sampai 20 Juni seharusnya kalau mau ditetapkan sebagai tersangka, maka bisa dilakukan dalam rentang waktu itu. “Dugaan kami, jangka waktu tanggal 10 sampai Sertijab sangat panjang, bukan malah pada saat Sertijab ditetapkan sebagai tersangka,” imbuhnya.

Pihaknya pun menduga bahwa penetapan tersangka atas kliennya ini sepertinya ada pesan sponsor, sehingga diumumkan ke publik pada saat Sertijab. “Boleh donk kita menduga seperti itu. Ini semacam pembunuhan karakter,” sambungnya.

Atas sikap Zebua  yang mengumumkan kliennya sebagai tersangka dengan cara yang tidak resmi tersebut, para kuasa hukum akan bertemu dengan keluarga untuk melakukan kajian secara mendalam.

“Kami sedang mengkaji untuk melakukan langkah hukum. Baik kuasa hukum maupun klien kami belum pernah terima surat penetapan sebagai tersangka, tetapi diumumkan ke publik. Kami masih meragukan hal tersebut. Karena kami masih ragu, maka kita tidak bisa mengambil langkah hukum. Kalau benar ada apa? Kami tidak tahu apakah ini berkaitan dengan aktivitas Pak Nyoman, karena kami belum memastikan apakah sudah tersangka secara formal.  Kalau pun surat itu datang, pasti ada langkah hukum. Masa belum ditetapkan, sudah diumumkan terlebih dahulu. Ini adalah pembunuhan katakter tersangka. Karena kami dapat informasi ini dari media, maka kami juga klarifkasi ke media,” lanjutnya.

Kuasa hukum tersangkapun masih melakukan kajian secara mendalam terkait penetapan kliennya sebagai tersangka. Selain itu, pihaknya pun akan melakukan langkah hukum terhadap penetapan tersangka ini.   (SB – Rio)

Comments

comments