Penyalonarangan Sanggar Gita Bandana Praja Kota Denpasar pada Gelaran Bali Mandara Mahalango III. |foto-skb|

SULUH BALI, Denpasar – Gelaran Bali Mandara Mahalango III, Rabu (13/7/2016) di Kalangan Ayodya dipentaskan Penyalonarangan Sanggar Gita Bandana Praja Kota Denpasar dengan suasana magisnya.

Sejak pukul 20.00 WITA pergelaran penyalonarangan sudah di mulai dengan diawali tarian Barong dan tari sisya panglebar. Dari sejak awal pementasan lampu yang ada disekitaran kalangan Ayodya dipadamkan.

Lakon yang diambil dalam penyalonarangan berjudul “Manas mas pegeger Mangku Dalem”. Memceritakan kisah Kyai Anglurah Pemayun penguasan Kesiman yang meminta pertolongan kepada Jero Mangku Dalem Tebawu dengan Manas (nenas) mas pengeger yang dimilikinya untuk menyerang Mengwi.

Sebagai sebuah perintah penguasa, Jero Mangku Dalem Tembawu mengajak para pengikutnya yang bisa ngleak untuk menyerang kerajaan Mengwi dan ahirnya dengan Manas Mas mampu mengalahkan kerajaan Mengwi.

Aura magis penyalonarangan Sanggar Gita Bandana Praja terpuncak pada tengah malam yang diawali dengan atraksi bangke-bangkean yang sebelumnya diarak disekitaran Art Center dibawa ke tengah kalangan Ayodya.

Di tengah kalangan diupacarai, dan dipercikan tirta dan segala upakaranya. Disertai dengan mematikan lampu sehingga terjadi keheningan di sekitaran kalangan Ayodya meskipun malam itu penuh sesak oleh penonton.

“Penyengker wantah wenten ring sedajan tukad (pembatas niskala hanya ada di utara sungai),” ucap seseorang yang menjadi pengundang seraya memberikan peringatan penonton untuk tidak berada di selatan sungai yang ada di sekitaran kalangan Ayodya, Art Center.

“Titiyang tenten je tanggung jawab yen wenten punapa-punapi ring sedelod tukad (saya tidak bertanggung jawab jika ada kenapa-kenapa kalau berada di selatan,” imbuhnya mengingatkan penonton untuk tetap waspada agar tidak meninggalkan areal pertunjukan. (SB-Skb)

Comments

comments