Struktur Ini yang Belum Diketahui Umat saat Sembahyang di Pura Penataran Agung Besakih

9500

SULUH BALI, Denpasar – Persembahyangan di pura Besakih sering belum dipahami proses pendakian spiritualnya khsusunya pada struktur pura Penataran Agung yang masing-masing teras memiliki nilai pemaknaan spriritual.

Prof. I Wayan Sukayasa, M.Si, Guru besar Ilmu Sastra Daerah (Jawa Kuna dan Bali) Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar pada Stadium General “Teologi Bali” Kajian Metafisika Tradisi dan Keyakinan Umat Hindu di Bali yang diselenggarakan Program S3 Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar mengemukakan struktur pura Besakih adalah sebuah teks, buku, kitab suci dalam memahami teologi Hindu di Bali.

“Dalam Raja purana Besakih dikaji untuk mengetahui teologi yang sesungguhnya ada di Besakih dan itu merupakan refresentasi pokok-pokok teologi Hindu dan pokok pikiran tentang teologi Hindu di Bali,” ungkap Prof. Sukayasa.

Teologi Hindu Bali menurut Prof. Sukayasa dapat dipahami dari struktur pura Penataran Agung Besakih. Pada Penataran Agung Besakih terdapat enam teras yang masing-masing memiliki fungsi dan makna spriritual.

Pada Teras I terdapat pura Luhuring Ambalambal pada teras I di candi bentar ada bale pegat yang memiliki makna berhubungan dengan pegat sot sebagai proses penyucian dosa atau penyucian diri sebelum sembahyang.

Teras II ada Meru tumpang 9 stana Ratu Kubakal diadakan Upacara ngingsah berhubungan dengan pemujaan Dewi Sri dan Meru tumpang 11 stana Bhatara Manik Maketel (Rambut Sedana), padma tiga dan pesamuan.

Teras III ada Meru tumpang 7 stana Ratu Geng atau Ratu Lingsir (I Dewa Tureksa atau I Dewa Pengandika) dan Meru tumpang 3 stana ratu Maspahit (penyimpan pratima).

Pada teras IV ada Meru tumpang 11 sebagai stana Ratu Sunaring jagat atau Bhatara Raditya.

Teras V ada Meru tumpang 11 stana Bhatara Dewa Wisesa (Indra) dan Meru tumpang 3 Ratu Magelung.

Teras VI ada pelinggih Bhatara Dewa Bukit, Bukit Tengen dan Bukit Kiwa sebagi refresentasi dualism.

Teras terakhir, paling puncak ada teras kosong yang tidak ada pelinggihnya sebagai sunia atau kosong.

Pendakian spiritual pada persembahyangan pura Penataran Agung Besakih pertama diawali dengan pegat sot sebagai penyucian diri, kemudian meningkat pemujaan Ratu Basa (Ratu Kubakal dan Ratu Manik Maketel) pemujaan Rambut Sedana (Artha), kemudian meningkat pemujaan kepada Ratu Lingsir (Tuhan sebagai Guru).

Kemudian meningkat pemujaan kepada Bhatara Sunaring Jagat (Tuhan Sebagai Urip Prana) kemudian naik lagi pemujaan Bhatara Wisesa (Tuhan Mahakuasa), kemudian meningkat pemujaan kepada Ratu Bukit Kiwa-Tengen konsep dwaita. Ahirnya pada puncak mencapai sunya (kosong) sebagai refresentasi konsep adwaita. (SB*)

Comments

comments