Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda (berdiri) bicara dalam rapat membahas AMDAl (foto rka).

SULUH BALI, Denpasar – Tim Sembilan Sulinggih PHDI Pusat untuk mengkaji kesucian Teluk Benoa sarankan “Medewa Saksi” terkait janji kemanfaatan atas rencana proyek reklamasi yang diadakan di Teluk Benoa.

“Jaminan apa secara niskala? mari kita semua melaksanakan Dewa Saksi Di Pura Besakih,” ucap Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda mewakili lima Sulinggih PHDI yang hadir dalam Rapat Tim Teknis Komisi Penilai Amdal Revitalisasi Teluk Benoa, Jumat (29/1/2016).

Ida Mpu berharap, aspek manfaat yang dijanjikan oleh pengelola yang salah satunya tentang menyediakan banyak mata pencaharian hidup tidak berbalik malah membuat masyarakat Bali menderita.

“Jangan sampai jadi merta metemahan wisya artinya banyak ditabur rejeki tetapi membuat menderita,” harapnya.

Sementara itu, terkait dengan desakan pihak-pihak tertentu terhadap keputusan Tim Sembilan Sulinggih PHDI tentang kawasan suci Teluk Benoa, Sulinggih masih berhati-hati bersikap karena hal ini menyangkut orang banyak.

“Ketika Teluk Benoa dijadikan kawasan suci itu akan menjadi senjata ampuh, tetapi kami harus hati-hati,” jelas Ida Mpu.

Namun Ida Mpu kembali mengingatkan bahwa Sabha Pandita hanya memiliki kewenangan dalam aspek teogis (Ketuhanan), di luar itu adalah kewenangan masing-masing ahli di bidangnya.
“Kami harus melihat lima hal yakni aspek teologis, politik, idiologi, dampak dan teknis, aspek teologi kami hanya punya doa dan punya Tuhan kami tidak punya apa,” terangnya.

Ida Mpu juga kembali menekankan bahwa Sulinggih tidak mau ikut dalam politik praktis dalam menentukan masalah Teluk Benoa ini, “parisada tidak ada pada posisi politik pragmatis disini,” terangnya.

Dalam menentukan sikap, Sulinggih tidak akan terpengaruh oleh siapapun, namun tetap dengan konsistensi dan kajian yang lebih mendalam.

“Kami tidak mengikuti arah angin, jika angin ke timur kami ke timur tidak, tetapi sulinggih tetap,” ujar Ida Mpu. (SB-Skb)

Comments

comments