Siwaratri Persaingan Dalam Pengendalian Diri

1
668

SULUHBALI.CO, Denpasar – Umat Hindu di Bali merayakan Siwaratri, hari perenungan setiap 420 hari sekali yang kali ini jatuh pada hari ke-14 paruh gelap bulan ketujuh (panglong ping 14 sasih kepitu), Rabu-Kamis, 29-30 Januari 2014.

Perayaan Siwaratri dipusatkan di Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Pulau Dewata yang berlokasi di kaki lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, sekitar 80 km timur Denpasar.

Kegiatan serupa umumnya juga berlangsung di setiap pura desa adat di Bali, yang dihadiri sebagian besar warganya. Rangkaian kegiatan ritual yang dilakukan selama 36 jam itu menyangkut beratha pengendalian diri.

Sejumlah pantangan yang harus dilakukan antara lain tidak makan dan minum (upawasa), begadang (jagra) semalam suntuk), atau mona brata (tidak berbicara).

Pengamat budaya dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr Ketut Sumadi menilai perayaan hari Siwaratri belakangan ini kian semarak, tidak hanya terbatas di sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga di tengah-tengah desa pakraman dan kelompok-kelompok masyarakat yang tergabung dalam suatu pasraman.

Semangat merayakan Siwaratri mulai terasa dari persiapan umat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa memaknai malam Siwaratri melalui kegiatan persembahyangan, brata, dharmatula (diskusi), dan pertunjukan kesenian seperti wayang kulit, topeng, arja, dan lain-lain yang bernuansa religius.

Suasana kampus-kampus atau sekolah-sekolah di Bali pada malam Siwaratri umumnya meriah. Demikian pula di pura-pura, balai banjar, tempat pesantian, atau tempat-tempat suci lainnya.

Dr Ketut Sumadi yang juga Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar menambahkan, aliran posmodernisme mencapai puncaknya pada tahun 1972 dalam bidang arsitektur.

Kelahiran posmodernisme tidak bisa lepas dari gerakan sosial politik di Barat. Abad 17 dan 18 di Eropa yang disebut sebagai Abad Pencerahan, suatu periode atau gerakan yang menimbulkan konsekuensi sosio-politik dan kultural secara luas ke seluruh dunia Barat modern.

Periode tahun 1890-an sampai 1920-an dapat diperhitungkan sebagai kejayaan modernisme yang menunjukkan perbedaan dengan masyarakat pramodern atau tradisional yang berkembang sebelumnya.

Sedangkan istilah modernisasi berkaitan dengan keseluruhan proses atau upaya untuk menjadikan satu budaya menjadi modern. Posmodernisme merupakan kultur yang berkembang mengikuti transformasi yang mulai terjadi sejak akhir abad ke-19, yang kemudian perkembangan itu mengubah semua aturan permainan dalam ilmu pengetahuan, seni, sastra, dan lain-lain.

Di Indonesia pembicaraan tentang “postmodern” mulai hangat tahun 1990-an di kalangan intelektual, membuka kesempatan luas bagi manusia untuk menentukan dirinya, yang akhirnya bermuara pada sikap nihilisme, yakni suatu sikap yang menentang aturan moralitas yang wajib berlaku untuk semua orang.

Semua nilai kehidupan harus dievaluasi kembali sehingga lahir manusia unggul yang bebas dari kekuasaan lain. Pemikiran ini berhasil mendobrak kemapanan dan kebenaran kekuasaan tokoh-tokoh agama dan kebudayaan Eropa.

Penuh inovasi Berkenaan dengan perayaan Siwaratri, instansi pemerintah dan seluruh jenjang pendidikan di Bali menikmati libur panjang selama lima hari, 29 Januari-3 Pebruari 2014, karena Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberikan dispensasi kepada karyawan-karyawati instansi pemerintah di Pulau Dewata selama dua hari, 29-30 Januari 2014.

Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali I Ketut Teneng mengatakan, instansi pemerintah, sekolah di Bali selama dua hari itu tutup, kecuali instansi pelayanan publik seperti rumah sakit, Dinas Pemadam Kebakaran dan instansi vital lainnya tetap beroperasi dengan mengatur jadwal karyawan sedemikian rupa.

Disusul keesokan harinya Jumat, 31 Januari 2014 libur nasional tahun baru Imlek 2565. Sedangkan hari Sabtu, 1 Pebruari 2014 dan Minggu (2/2) otomatis instansi pemerintah di Bali libur karena menerapkan lima hari kerja, sehingga total libur mencapai lima hari.

Direktur Program Doktor Ketut Sumadi mengharapkan, melalui perayaan Siwaratri umat dapat melakukan instrospeksi diri mencari penyebab dan jalan keluar dari krisis global dengan menerapkan konsep “Karma Marga”, yakni kerja keras dengan penuh inovasi.

Aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual tersebut dapat mengendalikan diri dan hidup hemat dalam memenuhi keinginan pada kehidupan sehari-hari.

Jika keinginan tidak dapat dikendalikan kehidupan menjadi boros, padahal itu tidak menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Hal lain yang tidak kalah penting memberikan pengetahuan kepada umat manusia agar menyadari, bahwa dalam dirinya selalu ada “pertarungan” antara Dewi Sampad (sifat baik) dengan Asuri Sampad (sifat buruk).

Oleh sebab itu, sebaik-baiknya tingkah laku dan perbuatan manusia pasti pernah melakukan dosa (kesalahan) dalam kehidupannya. Demikian pula sejelek-jeleknya manusia pasti pernah berbuat yang baik (benar).

Menyadari hal itu, melalui perayaan Siwaratri dimaksudkan mampu memberikan motivasi kepada setiap umat manusia, khususnya Hindu, agar sadar dan berusaha maksimal menghindari perbuatan dosa serta memperbanyak perbuatan dharma (kebaikan).

Manusia menurut Ketut Sumadi, alumnus S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana itu memang merasa sulit untuk menghindari perbuatan dosa, namun bagaimanapun telah melakukan kesalahan, tidak tertutup kemungkinan menemukan jalan untuk kembali sadar berbuat dharma.

Perayaan hari suci Siwaratri sekaligus memotivasi manusia agar tidak berputus asa dalam menjalani kehidupan. Pintu Dharma selalu terbuka lebar-lebar bagi orang yang sadar akan segala perbuatan dosanya, ujar Ketut Semadi.

Lubdaka Ilustrasi cerita Siwaratri yang diuraikan dalam berbagai “Purana”, seperti Skandapurana, Siwapurana, Garudapurana dan Padmapurana, semua bertemakan kebangkitan dan kesadaran akan perbuatan dosa yang pernah diperbuat untuk kembali munuju kebenaran (dharma).

Dalam cerita berbentuk kakawin (syair) “Siwaratrikalpa”, menyebutkan, seorang pemburu bernama Lubdaka bersama keluarganya tingal di puncak gunung (tempat dipujanya Dewa Siwa).

Pekerjaan si Lubdaka sehari-harinya adalah berburu binatang ke hutan membunuh harimau, gajah, kera, badak serta semua binatang yang menghuni kawasan hutan.

Pada suatau hari yaitu “Pangelong ke-14 Kepitu (hari ke 14 bulan mati pada bulan ketujuh) yang kini dikenal dengan Siwaratri, Lubdaka pagi hari sudah meninggalkan rumah untuk berburu ke tengah hutan.

Namun sehari penuh menelusuri hutan rimba dan lembah-lembah gunung, tak satu pun anak panah yang dilepaskan mengenai sasaran binatang buruan, bahkan jaraknya semakin jauh dari rumah tempat tinggal, matahari tenggelam menjelang malam.

Malam yang gelap itu, Lubdaka tidak berani pulang karena takut disergap binatang buas, kemudian menuju ke suatu telaga (kolam) dan di tepi telaga itulah Lubdaka beristirahat sambil tetap waspada jangan-jangan ada binatang yang datang untuk minum air ke kolam.

Si Lubdaka takut sendirian tinggal di bawah pohon, lalu memanjat pohon kayu (titik tumpu untuk berdiri) bila yang ada di pinggir kolam dan dahannya menjulur ke atas telaga.

Di atas dahan pohon kayu bila itulah si Lubdaka duduk merenungi perbuatannya, semalam suntuk tidak tidur, takut jatuh. Guna menghilangkan rasa ngantuk, ia memetik daun pohon kemudian dijatuhkan ke dalam telaga.

Sambil memetik pohon daun bila itulah Lubdaka menghitung-hitung perbuatan yang pernah dilakukannya semasa hidupnya. Tidak terduga dalam telaga itu terdapat sebuah Lingga (tempat pemujaan) yang tidak diketahui keberadaannya oleh si Lubdaka.

Lingga tersebut merupakan permukaan Dewa Siwa atau perwujudan lambang Siwa. Pekerjaan memetik-metik daun pohon itu dilakukannya semalam suntuk hingga pagi keesokan harinya, sehingga tidak tidur semalam suntuk.

Keesokan harinya si Lubdaka pulang dengan tangan hampa, karena tidak memperoleh seekor pun binatang buruan. Sampainya di rumah dia disambut oleh anak dan istrinya.

Pada suatu ketika si Lubdaka jatuh sakit. Sakitnya semakin parah dan akhirnya meninggal. “Atma”(jiwa) Lubdaka mengalami kebingungan dan kegelapan, karena semasa hidupnya berprofesi sebagai pembunuh binatang.

Dewa Siwa mengetahui hal itu dan mengenal Lubdaka karena pernah memujanya ketika di hutan pada “Malam Siwa”. Akhirnya Dewa Siwa mengutus abdinya menyambut “Atma” si Lubdaka untuk dibawa ke “Siwaloka” (surga), saat bersamaan datang pula laskar Dewa Yamadipati sebagai penguasa neraka.

Setelah didahului dengan perselisihan, maka terjadilah peperangan hebat antara laskar Dewa Siwa dengan laskar Yamadipati memperebutkan atma si Lubdaka. Dalam peperangan tersebut laskar Dewa Siwalah yang menang dan Atma si Lubdaka dibawa ke Siwaloka (surga diberikan tempat yang baik).

“Oleh sebab itu umat Hindu hingga sekarang mempercayai perayaan Hari Siwaratri untuk perenungan dosa, agar tidak mengulangi perbuatan serupa,” ujar Ketut Sumadi. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.