Siwa Ratri, Lubdaka dan Kita

69

SULUH BALI, Denpasar – Setahun sekali, sehari sebelum Tilem Kepitu dirayakan sebagai Hari Siwa Ratri. Anak-anak dan para remaja malam tersebut ramai begadang di pura, atau di tempat-tempat yang mereka anggap suci.

“Karena Siwa Ratri merupakan malam renungan suci. Juga sebagai malam peleburan dosa. Begitu sih katanya,” begitu jawaban mereka ketika ditanya kenapa begadang dan apa makna Hari Siwa Ratri itu?

Termasuk saya sendiri sejak dari dulu juga mendengar ungkapan seperti itu. Sampai sekarang pun masih ingat dan melekat dalam pikiran saya atas kepercayaan itu. Sehingga beberapa kali juga ikut begadang yang diawali dengan sembahyang.

Begitupun hari ini, Senin (15/1/2018), nanti akan ada persembahyangan bersama di Pura dalam rangka Hari Siwa Ratri. Semua krama Desa Adat sudah dibertahu untuk pmelaksanakan persembahyangan itu.

Namun dalam hati dan pikiran saya sendiri, jadi bertanya-tanya juga. Apakah benar dosa-dosa saya, kesalahan saya bisa dilebur hanya dengan begadang semalam? Katanya ada hukum karma phala, dimana segala yang kita perbuat pasti ada pahalanya. Apa yang kita tanam, begitu juga buah yang akan kita petik. Lalu apakah mungkin setalah melewati malam nanti, dosa-dosa bisa terhapus ? Ah entahlah.

Atau adakah makna lain, makna tersirat dari sekedar begadang seperti apa yang tersurat pada cerita Lubdaka yang ditulis oleh Mpu Tanakung itu? Lama juga merenung dan mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran saya yang awam ini.

Ada keraguan, ada kegelisahan. Gelap dan awam sebagaimana juga gelap yang mendera langkah Lubdaka malam itu. Malam gelap pekat yang membuat Lubdaka akhirnya memtuskan untuk menginap diatas pohon Bila. Yang ada di pikirannya hanya bisa selamat, melewati malam yang gelap itu. Esok hari melanjutkan lagi perjalanan untuk mencari binatang buruan.

Akan tetapi, konon dalam kegelapan tersebut justru Lubdaka memperoleh “pencerahan”. Karena dia melaksanakan Jagra (begadang) yang kebetulan pada malam (Ratri) itu, Dewa Siwa sedang beryoga. Pencerahan yang akhirnya Lubdaka memperoleh pahala, namun tidak menghapus dosa-dosa yang pernah ia perbuat sebagai pembunuh binatang sebagai pemburu.

Jadi, dosa (karma) yang sudah diperbuat tidak hapus (lebur) hanya dengan begadang. Namun, Jagra (begadang, tidak tidur) mengandung makna sebuah kesadaran, cahaya dalam kegelapan (kebodohan). Kesadaran sebagai sebuah cahaya, yang mampu melewati kegelapan yang paling pekat sekalipun. Selamat Hari Raya Siwa Ratri. (SB-Rk)

Comments

comments