Simpan Ratusan Senjata Tajam dan Senjata Api | Napi Lapas Kerobokan Seperti akan Perang

Pasukan polisi siap masuk ke dalam lapas untuk sweeping (foto Ijo).

1. Perang dengan Siapa?

SULUH BALI, Mangupura – Setelah bentrok antara ormas Baladika dan Laskar Bali didua tempat berbeda, Kamis (17/12/2015) yang menewaskan 4 orang dan menyebabkan belasan lainnya luka-luka. Memaksa polisi mengambil tindakan cepat dengan mengencarkan operasi sweeping di dalam lapas Kerobokan.

Apa yang ditemukan? Setelah pasukan polisi berpakaian lengkap dengan senjata laras panjang masuk ke blok-blok dan menelusuri setiap sel dan ruang lainnya. Sungguh menakjubkan, karena ditemuan ada ratusan senjata tajam dan juga sejumlah senjata api. Belum lagi sabu-sabu siap pakai, 2 kilogram ganja kering, bahkan ditemukan juga tanaman ganja.

Sepertinya narapidana (napi) di lapas atau disebut lembaga permasyarakatan (Lapas) kelas II A ini sudah siap perang, karena mereka nampaknya secara sengaja mempersenjatai diri. Lalu perang dengan siapa? Bila merunut dari kasus di atas, telah terjadi bentrokan antara dua kelompok dari blok berbeda dengan senjata tajam di dalam lapas. Akan bisa diduga senjata-senjata ini memang dipersiapkan oleh para penghuni untuk menghadapi sesuatu yang tidak terduga dari luar diri mereka.

2. Di Tengah Kota Turis

Kondisi lapas yang terletak di tengah kota turis Kuta Utara ini sesungguhnya sudah tidak layak dalam pengoperasiannya. Selain bangunan yang layaknya sebuah benteng tertutup dengan luas empat hektar ini, sudah dikelilingi pertokoan mewah, restoran dan vila untuk turis. Lapas ini merupakan pindahan dari lapas Denpasar yang terletak di jalan Diponegoro tahun 80-an. Menyusul berkembangnya daerah Kerobokan selatan, yang terletak di kabupaten Badung, lingkungan lapas bukan lagi persawahan tapi sudah fasilitas pariwisata.

Kapasitas huniannya juga sudah tidak memadai alias over capacity. Menurut Kepala Devisi Permasyarakatan, Nyoman Putra Surya Atmaja yang ditemui www.suluhbali.co saat ini napi dan tahanan yang ada di dalam lapas sekitar 1100 orang, “Sedangkan kapasitas normalnya seharusnya hanya bisa dihuni 450 orang,” ungkap Atmaja. Mereka itu berada di 14 blok yang berisi total 126 kamar.

Klasifikasi sebagai Lapas kelas II A berimbas pada sangat kurangnya pengamanan yang bisa dilakukan. Karena lapas ini hanya memiliki 50 petugas pengamanan. Artinya tidak sebanding dengan jumlah warga binaan (sebutan untuk napi dan tahanan) yang mencapai sekitar 1.100 orang.

Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Bali, Sulistiono di Denpasar, Minggu (20/12/2015) setiap harinya ada satu regu yang berjumlah 14 orang petugas lapas yang berdinas.

Ditambahkan Kepala Lapas Kerobokan, Sunarto, jumlah petugas itu dibagi tugas di sejumlah titik di antaranya di blok, pos, menara dan pintu depan.

“Setiap 5 itu hanya diawasi satu orang,” ucapnya.

Belum lagi, apabila tahanan yang akan keluar menjalani persidangan juga membutuhkan pengamanan dan pengawasan petugas.

Total di lapas setempat terdapat 140 petugas, di antaranya pejabat struktural, staf dan petugas pengamanan yang berjumlah 50 orang.

Akibatnya, kurangnya petugas pengamanan di dalam lapas menjadikan pengawasan tidak optimal. Hal itu pula diduga menjadi penyebab mudahnya barang berbahaya seperti narkoba, senjata api dan senjata tajam masuk ke dalam areal yang terlarang itu.

3. Puluhan Samurai dan Sejumlah Pistol

Senjata api dan senjata tajam yang berhasil disita polisi dari lapas kerobokan (foto raka).

Kapolres Badung AKBP Tony Binsar, Sabtu (19/12/2015) menjelaskan sebelum pasukannya masuk ke dalam Lapas untuk melakukan sweeping, “Dari pihak lapas meminta kepada kepolisian dan TNI untuk melakukan razia ke 12 blok, termasuk blok wanita. Nantinya kalau ada barang-barang yang seharusnya tidak ada di dalam lapas akan kita Sita,” ungkapnya.

Katanya, aksi sweeping dilakukan di dalam lapas dengan mengerahkan 200 personil gabungan yang terdiri dari Polres Badung, Kodim 1611 Badung, Polda Bali termasuk sejumlah petugas berpakaian preman.

Dari hasil sweeping disita ada handphone sebanyak 129 unit. Beredarnya dengan merata kepemilikan pesawat komunikasi ini memudahkan saling kirim informasi. Alat ini juga yang diduga telah digunakan penghuni untuk memberikan informasi terjadi keributan di dalam lapas pada rekan-rekannya di luar lapas, sehingga bentrok yang awalnya terjadi di dalam lapas meluas ke luar, sehingga kota Denpasar dan sekitarnya sempat mencekam. Putugas kemudian mencopy isi dari handphone yang sebagai besar adalah smartphone, sehingga bisa ditemukan bagaimana para napi bisa punya akun di media sosial seperti facebook dan lainnya. Dan masyarakat luar lapas juga bisa melihat seperti apa aktivitas para napi dari media sosialnya.

Ditemukan pula 2 unit laptop, puluhan alat hisap sabu, senjata tajam, berliter-liter arak, ekstasi dan pohon ganja setinggi 35 cm dalam satu polly bag dan juga ganja kering seberat 2 kilogram yang siap edar. Disita pula sejumlah jarum tatto.

Di lapas ini terbagi menjadi beberapa blok. Ada juga blok khusus untuk wanita dan blok khusus anak-anak. Secara informal ada blok-blok menjadi “wilayah khusus” ormas dan digunakan untuk kegiatan mereka, termasuk memasang lambang dan benderanya. Ada juga blok yang kebanyakan penghuninya adalah orang asing.

Dari penemuan barang-barang terlarang tersebut, petugas polisi dan tentara men-sweeping blok C, dimana sehari sebelumnya para penghuninya sudah dipindahkan ke lapas di lain kota untuk mencegah bentrok lanjutan. Polisi menemukan Samurai sebanyak 21 buah (dari 21 tersebut 1 buah ada bercak darah ), Pisau belati 15 buah (dari 15 tersebut 3 buah ada bercak darah), Kapak 2 buah, Pisau lipat 3 buah, Trisula 2 buah, Sabit 1 buah, Gunting 3 buah, Gem 2 buah, Belati patah 1 buah, Pisau kecil 1 buah, 3 pucuk Senapan Jenis Revolver, Peluru 22 butir.

Barang- barang yang berhasil diamankan tersebut disimpan dalam sebuah lubang dengan panjang 1 meter, lebar 15 sentimeter, dan kedalaman 30 sentimeter.

“Kami menemukan barang-barang ini di dalam sebuah lubang (bunker) dengan panjang 1 meter, lebar 15 sentimeter, dan kedalaman 30 sentimeter dan ditutupi keramik sehingga dengan mudah dibuka atau ditutup kembali,” kata, Plh Direktur Kemanan dan Ketertiban Direktorat Jenderal Permasyarakatan, Priyadi Sabtu (19/12/2015).

Dia menyebutkan, penemuan senjata api itu ditemukan setelah tiga kali penyisiran. Hari pertama pada Kamis 17 Desember 2015 ditemukan dua senjata api (senpi), kemudian pada Jumat 18 Desember 2015 ada tiga senpi.

“Pada malam harinya ditemukan dua senpi lagi. Jadi totalnya ada tujuh senpi jenis air softgun. Semuanya ada pelurunya. Senjatanya sudah kami serahkan kepada pihak kepolisian. Kami benar-benar tidak meyangka kenapa senjata ini bisa masuk ke dalam sana,” ujarnya.

4. Pelanggaran Prosedur

Samurai yang disita oleh polisi dari lapas kerobokan (foto wan).

Terjadinya bentrokan di lapas dan penemuan begitu banyak senjata tajam dan juga senjata api. Termasuk alat komunikasi dan narkoba, menjadikan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Bali menginvestigasi pelanggaran prosedur diduga dilakukan oknum petugas Lapas Kerobokan.

“Kami akan dalami lebih lanjut, berarti ada standar operasional prosedur yang tidak dilalui,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Bali Sulistiono.

Pihaknya akan tetap melakukan investigasi secara formal meskipun peristiwa serupa bukan yang pertama kali terjadi di lapas terbesar di Bali itu, termasuk memeriksa pimpinan lapas setempat terkait dengan prosedur keamanan yang menyebabkan lolosnya senjata api, senjata tajam, hingga narkoba dan telepon seluler ke dalam lapas.

“Kami akan investigasi juga menanyakan juga ke Kalapas, kenapa SOP (standar prosedur operasional) tidak jalan. Mestinya ada ‘pressure’ (tekanan), kalau ada ‘pressure’ itu apa? Kami akan dengarkan secara langsung,” ucapnya.

Kanwil Hukum dan HAM Bali, kata dia, juga berencana menambah perkuatan dari aparat kepolisian di luar lapas untuk melakukan penjagaan apabila dari hasil investigasi ditemukan adanya unsur tekanan dari pihak tertentu.

“Justru kalau nanti betul itu (adanya tekanan) yang kami temukan dari investigasi, ini tidak lain kami minta bantuan aparat keamanan,” ucapnya.

Pascabentrokan antarnarapidana di dalam lapas yang menewaskan dua orang itu, polisi dan aparat gabungan lainnya menemukan ratusan senjata tajam, lima pucuk senjata api dan 90 peluru, 200 gram sabu-sabu, tanaman ganja, dan telepon seluler.

Bukti yang sangat kontras dengan kenyataan di lapangan itu membuat masyarakat bertanya dan menantikan penyelidikan dari pihak kepolisian, baik untuk mengusut peristiwa bentrokan yang berujung pembunuhan hingga lolosnya barang-barang haram itu. (SB-Ijo/ant/wan)

5. Comments

comments