Setra Pusat Kekuatan Magis, Tapi Paling disucikan di Bali?

Sebuah setra di Denpasar (foto wan).

SULUH BALI, Denpasar – Tetua-tetua desa sering menyebut setra (kuburan) sebagai rumah sesungguhnya bagi setiap manusia, karena disanalah perjalanan akhir manusia setelah menjalani kehidupan di dunia.

Setra sebagai tempat akhir kehidupan yang dilakukan penguburan atau pengembalian unsur panca maha buta atau ngaben bagi umat Hindu kemudian memberikan kesan angker tempat yang satu ini.

Konsep Desa Pakraman di Bali dalam mengimplementasikan ajaran Hindu bahkan menempatkan setra berada pada bagian teben (hilir) desa. Sehingga di Bali banyak di temui areal setra (kuburan) berada agak jauh dari pemukiman warga desa.

Kesan mistis setra juga muncul dari pepohonan yang biasa tumbuh di arealnya, seperti pohon kepuh, pule, beringin. Jenis-jenis pohon besar tersebut dalam mitologi masyarakat Bali sangat diyakini sebagai persemayaman mahluk-mahluk halus.

Belum lagi mistis yang paling dikenal di Bali yakni leak diyakini dalam mempraktekkan ilmu kadiyatmikan menggunakan tempat kuburan sebagai arena permohonan kekuatannya.

Seperti dalam lontar calonarang yang menyebutkan Ni Walunateng Dirah atau Rangda memperoleh kekuatan kediyatmikaan leak tingkat tinggi berkat anugerah Dewi Durga di setra Gandamayu .

Hingga sekarang, setra masih menjadi pusatnya kekuatan mistis di Bali meskipun di era modern dan kecagihan teknologi tidak mampu mengikis keyakinan masyarakat Bali tentang keangkerannya.

Setra Paling disucikan di Bali

Di sisi lain, meskipun setra  merupakan tempat yang dikeramatkan karena keangkerannya namun tempat ini menjadi paling disucikan di Bali.

Setra dalam ajaran Siwa-Durga sesuai dengan ajaran tantrayana  umumnya disucikan dengan dijadikan sebagai tempat masupati dan ngerehin rangda dan barong yang akan dijadikan sungsungan (sembah) di pura setempat.

Upacara ini dimaksudkan untuk melinggihkan (menstanakan) kekuatan Siwa dan Durga ke masing-masing prelingga yang berupa barong dan rangda tersebut.

Setra yang selalu berdampingan dengan pura Dalem dan Pura Prajepati dalam Lontar Andha Bhuwana disebutkan merupakan stana dari bhatari Uma yang  berwujud Dewi  Durga.

Melinggihkan kekuatan Siwa-Durga di setra pada prelingga  dimaksudkan untuk permohonan keselamatan agar senantiasa manusia selalu berada dalam lindungan-Nya sesuai dengan arti durga adalah pelindung. (SB*)

Comments

comments