Setelah Perdebatan Yang Alot, AMDAL Teluk Benoa Segera Direvisi

5857
Aksi ForBali di depan kantor Gubernur Bali dalam aksi menolak reklamasi, Jumat (29/1/2016) (foto rka)

SULUH BALI, Denpasar – Pembahasan Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana pemantauan Lingkungan (RPL) yang disampaikan oleh PT Tirta Wahana Bali International (PT TWBI) berlangsung alot di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (29/1).

Rapat yang menghadirkan pula berbagai komponen masyarakat Bali, sejak awal sudah dipenuhi perdebatan. Rapat yang dipimpin San Afri Awang selaku Ketua Komisi Penilai AMDAL Pusat Prof. DR. Ir. San Afri Awang, M.Sc. dimulai sekitar pukul 09.00 dan baru berakhir sekitar pukul 17.00. Lalu dibuat berita acara yang akan mengakomodir semua masukan, saran yang disampaikan oleh peserta yang hadir. Setelah itu Tim AMDAL akan segera merevisi sesuai dengan hasil rapat, begitu pimpinan sidang menyampaikan pada para peserta.

Pada saat rapat, sempat terjadi ketegangan antara Direktur Eksekutif Walhi Bali Suriadi Darmoko a.k.a Moko dengan Ketua SKPPLH Made Mangku. Pasalnya, Moko merasa organisasinya dipojokan dan minta Made Mangku untuk mengklarifikasi tuduhan “Walhi Menipu.”

Mardika dari ForBali menyampaikan sikapnya soal reklamasi Teluk Benoa (foto Rka).
Mardika dari ForBali menyampaikan sikapnya soal reklamasi Teluk Benoa (foto Rka).

Made Mangku menjawab bahwa dirinya tidak pernah mengatakan kata menipu. Dia cuma mengatakan ada kecurigaan bawah bisa saja Walhi memasukan sesuatu pada map, yang isinya adalah pernyataan sikap sejumlah desa adat yang dititipkan pada Walhi, “Saya merasa sedih. Bagaimana desa adat yang posisinya tinggi dan independent, bisa menitipkan pernyataan sikapnya lewat Walhi. Walhi itu kan LSM lingkungan, sama dengan SKPPLH.”

Perdebatan ini ditengahi denganoleh San Afri Awang, “Saya tidak mendengar ada kata menipu. Tapi kalau ada kata kecurigaan, itu pendapat Made Mangku pribadi. Mohon bisa diselesaikan berdua setelah acara ini.”

Perdebatan antara yang menolak dan mendukung reklamasi Teluk Benoa juga terjadi soal kutipan “ayat suci”, Sugi Lanus dari ForBali sempat menyinggung soal harusnya para sulinggih juga hati-hati menggunakan “ayat suci”. Hal ini dijawab oleh ketua Tim 9 PHDI Bali, Sri Mpu Acharya Nanda bahwa dirinya tidak mungkin menyalahgunakan “ayat suci”, karena itu dirinya siap berdialog ataupun bersumpah di Besakih.

Dalam sesi pemaparan Heru Budi Wisesa selaku Direktur Utama PT TWBI menyatakan bahwa Revitalisasi Teluk Benoa merupakan hal yang harus dilakukan mengingat saat ini Teluk Benoa sudah mengalami sedimentasi atau pendangkalan yang sangat parah oleh karena itu dengan revitalisasi diharapkan hal tersebut dapat teratasi sehingga mampu memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi para nelayan untuk melaut dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Selain itu menurutnya flushing yang tidak baik serta salinitas yang meningkat yang merupakan ancaman bagi hutan mangrove merupakan latar belakang lainnya dari perencanaan revitalisasi tersebut. Ia juga menyatakan akan mengembalikan kondisi Pulau Pudut dan dijadikan sebagai kawasan suci Utama Mandala dengan berlandaskan filosofi Tri Hita Karana.

Pada rapat itu juga muncul sikap penolakan yang disampaikan secara langsung oleh Bendesa Adat Benoa I Made Wijaya dan meminta agar AMDAL tersebut ditolak. Hal tersebut juga disampaikan oleh Bendesa Adat Kuta Wayan Suarsa, pihaknya menolak revitalisasi tersebut dikarenakan selama ini pihak TWBI tidak melihat hubungan harmonis dan keyakinan yang telah dianggap sakral oleh masyarakat Hindu di Bali, selain itu ia juga meragukan tentang 200 ribuan tenaga kerja yang akan direkrut. Forbali juga menyerahkan pendapat dan penolakan mereka atas reklamasi Teluk Benoa dan diwakili oleh Mardika pada pimpinan rapat.

Di luar kantor gubernur juga terjadi aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ForBali dan didukung sejumlah komponen masyarakat dari desa adat yang sudah menyatakan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa dan pembatalan Perpres 51 Tahun 2014. Aksi dipimpin oleh Gendo Suardana, yang dalam orasinya menyatakan bawah Gubernur Mangku Pastika sudah sendirian saat ini, karena sudah ditinggalkan oleh desa adat yang sudah menolak reklamasi Teluk Benoa.

Aksi yang diikuti lebih dari seribu orang ini, berakhir sekitar pukul 12.00. Sementara itu, rapat di Wiswa Sabha masih berlangsung. Rapat Amdal kemudian diskor untuk makan siang dan sejumlah orang harus menunaikan Ibadah Sholat Jumat di Masjid di Renon. Rapat kemudian diteruskan kembali sekitar pukul 14.00. Pemandangan di kantor gubernur tidak ada lagi demonstran dan begitu juga petugas polisi yang melakukan pengamanan super ketat sebelumnya di pintu gerbang kantor gubernur Bali. (SB-tim)

Comments

comments