Sensasi “Tol Bergoyang” Di Kampoeng Kepiting

518
Menu Waroeng Kepiting (fota cas).

Suluh Bali, Mangapura – Berkunjung ke daerah manggrove untuk menikmati pemandangan dan sekedar berfotoan merupakan hal yang biasa. Lain halnya jika kita berkunjung ke Ekowisata Kampoeng Kepiting di daerah Tuban, disana kita akan menjumpai hal – hal menarik dari kuliner hingga rekreasi seru.

Sangat mudah untuk anda menemukan Ekowisata Kampoeng Kepiting ini. Berada di sebelah kiri atau utara jalan, sebelum pintu masuk Tol Bali Mandara, atau sebelum bundaran menuju Bandara Internasional Ngurah Rai.

Beragam menu yang disajikan di tempat ini. Sesuai dengan namanya, menu yang diunggulkan adalah kepiting. Ada 8 hidangan kepiting yang dapat anda jumpai, akan tetapi unggulan dari Kampoeng Kepiting ini adalah Kepiting Goyang Tol. Dengan resep turun temurun menjadikan cita rasa yang berbeda dari restoran – restoran seafood terkenal di Bali. Memiliki tekstur daging yang penuh serat dipadukan dengan olahan rempah – rempah  dan hal yang tidak dapat dijumpai ditempat lain adalah campuran dari buah bakau pidada ( Sonneratia caseolaris). Diolah sedemikian rupa menjadikan santapan yang sayang jika anda lewatkan.

Untuk masalah harga, Ekowisata Kampoeng Kepiting menawarkan harga spesial kepada para pengunjung. Untuk menikmati seporsi hidangan kepiting ini, anda hanya perlu membayar mulai 125 ribu saja.

Kampoeng Kepiting juga menyediakan makan olahan seafood lainnya, seperti ikan, cumi, udang dan kerang. Tapi jangan khawatir bagi anda yang tidak bisa menikmati hidangan seafood, di tempat ini juga menyediakan hidangan lainnya, seperti  ayam bakar/goreng, nasi goreng, puyung hai, cap cay, mi goreng, bihun goreng, dan masih banyak pilihan yang lain.

Tidak hanya dari segi makanan, minum di Ekowisata Kampoeng Kepiting ini juga terkenal istimewa.  Es tol bergoyang, sunrise mangrove, es bangau terbang, jus manggrove adalah  beberapa nama dari banyaknya pilihan yang bisa anda pesan.

Selain dari segi kuliner, di Ekowisata kampoeng Kepiting juga menawarkan pemandangan yang memanjakan mata. Sambil duduk atas gasebo kita dapat menjumpai kapal – kapal nelayan, hijaunya pohon bakau, serta burung bangau yang sedang mencari makan. Selain itu anda juga dapat berkeliling ekowisata ini dengan menaiki kano sendiri. Benar – benar tempat wisata yang sangat menyenangkan.

Bila anda berkunjung pada malam hari, anda akan santap malam ditemani dengan live akustik atau bila berkunjung di hari minggu anda ditemani pertunjukan fire dance. Tidak hanya itu, pada senin minggu pertama dan minggu ketiga di Ekowisata Kampoeng Kepiting ini menampilkan kesenian kecak dance di atas panggung terapungnya.

Pentas kecak di atas panggung apung (foto ist )
Pentas kecak di atas panggung apung (foto ist )

Kelompok nelayan

Ide awal pembentukan Ekowisata Kampoeng Nelayan ini bermula dari kekhawatiran I Made Sumasa (51) pada tahun 2009, dimana perkembangan pariwisata yang cukup pesat tetapi tidak berjalan selaras dengan keadaan ekonomi para nelayan. Dari sanalah terfikirkan untuk membentuk sebuah kelompok yang dapat membantu masyarakat nelayan khususnya di daerah Tuban.

“Saya mencoba mengumpulkan masyarakat untuk kita membuatkan payung hukum. Jadi berupa kelompok nelayan waktu itu, dan ternyata respon dari masyarakat masih kurang. Kurang lebih ada 80 orang pada awal Kelompok Nelayan Wanasari ini terbentuk,” tutur I Made Sumasa selaku Ketua dari Kelompok Nelayan Wanasari.

Tentu banyak halangan yang dijumpai oleh Kelompok Nelayan Wanasari, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus maju. Sampai akhirnya mereka mendapkan solusi dimana memilih kepiting untuk dibudidayakan.

“Dulunya dianggap tidak masuk akal untuk memulai bubidaya kepiting, tapi saya coba dengan ukuran kecil dulu seluas 4 are, awal saya lakukan penggemukan. Kemudian sampai saya belajar pakan kepiting, jadi saya kasih pakan alami dulu ikan – ikan kecil. Akhirnya itu membuahkan hasil, karena perlakuan yang istimewa terhadap kepiting – kepiting disini, menajadikan kualitasnya jauh diatas rata – rata bila dibandingan dengan kepiting ditempat lain,” tutur Sumasa

Banyaknya peminat terhadap kepiting mangrove ini, lalu menjadikan Kelompok Nelayan Wanasari ini untuk membuat konsep Ekowisata Kampoeng Mangrove. Dengan membuat tempat kuliner, dipadukan dengan konservasi edukasi mendapat peminat dari lokal hingga mancanegara.

Luas Ekowisata Kampoeng Kepiting yang diberdayakan masyarakat saat ini sudah mencapai 10 hektar, dari awal hanya 4 are. Tidak diragukan lagi, Ekowisata kampoeng Kepiting merupakan solusi untuk anda yang ingin berwisata dan melakukan kuliner sekaligus. (SB-cas)

 

Comments

comments