Seniman Kadek Suardana Meninggal

262

Kadek Suardana (alm).

SULUHBALI.CO, Denpasar – Seniman kontemporer asal Bali I Kadek Suardana meninggal dunia di usianya ke 57 th dalam menjalani perawatan intensif di rumah sakit Guangzhou, China Selasa malam (8/10).

“Penata musik dan penulis dramatari yang sukses memimpin tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke berbagai negara itu meninggal akibat menderita penyakit kanker pankreas,” kata Gede Aryantha Soetama, keluarga besar almarhum ketika dihubungi di Denpasar, Kamis (10/10).

Gede Aryantha mengatakan, jenazah dari pria seniman tersebut kini masih berada di China. Pihak keluarga sedang mengurus proses pemulangan jenazah, namun belum diketahui kapan jenazah itu bisa dipulangkan kembali.

Suardana, yang merupakan suami almarhum Mari Nabeshima, wanita asal Jepang dan seorang kakek dari cucunya itu sudah lima kalinya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sejak dua tahun terakhir.

“Sebelum penyakit kanker pankreas yang dideritanya secara pasti, ayah dari dua putra-putri itu sempat menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Bali, Jakarta, Malaysia dan Singapura,” tutur Aryantha Soetama yang juga pernah mengantar almarhum berobat ke China.

Kadek Suardana dengan diantar keluarga alm. istrinya dari Jepang berangkat ke China pekan lalu, namun ada kabar yang tidak menyenangkan bahwa beliau telah menghembuskan nafas terakhir.

Sosok seniman andal dengan latar belakang kesenian tradisional Bali itu pernah merantau ke Jakarta untuk belajar secara otodidak tentang produksi teater kontemporer dan semasa hidupnya bersama dengan I Dewa Gede Palguna, Aryantha Soetama dan Ulf Gadd beliau mendirikan sebuah Yayasan Arti pada tahun 1998.

Lewat yayasan tersebut telah menggelar berbagai kegiatan seni tingkat lokal, nasional maupun internasional, antara lain Festival Seni Perdamaian (2002), Festival Umbul-Umbul (2004) dan mengadakan lawatan ke mancanegara bersama tim nya.

Karya seni yang monumental yang pernah dipersembahkan antara lain Gambuh Macbeth (1998), Ritus Legong (2002), Tajen I (2002), Tajen II (2006) dan Sri Tanjung The Seent of Innocence (2009).

Semua karya seni tersebut dilandasi oleh pengembangan nilai-nilai tradisi yang tak terlepas dari kesenian Bali dan dikolaborasikan dengan unsur modern agar lebih menarik dan elegan. (SB-ant/lik)

Comments

comments

Comments are closed.