Seniman Dengan “Sense of Business”

144

SULUH BALI

Sekarang tidak bisa lagi karya seni dibuat hanya untuk seni atau hobi semata. Tetapi bagaimana pekerja seni atau seniman juga bisa hidup layak secara ekonomi. Baik untuk dirinya maupun keluarganya. Untuk menuju kesana, dibutuhkan tambahan skill yakni kemampuan atau seni dalam menjual karya seni. Kalau tidak, “Si seniman hanya akan terlihat gagah dalam kemiskinan,” ungkap Abu Bakar :

Sedangkan Mangku Pastika, yang mengaku dirinya hanya sebagai penikmat seni, merasa trenyuh juga ketika menjumpai seniman Bali di desa, menghabiskan waktunya untuk melukis hingga 6 bulan. “Tapi begitu lukisan selesai, belum tentu juga laku, kalaupun  laku, harganya juga tidak sepadan dengan jerih payah dan waktu yang dihabiskan. Sebenarnya kita ingin para seniman kita memiliki sense of business juga,” katanya.

Ia pun kemudian menyebut pelukis atau seniman Bali yang menurutnya sukses menggabungkan antara kemampuan berkarya dengan kepiawaian dan memiliki ense of business itu. “Saya pribadi melihat kita memiliki maestro seperti Nyoman Gunarsa dan Made Wianta. Mereka ini bisa seperti sekarang, karena memiliki sense of business disamping kemampuan menghasilkan karya seni yang berkualitas tinggi juga memiliki sense of business yang tinggi pula,” ungkap Mangku Pastika.

Bila hal tersebut terus dibiarkan dan para seniman tersebut tidak berubah, Pastika merasa khawatir, nanti akan semakin berkurang bahkan mungkin hilang keberadaan pelukis-pelukis yang selama ini berkarya di desa-desa tersebut, yang menggantungkan hidupnya dari melukis.

Ungkapan itu disampaikan Mangku Pastika ketika hadir ditengah-tengah para seniman dalam sarasehan bertema “peluang dan partisipasi seniman Bali modern dalam mewujudkan Bali Mandara,” Kamis (6/11) di Warung Pak Oles, Waribang, Denpasar. Saat itu hadir seniman seperti Wayan Dibia, Abu Bakar, Made Wianta, Made Suarsa, Gus Martin, Jango Paramartha, Mas Ruscita Dewi, Baktiwiasa, Iwan Darmawan dll, serta kalangan media.

Tapi sebenarnya para seniman Bali generasi sekarang sudah sadar akan hal tersebut. Sadar terhadap perubahan, sadar akan pentingnya berkarya dengan disertai kemampuan untuk “menjual” karya, agar bisa tetap hidup layak secara ekonomi dan juga tetap terus menghasilkan karya sebagai seniman.

Hal itu terutama bisa kita saksikan terutama pada mereka yang mengenyam pendidikan formal, baik di Bali lebih-lebih yang berdomisili di luar Bali. Hal tersebut dicatat dan diakui oleh maestro seni patung asal Bali, Nyoman Nuarta. “Pelukis-pelukis Bali kini sudah diperhitungkan di tingkat nasional, bahkan dunia,” katanya saat mengahadiri pembukaan pameran lukisan di Bentara Budaya tempo hari. Kemudian pada sebuah kesempatan, seorang pelukis muda nyeletuk sambil berbisik : “Wah kalau dia (menyebut nama pelukis muda asal Bali) kini sudah jadi miliarder…”. (SB-Raka)

Comments

comments