Sembahyang Saraswati Sebaiknya Tidak Lewat Siang Hari

241
Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par, Direktur Pascasarjana IHDN Bali.

SULUH BALI, Denpasar – Saraswati yang dikenal sebagai hari suci turunnya ilmu pengetahuan di dunia (Sang Hyang Aji Sarasaswati) diharapkan agar dalam melakukan persembahyangan pemujaan tidak sampai melawati siang hari atau matahari telah condong ke barat.

Pemujaan dilakukan sebelum matahari condong ke barat dijelaskan Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par, Direktur Pascasarjana HDN Denpasar sebagai bagian dari pemaknaan proses belajar pada kehidupan. Belajar dan menimba ilmu pengetahuan dilakukan pada saat anak-anak sampai dengan dewasa dan sebelum usia senja.

“Kelahiran manusia dari kecil, tumbuh dan berkembang dalam proses ini kita belajar berbagi ilmu pengetahuan sampai pada puncaknya atau usia dewasa,” jelas Sumadi saat ditemui www.suluhbali.co di Kampus Pascasarjana, Selasa, (15/8/2017).

Pada fase dewasa dikatakan sebagai fase yang telah mencukupi dalam ilmu pengetahuan. Sehingga apa yang telah dipelajari dan didalami pada fase anak-anak sampai dewasa (brahmacari) dapat menghantarkannya pada pencapaian tujuan hidup.

“Pada usia dewasa manusia sangat matang. Bisa memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dengan mandiri, sukses dalam pekerjaan dan cita-cita dan tujuan hidupnya pada puncak itu,” kata Sumadi.

Memaknai Saraswati menurut Sumadi dilakukan dengan merenungi diri atas seberapa jauh pencapaian ilmu pengetahuan yang telah dimiliki sehingga mampu menghantarkan seseorang menuju pembebasan masalah dunia mencapai jagadgita serta mencapai pembebasan ahirat menuju moksa.

“Saraswati itu refleksikan, apa kita sudah sukses dalam hidup, apa yang kita dapatkan dari bangku pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi untuk kepentingan diri individu dan bersama bermasyarakat dan bernegara,” jelasnya. (SB-Skb)

Comments

comments