Semangati Musisi Lewat Event “Don’t Pay To Play”

43

Penampilan Scared Of Bums. |foto-arx|

SULUHBALI.CO, Denpasar – Untuk menyemangati para musisi khususnya di Bali, Lembaga Pendidikan Musik Farabi menggelar suatu event yang bertajuk “Don’t Pay To Play” kamis, 15/05/2014.

Dengan mengajak para musisi muda maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia musik, Farabi yang notabene adalah sekolah musik yang ada di Denpasar, Bali, menggelar suatu event yang memang sangat dinanti oleh para musisi lokal bali dan para penikmat musik.

Menggunakan alat seadanya dan panggung yang hanya di flooring, tidak menyurutkan semangat para musisi yang terlibat dalam acara tersebut, seperti Ganjil Band, Caroline, dan Scared Of Bums yang pada akhir acara membuat para penonton antusias menyaksikan penampilan mereka di panggung yang dibuat sederhana.

“Kami hanya ingin para musisi dihargai sesuai kualitas, bukan mereka yang bayar untuk mengapresiasikan karya mereka di sebuah event.” ungkap Jaka selaku salah satu panitia event.

Acara tersebut memang terbuka untuk semua aliran musik yang ada, karena menurut Jaka, tidak ada target khusus dalam event tersebut.

Semua pihak dari para musisi dan penonton sangat menyambut positif acara tersebut.

“Saya dan teman-teman selalu menekankan arti dari Don’t Pay To Play, karena semua musisi harus berani menentang jika ada suatu event yang menyuruh kalian bayar untuk main musik. Dan jangan takut kalau kalian di blacklist dari event apapun, karena di farabi music fest kalian bisa manfaatkan untuk tampil.” tegas Jaka.

Ketika ditanya mengenai kelanjutan dari acara tersebut, Jaka mengungkapkan akan memperluas area, yang hanya Denpasar, kemungkinan akan merambah ke kota lain di seluruh Bali.

“Misi dari acara ini intinya jangan sampai kalian para musisi yang bayar untuk tampil, tapi harusnya kalian yang dibayar.” kata Jaka.

Jaka sendiri berharap dengan adanya event seperti ini bisa membangkitkan para musisi kita untuk selalu berkarya dan meningkatkan kualitas karya mereka.

Disela acara, salah satu pentolan band Ganjil sekaligus vokalis Navicula yakni Robi mengungkapkan bahwa “Musisi sebenarnya senjata para produsen musik. Jadi ibarat petani dengan pengepul atau penjual. Ketika harga panen murah, dan para penjual atau pengepul bisa menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Sehingga semua orang ingin menjadi pengepul bukan menjadi petani. Hingga sampai sekarang tidak ada yang mau menekuni sebagai petani.” Tegasnya.

“Begitu juga di industri musik, hampir sama. Seharusnya semua karya seni dihargai sesuai dengan kualitas para senimannya, jika bagus dan memuaskan, hargailah dengan harga yang tinggi. Sehingga ada kompetisi bersaing secara sehat dalam berkarya.” ujar Robi. (SB-arx)

 

Comments

comments