SULUH BALI, Denpasar – Parade ngelawang yang tampilkan oleh Sanggar Ngelawang Sapu Jagat, Banjar Pagubugan, Desa Duda, Kecamatan Selat,  duta Kabupaten Karangasem mengambil cerita rakyat tentang prosesi “Petabuhan Be mangong”.

Be Mangong adalah sebutan dari daging anjing yang digunakan sebagai sarana upacara Butha Yadnya atau pencaruan yang dilaksanakan oleh karma Duda setiap menjelang ngusaba desa sebagi prosesi ritual ngelawang.

“Cerita ini kami ambil sesuai dengan tema PKB yakni karang awak, sehingga kami mengambil prosesi petabuhan yang dilaksanakan sendiri oleh desa Pakraman Duda,” terang pimpinan sanggar Sapuh Jagat, Jro Mangku Cenik.

Adapun kisahnya berawal dari kegelisahan warga yang berasal dari Banjar Kelod Kangin yang mengalami bencana sehingga melaporkan kepada Bendesa Pakraman Duda.

Atas musibah tersebut, Bendesa Pakraman Duda menyampaikan kepada Brahmana Geriya Ageng. Ida Pedanda memberikan saran untuk menghaturkan persembahan yang berupa “be mangong” mebukakak.

Sarana lain yang melengkapinya diantaranya, sanggah batang kecicang, meulam timbungan, api takep, serta perlengkapan sarana butha yadnya lainnya.

Semua persembahan itu dihaturkanlah sarana tersebut oleh krama Desa Pakraman Duda yang dipuput langsung oleh Pedanda Geria Ageng.

Setelah dilakukannya persembahan, warga yang mengalami bencana ahirnya kembali seperti semula yang kemudian menghantarkan Desa Pakraman Duda mendapatkan kesejahteraan. (SB-Skb)

Comments

comments