Sebelum Galungan, Alam dan Diri Terlebih Dahulu Disucikan

321

SULUH BALI, Denpasar –  Sebelum melaksanakan ritual hari suci Galungan, terlebih dahulu diawali dengan prosesi pembersihan dan penyucian alam semesta (bhuana agung) dan diri sendiri (bhuana alit).

Penyucian bhuana agung dilakukan pertama, yakni dengan melaksanakan persembahan pada Wrehaspasti Wage Sungsang (Kamis Wage Sungsang) sebagai persembahan untuk penyucian alam semesta (bhuana agung), seperti yang dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:

“Sungsang, Wrehaspati Wage ngaran parerebuan, sugian Jawa kajar ing loka, katwinya sugian Jawa ta ngaran, apan pakretin bhatara kabeh arerebon ring sanggar mwang ring parahyangan, dulurin pangraratan, pangresikan ring bhatara saha puspa wangi. Kunang wwang wruh ing tattwa jnana, pasang yoga, sang wiku angarga puja, apan bhatara tumurun mareng madyapada, milu sang dewa pitara, amukti bante anerus tekeng galungan. Prakerti nikang wwang, sasayut mwang tutwan, pangarad kasukan ngaranya”.

Terjemahannya: Wuku Sungsang, tepatnya hari Wheraspati Wage bernama pererebuan, dikenal oleh masyarakat bernama sugian Jawa, dasar tattwa bernama sugian Jawa karena hari suci bagi seluruh Bhatara melakukan penyucian di sanggah maupun di khayangan, pemujaan di dahului dengan pengraratan dan pembersihan dengan persembahan bunga harum kepada Bhatara. Orang yang memiliki pengetahuan akan melakukan yoga, orang suci melakukan persembahan, sebab Bhatara turun di dunia, begitu juga diikuti sang Pitara menerima persembahan sampai dengan galungan datang, persembahan yang dihaturkan sesayut tutwan pengarad kasukan namanya.

Besoknya, pada Sukra Kliwon Sungsang (Jumat Kliwon Sungsang dilakukan upacara penyucian diri yang disebut dengan sugian Bali. Tujuannya adalah menyucikan diri dan melakukan pembersihan diri dalam menyambut kemenangan dharma diatas adharma pada hari suci Galungan.

“Sukra Kliwon, sugian Bali, sugian ing manusa loka, paknanya pamretistan ing raga tawulan, kewala sira apeningan anadaha tirta panglukatan, pabersihan ring sang Pandita.”

Terjemahannya: Hari Sukra Kliwon, namanya sugian Bali, sugian dalam diri manusia, maknanya sebagai penyucian dalam diri setiap manusia, tetapi harus mengheningkan pikiran memohon tirta pembersihan, pengelukatan sang sulinggih.

Pada kedua hari suci ini umat Hindu melaksanakan persembahan secara khusus terkait dengan pembersihan dan penyucian. Dilaksanakan dan ditujukan kepada kelangsungan dan kesucian alam semesta serta kesucian masing-masing diri sehingga tidak dipengaruhi atau diganggu oleh godaan Sang Kala Tiga. (SB*)

Comments

comments