Saraswati, Hari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

140

SULUHBALI.CO, Denpasar — Umat Hindu Dharma merayakan Hari Suci Saraswati, hari lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) pada hari Sabtu, 10 Agustus 2013.

Para pelajar mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah umum (SMU) hingga perguruan tinggi akan merayakan hari suci itu dengan melakukan persembahyangan di sekolahnya masing-masing, tanpa melaksanakan proses belajar mengajar pada hari itu.

Hari lahirnya iptek itu merupakan hari istimewa bagi umat Hindu, khususnya para siswa dan mahasiswa, terlihat dari kesungguhan mereka memperingati hari yang jatuh setiap enam bulan (210 hari) sekali, tutur Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I Ketut Sumadi.

Patung Dewi Saraswati, wanita cantik seperti umumnya dipajangkan di halaman sekolah masing-masing merupakan lambang dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi buruan dari setiap umat manusia.

“Wanita cantik” yang penuh arti simpati dan berwibawa, memiliki empat tangan masing-masing memegang keropak (mendalami ilmu pengetahuan), bunga teratai (lambang kesucian), genitri (belajar seumur hidup) serta alat musik (ilmu pengetahuan itu indah dan berirama).

Ilmu pengetahuan itu diibaratkan air yang terus mengalir tidak terbendung. Jika ada orang setelah belajar menjadi merasa pintar, dan berhenti belajar, padahal masih banyak yang harus dipelajari dan menyerahkan ilmu yang dimiliki kepada Dewi Saraswati agar pemiliknya menjadi penuh wibawa, jauh dari keegoisan dan kesombongan.

Oleh sebab itu pusaka-pusaka suci dan buku-buku yang disucikan diupacarai. Persembahyangan dan berbagai prosesi ritual piodalan “Sanghyang Saraswati” dilaksanakan sebelum matahari condong ke barat.

Hari suci untuk memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa, pencipta serta pemelihara ilmu pengetahuan. Rangkaian janur, bunga kombinasi aneka jenis kue dan buah-buahan dipersembahkan sebagai simbul rasa terima kasih ke hadapanNYA atas semua iptek yang diturunkan kepada umat manusia.

Selama berabad-abad umat Hindu melakukan ritual dengan sikap tulus ikhlas dan keyakinan yang tinggi sebagai wujud rasa bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Umat tanpa perlu pikir panjang atau hirau mempertanyakan, mengapa harus seperti itu yang penting melakukan ritual sesuai petunjuk dan keyakinan, ujar Pembantu Rektor I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Drs I Ketut Murdana, Msi.

Ia yang juga Guru Ashram Vrata Wijaya Denpasar dengan gelar Sri Hasta Dhala itu dibalik keyakinan itu, tentu disisi lain timbul pertanyaan sudahkan memiliki kewenangan dan kuasa atas pengetahuan suci yang dilimpahkan.

Berkaitan dengan hal itu kewaspadaan dan keyakinan patut dibangun secara sinergis agar mampu mewujudkan jiwa yang besar, semangat pengabdian yang kuat, benar dan suci.

Lahirnya sikap kritis dalam diri menjadi salah satu wujud aliran pengetahuan yang telah memasuki kesadaran. Ketika hal itu terjadi, berarti aliran kasih-Nya dalam wujud Dewi Saraswati mengalir melalui pengetahuan yang telah menembus, membangkitkan kesadaran dan kesucian Jiwa.

Terbukanya aliran kesadaran itu patut dipelihara dan dikembangkan agar menemukan inti terdalam dari suatu misteri, itulah kewajiban yang lahir dari aliran pengetahuan.

Oleh sebab itu memuliakan Dewi Saraswati atas berkat, tuntunan serta perlindungan-Nya dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan atau kabut misteri kehidupan sangat penting dilakukan.

Sifat-sifat kepanutan yang telah terjaga dengan baik di masyarakat Bali selama ini, sangat penting dipelihara dan ditunjang dengan pengetahuan yang memadai agar menumbuhkan keyakinan terhadap kewajiban ritual yang berpengetahuan.

Hal ini sangat penting dibangun untuk menghadapi persoalan ritual di masyarakat dan kini sangat berubah dan berkembang menjadi kreasi-kreasi yang membengkak tanpa sumber pengetahuan yang jelas, bahkan mengaburkan inti sejatinya sehingga menjadi beban yang mesti dipikul olah masyarakat, secara terus menerus.

Jual Sawah Ladang

Murdana yang juga seniman andal yang sukses menggelar pameran lukisan di tingkat lokal, nasional dan internasional itu, mengingatkan, dokrin-doktrin yang menakutkan sering dilontarkan, jika ritual tertentu tidak dipenuhi atau dilaksanakan sebagai pembenaran berakibat meresahkan masyarakat.

Akibatnya sawah ladang dan ternak habis dijual untuk biaya upacara, bukan untuk meningkatkan tarap hidup yang berpengetahuan material dan spiritual yang membebaskannya.

“Bukankah Tuhan itu maha kasih, maha pemurah, maha pengampun dan seterusnya yang selalu menuntun dan memberkati umatNya. Cara berpikir, prilaku dan keyakinan kearah sifat dan kemahakuasaan itulah patut selalu diupayakan,” ujar Murdana.

Untuk itu perlu melatih diri dengan pengetahuan dan “sadana suci” yang telah digariskan seorang Maha Guru Suci yang telah memperoleh berkatNya perlu mendapat prioritas seimbang dan dilaksanakan dengan penuh desiplin.

Ketika hal itu disadari dan menjadi kewajiban, maka etika dan moral bajik akan terbagun secara perlahan. Kewajiban seperti itulah merupakan wujud penyelamatan nilai hakiki dari manusia dan berdampak besar terhadap lingkungan alamnya.

Mulai dari cara seperti itulah pembangunan di dunia ini dilakukan. Ketika moralitas manusia bobrok demikian pula pemimpinnya, maka dunia inipun akan rusak. Dalih-dalih pembenaran seolah-olah menyelamatkan alam, sesungguhnya hanya untuk kepentingan politik kantong karet.

Menyimak budaya simbolik, membangun kesadaran berpengetahuan, budaya ritual yang maha besar itu, sesungguhnya memiliki tujuan melatih agar orang-orang belajar berkorban suci dengan tulus ikhlas, namun disisi lain maknanya terbungkus rapi atau sengaja dibungkus agar semakin rapi, isinya tidak diketahui sehingga lahirlah kuasa untuk menguasai.

“Ketika kabut misteri itu dibiarkan menutupi kesadaran, maka keyakinan itu tidak akan pernah tuntas menemukan kesejatiannya,” katanya.

Dengan demikian kegiatan spiritual menjadi hambar tanpa sentuhan rasa halus, yang mampu menghapus kerinduan jiwa. Oleh karena itu membuka lapisan agar menemukan nilai terdalam dengan sopan santun dan kesucian jiwa adalah kewajiban dalam pendakian spiritual, sehingga terhindar dari kebuntuan dogma.

Sebaliknya bagaikan menemukan minyak di dalam kelapa, mulai dari proses mengupas kulit, membelah, memarut, meremes, memasak, memisahkan antara kandungan airnya agar menemukan minyaknya, tambahnya.

Itulah proses yang tidak bisa diabaikan, walaupun budaya ritual ini telah ditinggalkan oleh India ratusan tahun yang lalu, namun Rsi Markandya memulai menancapkan panji-panji kesucian, salah satunya melalui ritual.

Menurut Murdana pertanyaannya apakah ritual semarak seperti sekarang di Bali mesti dilakukan sebagai penentu kewajiban beragama?. Hal itu perlu direnungi bersama, dan mencari jawaban bijaksana, mensejahrakan dan membahagiakan.

Kata kuncinya tiada lain adalah prilaku suci yang lahir dari jiwa-jiwa yang suci ingin menemukan Yang Maha Suci. Ketika kesadaran itu selalu dipupuk agar menyatu dalam setiap langkah, maka interprestasi-interprestasi subyektif yang sering mengacaukan masalah dapat dihindari.

Oleh karena itu mengupas sesuatu yang indah dan suci, patut dilakukan melalui gerak pikiran dan jiwa yang selaras dengan kesucian itu sendiri. Penyelarasan inipun merupakan proses pendakian yang teramat sulit dilakukan.

“Sulit buka berarti tidak bisa dilakukan, tetapi penyerahan diri terhadap proses perubahan ke arah kebaikan, kebenaran, kebajikan, kesucian adalah jalan mulia. Ketika hal itu menjadi kesadaran, itu artinya kita telah menyerahkan diri terhadap salah sifat dan kuasa Shiwa sebagai pelebur,” ujar Ketut Murdana. (SB-ant)

Comments

comments

Comments are closed.