Sang Kala Lahir oleh “Kelalaian”, Tugasnya Menghukum “Kelalaian”

676
ilustrasi

SULUH BALI, Denpasar – Setiap kelalaian yang dilakukan oleh manusia yang berkesan negatif  selalu diidentikan dengan pengaruh kala. Sang Hyang Kala disebut-sebut sebagai penyebab segala macam bencana yang terjadi di dunia.

Sang Hyang Kala diyakini memiliki kekuatan besar dan sangat berpengaruh  bagi kehidupan di dunia, sehingga keberadaannya cendrung dihindari oleh umat manusia.

Mitologi Sang Hyang Kala disebutkan dalam sebuah lontar yang bernama Tattwa Kalla, disana disebutkan kelahiran Sang Hyang Kala berawal dari kelalaian Bhatara Guru (Siwa) dan Bhatari Uma. Saat keduanya sedang melakukan perjalanan di lautan, kain Bhatari Uma terbesikap hembusan angin sehingga memunculkan hasrat Bhatara Guru untuk mencumbunya.

Memuncaknya gejolak hasrat Bhatara Guru tidak tertahan lagi, namun Bhatari Uma menolak ajakannya karena akan bertentangan dengan ketentuan dewata. Karena tidak tertahannya hasrat asmara itu, maka air mani Dewa Siwa jatuh ke lautan dan menyebabkan kelahiran Sang Hyang Kala.

Rupanya begitu bengis dan menyeramkan  berwujud raksasa besar, dan saat kelahirannya masih bingung akan keberadaan orang tuanya. Oleh saran Dewa Brahma dan Dewa Wisnu menujulah Sang Hyang Kala ke kediaman Bhatara Siwa dan Bhatari Uma.

Sebelum bertemu dengan Bhatara Siwa, Bhatara Kala terelebih dahulu harus memotong taringnya, tanpa memotong taring ia tidak diperbolehkan bertemu.

Saat itu juga Bhatara Kala diberikan kewenangan untuk berada di dunia manusia, menyusup di desa-desa. Tugasnya adalah untuk menghukum orang yang lalai, yakni lalai terhadap sesana (kewajiban), lalai ajaran dharma, lalai agama serta lalai kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Ketika terjadi demikian, Sang Hyang Kala bertugas untuk menyebarkan berbagai macam bencana dan marabahaya ke dunia. Menghantui dan mengangu kehidupan manusia di dunia, namun semua itu akan berhenti jika telah diberikan persembahan dan manusia kembali ke jalan dharma (kebenaran).

Selain bencana dan gangguan, Sang Hyang Kala berkaitan erat dengan pelaksanaan sapu leger pada orang yang lahir tumpek wayang. Agar tidak diganggu oleh Sang Hyang Kala dengan karakter-karakternya maka wajib dilakukan peruwatan sapuh leger.

Ini didasarkan atas mitologi Sang Hyang Kumara berhasil disembunyikan oleh Mangku Dalang dari kejaran Sang Hyang Kala untuk dimangsanya. Disanalah Sang Kala lalai dan malah memakan banten milik Mangku Dalang hingga membuatnnya berhenti mengejar Sang Hyang Kumara. (SB*)

 

Follow instagram
Follow Twitter
Like Fanpage Facebook
Subscribe Youtube

Comments

comments