Sabuh Mas, Memuja Dewa Kekayaan Penguasa Sarwa Mas Manik

155
Ilustrasi.

SULUH BALI, Denpasar – Anggara Wage Sinta dikenal oleh masyarakat Hindu Bali dengan rahina Sabuh Mas. Hari suci ini sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap aspek Dewata yang berkuasa atas segala macam benda permata seperti emas, berlian dan segala perhiasan lainnya.

Lontar Sundarigama sendiri menyebutkan, Anggara Wage Sinta sebagai hari Sabuh Mas merupakan pemujaan terhadap Dewa Mahadewa yang  diyakini sebagai dewanya sarwa manik atau segala macam perhiasan.

“ring  rahina Anggara wage, sabuh mas ngaran, pasucen bhatara mahadewa, prakretinya ring raja bharana mas manik, mwang sarwa mule”.

Dalam memuja kekuasaan Dewa Mahadewa sebagai dewa kekayaan juga dalam lontar Sundarigama disebutkan upakara yang dihaturkan di masing-masing sanggah.

“Widhi winanya, suci 1, daksina 1, pras panyeneng, sasayut amretasari, canang lengawangi, buratwangi, tadah pawitra, reresik, genahnya ring pamyasan ring sanggar, ring paturwan wenang”.

Selain itu setiap orang wajib melaksanakan pembersihan diri dan tidak melupakan bahwa sumber dari kebahagian salah satunya adalah dari harta benda. Sesayut dan banten yang dihaturkan kemudian ditunas untuk dinikmati setelah sebelumnya melakukannya diayab.

“ikang wwang wenang asuci laksana, haywa lupa ring kasukan sarwa mule mas manik ing sarira, ya ta juga pinahayunya, ri wus ikang sasayut inatarukni bhatara, surudanya wenang inayab”. (SB-Skb)

SULUH BALI, Denpasar – Anggara Wage Sinta dikenal oleh masyarakat Hindu Bali dengan rahina Sabuh Mas. Hari suci ini sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap aspek Dewata yang berkuasa atas segala macam benda permata seperti emas, berlian dan segala perhiasan lainnya.

Lontar Sundarigama sendiri menyebutkan, Anggara Wage Sinta sebagai hari Sabuh Mas merupakan pemujaan terhadap Dewa Mahadewa yang  diyakini sebagai dewanya sarwa manik atau segala macam perhiasan.

“ring  rahina Anggara wage, sabuh mas ngaran, pasucen bhatara mahadewa, prakretinya ring raja bharana mas manik, mwang sarwa mule”.

Dalam memuja kekuasaan Dewa Mahadewa sebagai dewa kekayaan juga dalam lontar Sundarigama disebutkan upakara yang dihaturkan di masing-masing sanggah.

“Widhi winanya, suci 1, daksina 1, pras panyeneng, sasayut amretasari, canang lengawangi, buratwangi, tadah pawitra, reresik, genahnya ring pamyasan ring sanggar, ring paturwan wenang”.

Selain itu setiap orang wajib melaksanakan pembersihan diri dan tidak melupakan bahwa sumber dari kebahagian salah satunya adalah dari harta benda. Sesayut dan banten yang dihaturkan kemudian ditunas untuk dinikmati setelah sebelumnya melakukannya diayab.

“ikang wwang wenang asuci laksana, haywa lupa ring kasukan sarwa mule mas manik ing sarira, ya ta juga pinahayunya, ri wus ikang sasayut inatarukni bhatara, surudanya wenang inayab”. (SB-Skb)

Comments

comments