Anak-anak Sekolah yang Berkunjung di Memorial Jenderal H M Soeharto di Dusun Kemusuk. |foto-raka|

 

SULUH BALI, Yogyakarta – Wong Iku Kudu Ngudi Kabecikan, Jalaran Kabecikan Iku Sanguning Urip (Orang itu harus mencari kebaikan, sebab kebaikan itu bekal hidup). Nglurug Tanpa Bala (Menyerang tanpa pasukan), Sugih Ora Nyimpen (Kaya tanpa menyimpan harta), Sekti Tanpa Maguru (Sakti tanpa berguru), Menang Tanpa Ngasorake (Unggul tanpa mengalahkan). Demikian beberapa kalimat yang ditulis dibawah foto Soeharto, yang dipasang di tembok bangunan Memorial Jenderal H.M. Soeharto.

Rumah kelahiran Presiden ke-2 RI Jenderal Besar H.M. Soeharto di Dusun Kemusuk, Kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul – Yogyakarta, kini menjadi obyek wisata. Di lokasi tersebut kini berdiri “Memorial Jenderal H.M. Soeharto” yang menyimpan catatan, data maupun dokumen-dokumen presiden yang semasa kecilnya sebagai pengembala kerbau di Dusun Kemusuk ini. Foto-foto, teks pidato, buku-buku, document penting, disimpan dengan rapi dan ditata dari sejak Soeharto kecil, awal karier militernya, sebagai presiden, hingga mengundurkan diri sebagai presiden.

Begitu memasuki areal bangunan, di halaman depan berdiri sebuah patung Soeharto dalam ukuran besar. Kemudian di sebelah kirinya dibuat sebuah bangunan yang memajang catatan, surat-surat, foto dan dokumen penting tentang Soeharto. Sebelum memasuki ruangan, sudah terpampang foto-foto keluarga Soeharto. Di dalam ruangan bangunan inilah bisa disaksikan catatan, dokumen, foto, surat-surat, teks pidato beserta rekaman suara, hingga pidato saat pengunduran dirinya sebagai presiden. Di sebuah bangunan yang disebut petilasan, di pojok kanan areal itulah Soeharto dilahirkan. Distu juga ada sebuah sumur yang kini usianya sudah 130 tahun.

Menurut H. Gatot Nugroho, yang sehari-hari bertugas selaku wakil kepala disana, memorial Jenderal H.M. Soeharto yang dibangun diatas lahan 3620 meter ini, pembangunannya dimulai sejak 2 tahun yang lalu. H. Probosotedjo, adik kandung H.M. Soeharto, sebagai pemrakarsa, pendiri dan penyandang dananya. Menurutnya, memorial tersebut dibangun sebagai upaya untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang sejarah bangsa. Bahwa disana pernah lahir salah seorang pemimpin bangsa. Diharapkan bisa berguna bagi generasi penerus bangsa, sebagai sumber pengetahuan dan juga teladan.

Ketika seluhbali berkunjung ke tempat ini, Rabu (9 September 2015), beberapa pekerja masih sibuk merampungkan sebuah bangunan pendopo besar yang dibangun tepat ditengah-tengah. Meski begitu, nampak rombongan anak-anak sekolah terus berdatangan kesana. Disisi barat, berdiri sebuah bangunan yang ditempat rak-rak buku lengkap dengan kursi dan meja kayu tempat membaca bagi pengunjung. Nampak puluhan anak sekolah asik membaca-baca buku maupun majalah dengan latar deretan foto presiden ke-2 RI yang mengenakan busana Jawa. Di dalam foto-foto itulah dibawahnya tertulis pesan-pesan dan pandangan hidup Soeharto dalam kalimat bahasa Jawa.

“Tidap hari selalu ramai yang datang berkunjung kesini. Kami catat pada tahun 2013 yang lalu sebanyak 270 ribu orang pengunjung yang datang kesini. Dan tidak dipungut biaya,” ungkap H. Gatot Nugroho . Seraya mengungkapkan kalau keluarga Soeharto biasanya datang kesana setiap sebelum bulan Ramadhan. “Pak Probosotedjo, Mbak Tutut dan Mas Bambang dan keluarga biasanya datang kesini sebelum bulan Ramadhan,” katanya. (SB-Raka)

Comments

comments