RS Mata Bali Mandara akan Beroperasi Sementara Menggunakan Tenda Darurat

796
Gubernur Mangku Pastika di lokasi baru RS Mata Bali Mandara (foto humas.Bali)

SULUH BALI, Denpasar – Belum keluarnya izin perluasan Rumah Sakit Indera dari Pemerintah Kota Denpasar membuat Pastika kehabisan akal. Namun, dirinya tidak ingin melanggar aturan yang telah dibuat oleh Pemerintah Kota Denpasar.

Salah satu solusi, jika belum juga dikeluarkannya izin pembangunan perluasan Rumah Sakit Indera, maka proyek perluasan terpaksa akan dihentikan dan pihaknya akan membuat ruang operasi darurat menggunakan tenda dengan ukuran sekitar 15 x 5 meter.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika meminta kepada Dinas Kesehatan agar mulai minggu depan untuk segera mengoperasikan kembali rumah sakit indera sehingga masyarakat yang ingin berobat bisa terlayani.

Pasalnya, saat ini antrian masyarakat untuk berobat semakin tinggi, meskipun dalam setahunnya rumah sakit tersebut hanya menangani 3 ribu pasien sementara jumlah pasien yang berobat sekitar 50 ribu.

“Sekarang ini kita hanya bisa mengoperasi sekitar tiga ribu pasien dalam setahun sedangkan tercatat ada sekitar 56 ribu. Ya, kalau itu jumlah tidak bertambah terus. Jadi kalau terus bertambah, berapa tahun kita baru bisa selesai? Kasihan masyarakat yang ingin berobat,” ungkap Pastika, Sabtu (09/01/2015).

Pastika menyebutkan, meskipun saat kondisinya Rumah Sakit Mata Bali Mandara kurang memadai yang terpenting adalah tetap melayani masyarakat yang ingin berobat bukan malah berhenti. Meskipun dalam kondisi keterbatasan saat ini dan ditambah 2 ruang operasi dengan kondisi yang sederhana, hanya menggunakan tenda darurat bencana alam yang terpenting adalah masyarakat yang berobat bisa terlayani.

“Kalau ditanya soal kurang sebenarnya semuanya kurang. Apa sih yang tidak kurang? Semuanya kurang, tetapi kita harus siap bukannya berhenti. Jadi niat kita buat nolongin orang itu tidak boleh berhenti. Apapun rintangannya kita harus mencari jalan keluar. kalau bisa setiap hari dan ditambah lagi ruang operasi sederhana sekitar dua atau empat. Ya, bisa lebih cepat. Nanti kita akan pindah tenda ini ke tempat yang lebih teduh dan akan kita buatkan lantai sementara biar rata. Kalau tidak rata bagaimana orang mau melakukan operasi. Kalau sekarang (taman Dinas Kesehatan Provinsi Bali) kan panas, nanti kita pindahkan ke belakang selain tempatnya lebih teduh, dokter yang melayani pasien juga lebih dekat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. Ketut Suarjaya mengaku siap menjalani intruksi, Gubernur Bali yang meminta mulai minggu depan Rumah Sakit Indera harus kembali beroperasi.

“Kita siap kalau minggu depan diminta untuk kembali melayani pasien. Kebetulan kita punya tenda darurat yang bisa digunakan sebagai rumah sakit lapangan. Satu tenda tersebut bisa dimanfaatkan untuk dua sampai tiga peralatan meja operasi darurat. Dan dua unit genset dengan kapasitas dua puluh ribu watt dan akan kita tambah dengan AC standing kita siap melaksanakan sesuai dengan arahan Gubernur,” ungkapnya.

Suarjaya menambahkan, selain menggunakan dua tenda darurat sebagai ruang operasi, Dinas Kesehatan juga memiliki 2 unit mobil yang siap melayani pasien yang ingin menjalani operasi katarak.

“Kalau tenda itu idealnya hanya dua meja operasi kita ada dua unit tenda sehingga totalnya ada empat meja operasi darurat dan kita juga ada dua unit mobil yang bisa digunakan untuk menjalani operasi katarak sehingga totalnya ada enam. Kami optimis bisa melayani masyarakat dan bisa mengurangi jumlah antrian pasien yang ada,” bebernya.(SB-Ijo)

Comments

comments