Ritual Pemujaan “Kesaktian” Walunateng Dirah

528

SULUH BALI, DenpasarWalunateng Dirah atau dikenal dengan nama Ni Calonarang merupakan seorang janda yang memiliki kesaktian pengiwa (ilmu kiri). Kesaktiannya bahkan mampu mengetarkan dunia sehingga sering dijuluki sebagai reratuning pengiwa-iwa (ratunya ilmu hitam).

Lontar Calonarang menyebutkan kekuatan sakti Calonarang di dapatkan melalui proses persembahan dan pemujaan kepada Sang Hyang Bhairawi. Kekuatan Hyang Bhairawi sendiri sesuai dengan lontar Andha Bhuana merupakan perwujudan Dewi Uma yang dikutuk kedunia menjadi Dewi Durga sebagai penguasa kuburan.

Walunateng Dirah melakukan pemujaan di kuburan dengan menggunakan berbagai macam persembahan yang berhubungan dengan kuburan seperti mayat sebagai proses penyuciannya. Ia didampingi oleh murid-muridnya dalam melaksankaan ritual persembahan.

Diantara muridnya yaitu Rarung, Wreksirsa, Gandi, Lenda, Lendi, Guyang, Mahesawadana. Mereka dikisahkan dalam cerita Calonarang melakukan persembahan dengan keikhlasan dan keteguhan kepada Dewi Durga sehingga dapat anugerah kekuatan yang setara dengan kekuatan Durga.

Dilakukan ritual dengan mandi darah, mengalungkan organ tubuh manusia sebagai proses penyucian diri permohonan kekuatan kepada Dewi Durga. Semua itu digunakan sebagai raja bhusana (pakian kebesaran) Ni Calonarang.

Permohonan Calonarang kepada Dewi Durga dalam memohon kekuatan serta memohon agar terjadi bencana di Kediri tepatnya di wilayak Kerajaan Kediri. Hal ini sesuai dengan tugas Dewi Durga yang dalam lontar Andha Bhuwana untuk menciptakan berbagai macam bencana dan penyakit.

Ni Calonarang diberikan anugrah kesaktian oleh Dewi Durga untuk menebar mara bahaya dan menjadi reratuning pengiwa. Namun demikian, meskipun ia memiliki kekuatan dan menebar bencana Ni Calonarang juga memberikan pelajaran hidup bagi manusia yang menyimpang dari ajaran dharma. (SB-Skb)

Comments

comments

1 COMMENT

Comments are closed.